6/30/2011

Tentang Sepuluh Tahun

Dibagikan oleh Dhieta at 2:55 pm
Mungkin sudah agak terlambat untuk bercerita tentang betapa spesialnya tanggal 4 Mei tahun ini. I know it's June already. Tapi better late than never, lagipula this is too special to be ignored.

Jadi, 4 Mei tahun ini adalah tepat sepuluh tahun Kristus tinggal di hatiku. 4 Mei sepuluh tahun yang lalu adalah saat aku berdiri meresponi panggilanNya, mengakui aku berdosa, mengakui aku butuh Kristus dan karya penyelamatanNya di kayu salib. Di 4 Mei itu aku mengundangNya masuk ke dalam hatiku: menjadi Tuhan dan Juru Selamatku.

Ternyata, sudah 10 tahun aku jadi anak-Nya, memanggilnya "Abba, Bapa" Lalu pertanyaannya, selama 10 tahun itu, apakah aku sudah jadi anak yang baik? apakah aku anak yang bisa Ia banggakan? Yang taat dan setia? Yang menghasilkan buah, dan buahku itu tetap? Yang sudah menjadi saksi buat dunia?


*deepsigh*

Kenyataannya aku masih jatuh bangun dengan disiplin rohani. Kenyataannya aku masih jatuh bangun dengan dosa. Kenyataannya aku masih jatuh bangun dengan karakter. Kenyataannya aku masih suka memberontak. Kenyataannya aku masih sering melanggar komitmenku sendiri. Kenyataannya orang-orang di sekitarku tidak melihat Kristus di dalamku.

Kalau begitu, apa yang bisa kuceritakan tentang sepuluh tahun ini?

Hanya ada satu hal: Bapa. Bapa yang tetap sama, di tahun pertama, di tahun kedua, hingga tahun kesepuluh. Bahkan kupercaya, Dia tetap sama hingga nanti kami bertemu muka dengan muka, di surga.

Dia Allah yang sabar menanganiku. Dia Allah yang tidak pernah menyerah dengan responku. Bukan sekali dua kali aku tidak peduli dengan hatiNya. Bukan sekali dua kali aku adu argumen denganNya. Bukan sekali dua kali aku menyalahkan Dia. Bukan sekali dua kali, aku meragukan caraNya Tak terhitung banyaknya aku melukai hatiNya.

Tapi Dia Allah yang sabar menanganiku. Dia Allah yang tidak menyerah dengan responku. Dia baik. Dia setia.

Aku masih ingat perkataanNya, ketika aku merasa tidak lagi layak jadi anakNya, karena Dia terlalu baik, dan aku, apa yang baik dariku? Tapi dengan lembut dia berkata, “Aku mengasihiMu dengan kasih yang kekal. Kamu selalu ada di dalam hatiku.”

Sepuluh tahun ini, Allah punya banyak alasan untuk tidak lagi menganggapku anak. But, true love - stays. He loves me, that’s why He stays.

This what this ten years is all about, His true love for me.


Jakarta, Juni 2011

2 comments:

Nonik said...

Kasih Bapa memang luar biasa ya Mbak :') speechless dah kalo bicara soal ini hehehe.

Dhieta said...

Iya, KasihNya luar biasa. Btw, ini post favoritku loh, hehehe

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review