5/21/2012

A Complicated Life of a Woman Diplomat :p

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 5:45 pm
Jarang-jarang ya aku bikin tulisan yang agak deep soal kehidupan diplomat. Kalo ga dipesen sama Ester, mungkin ngga bakal aku nulis. I dont think it's interesting enough to be told :p Tapi kemarin waktu chatting di ym aku dan Ester ngobrol soal profesi diplomat dan aku bilang kalo jadi diplomat itu so complicated, hehe. Akhirnya dia minta aku nulis soal sisi lain profesi diplomat, sisi-sisi yang tidak seindah dibayangkan orang. Keywordnya, anything but things like wine, suits, and travelling. So, I think about being a woman diplomat. Percaya atau tidak, menjadi diplomat wanita itu super! Super keren *narsis* tapi juga super galau :p 

Tulisan ini sebenarnya adalah ketakutan terbesarku sejak jadi diplomat. However, penting untuk digarisbawahi kalau tulisan ini ngga berarti aku ngga suka jadi diplomat. I'm so proud with my achievement and I enjoy every single second being a diplomat, tapi bagaimanapun ada hal-hal tertentu yang aku tidak bisa terima. Sometimes I think it's related with fundamental principal so it can be my turning point whether I continue this job or not :)

Kemarin iseng-iseng obrak-abrik blog Ester dan nemu postingan soal a normal life. Normal life disini maksudnya, having a job, married with a nice guy and stay somewhere, take care of your family and raising your children. Jadi mikir, maybe a woman diplomat won't ever have a normal life. Atau lebih tepatnya begini, when a woman diplomat gets married, her normal life stops :p Jadi kesimpulannya, kalau orang lain memulai kehidupan normalnya setelah menikah, seorang woman diplomat justru punya kehidupan normal saat dia masih single.

Why oh why? 

Nature seorang diplomat adalah hidup berpindah-pindah. Siklusnya 3-4 tahun di dalam negeri dan 3-4 tahun di luar negeri. So, if you want to marry a diplomat, you have to comply with this situation. Maybe para cewek akan bilang, "Ih, enak dooong, bisa ikut suami keliling dunia." Yes, it's fascinating for girls, jadi istri diplomat adalah kesempatan keliling dunia #that's why ada temenku bilang laki-laki jadi diplomat itu nilai naik pasaran juga naik. Tapi please, lihat dari sudut pandang cowok karena situasinya bisa sangat berbeda. 

Think about it, kalau seorang pria mengikuti istrinya bertugas ke luar negeri, itu berarti dia harus meninggalkan karirnya. Dilemanya adalah karir yang mungkin sudah mereka bangun selama bertahun-tahun, harus ditinggalkan begitu saja. Ok, kamu bisa bilang, "Ya udah kerja aja di luar negeri." Masuk akal, tapi tidak visible, karena di negara akreditasi (negara tempat diplomat ditempatkan), pasangan para diplomat tidak boleh memiliki pekerjaan komersil. Bayangkan, para suami-suami diplomat, yang sudah dengan rela hati meninggalkan karirnya demi istrinya, lalu hidup di negeri asing, masih 'dipaksa' menjadi pekerja sosial atau bapak rumah tangga di luar negeri. Dan nature berpindah-pindah itu sepertinya tidak memungkinkan mereka membagun karir seperti yang seharusnya. Kembali ke Indonesia mereka harus mencari pekerjaan lagi, mulai dari awal lagi, saat sudah mulai settle, pekerjaan itu harus ditinggalkan lagi untuk mengikuti istrinya. It's too complicated for a man.

Untuk istri diplomat hal ini mudah, mereka akan langsung tergabung dalam Dharma Wanita. Mereka biasanya akan membantu KBRI dalam soal menyiapkan hidangan saat resepsi, atau mengadakan acara lain seperti arisan, charity, kunjungan dan lain-lain. Masalahnya, tidak ada perkumpulan dharma pria untuk para suami diplomat. Kalaupun ada apa kegiatannya? Membantu KBRI menjemput tamu? Atau membantu KBRI menset ruangan untuk resepsi? No. Biasanya para suami yang mengikuti istrinya akan mengambil kuliah sebagai jalan keluar. Beberapa mengajukan cuti dari kantornya dan mengambil kuliah di negara tempat istrinya bertugas. Langkah ini cukup masuk akal untuk penempatan pertama, tapi bagaimana dengan penempatan kedua, ketiga, atau keempat? Berapa kali mereka harus kuliah dengan mobilitas seperti itu?

This point creates a question for me, "Apa jadinya kalau suamiku tidak punya karir?" Jawabannya jelas, dia tidak akan bisa memenuhi destinynya sebagai pria, yaitu sebagai provider. Stephany dan Mega pernah bahas ini di blognya. Juga di blog ini, yang membahas tentang Three Marks of a Godly Man, sebagai seorang Priest, Provider dan Protector.
 
Provider  ~ John Mark prefers to call them "workers" because God is our provider. Man's job is to work, which is a gift from God. Their job is to provide a roof over their family's head,  food, and clothing, not a Range Rover or a monthly card to Nordstrom.

They need to decide what kind of a life they want to provide for their family and work towards that. John Mark wanted his wife to be a stay at home wife, even if that meant living in the ghetto eating rice and beans. He didn't want to put his children in daycare. He wanted to own a home and enough money for his children to get braces and play sports.  He told women that their husbands may be poor when they marry them (unless they marry a 40 year old), but just make sure they are willing to work hard.

But if any provide not for his own, and specially for those of his own house, he hath denied the faith, and is worse than an infidel.  I Timothy 5:8
Setelah itu aku baca artikel-artikel lain dan  menemukan hal yang kurang lebih sama, salah satunya disini.

God gave the garden to Adam and the job "to dress it and to keep it."(Gen. 2:15) Adam was to work the ground, and care for, watch over and guard the garden. Adam's work assignment was given before Eve came on the scene. Man had a God-given mission to work and produce something of value; something he could be proud of. Although there have always been everyday tasks and responsibilities in the home, often under the supervision of the woman, man's primary duty has been to provide for his family and household. All through the Bible, and all throughout history, the innumerable efforts of mankind have usually been the source of his income. All work is considered honorable, as long as it is legal, and does not harm or exploit other people.

It is of great importance to a man to know that his earning capability will keep his family out of the grip of poverty. Certainly he wants the satisfaction of a job well done, or a product made with excellence. But even if a job is not enjoyable or fulfilling, there is a certain sense of peace he receives from knowing that there is food in the cupboards and that the bills are being paid. He willingly accepts the honorable duty of his family's financial needs and physical comfort.

Men should not resent getting up and going to work. It is a blessing to be thankful for, whatever the job may be. This doesn't mean that the wife cannot work and contribute financially. However, the man must be the initiator and general manager. The overall administration of the household matters should be his responsibility, and if the wife works outside of the home, it is best if it is by mutual agreement, with all other household duties shared.

Scripture proves that God is the true provider and that men are to rely on the promises and example of the Heavenly Father when it comes to caring for his family. Genesis 22:14 shows that God is the giver: "God is the Lord who sees and provides." According to 2 Corinthians 9:8, He "will generously provide all you need," and Philippians 4:19 says that God "will supply all your needs from his glorious riches." Finally, 1 Timothy 6:17 says reminds Christians that God wants to bless as He "richly provides us with everything for our enjoyment."
For me personally, I dont want my future husband lose his calling as a provider, just for the sake of my career. Why? Karena itu seperti menghalanginya memiliki keserupaan dengan Bapa yang adalah seorang Provider.

Waktu aku memutuskan masuk Kemlu, terus terang aku sama sekali tidak tahu soal hal ini dan kaget banget waktu di pendidikan dijelasin hal ini. Sempat sih bergumul juga tentang hal ini. Waktu itu yang terngiang di hatiku cuma ini, "I want to be married and I want to be a helper on my marriage." Sebisa mungkin akulah yang menolong suamiku dengan karirnya, bukan suamiku yang menolongku dengan karirku.

Aku bukannya mau bilang, cewek ngga boleh punya karir. You may have and pursue your career until the highest level. But once you are married, I dont think that career is your priority. It must be God, your husband and your family first. Untuk wanita, karir (pekerjaan) adalah pilihan, tapi untuk pria itu adalah keharusan.
One of my biggest dream is that I can be a godly woman, kaya yang di Proverbs 31. Waktu aku renung-renungin perikop ini,  ada satu ayat yang rasanya ngaruh banget. 
Amsal 31: 23
(TB) Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri
(FAYH) Suaminya adalah orang yang terkenal, yang menjadi anggota dewan penasihat dan duduk dengan pejabat-pejabat pemerintah lainnya.

Ngebaca ayat ini rasanya jadi terusik. Well, I think, pada akhirnya keberhasilan seorang istri salah satunya ditandai oleh image suaminya di mata orang banyak. Kesuksesan suami dalam karirnya adalah kesuksesan istri. Tapi kesuksesan istri dalam karirnya belum tentu bisa diartikan sebagai kesuksesan suami. Apalagi kalau harga dari kesuksesan itu adalah karakter godly man dari suami tidak bisa terbentuk.

Aku tidak ingin, di pintu-pintu gerbang nanti, suamiku terkenal karena prestasiku saja dan bukan karena prestasinya sendiri. Aku tidak ingin, in public places, aku lebih terkenal dari suamiku dan dia tenggelam dalam popularitasku. Aku lebih tidak ingin lagi, bahwa hanya demi karirku, suamiku nanti harus menghadapi tudingan masyarakat bahwa dia pengangguran yang bergantung pada istrinya. Aku tidak ingin suamiku nanti harus mendampingiku di resepsi-resepsi kenegaraan dengan kepala tertunduk karena dia tidak punya karir yang bisa ia banggakan, padahal dia harus menghadapi pria-pria diplomat dengan setelan dan dasi yang super keren :p

Emang sih, pendamping diplomat ngga harus ikut pasangannya penempatan. Tapi  resikonya selanjutnya adalah hidup terpisah selama beberapa saat. Suami tetap melanjutkan karirnya di Indonesia dan istrinya bertugas di negara lain. Another way out, but another price to pay. For me personally, ini bukan pilihan yang baik. Kalau Jakarta-Singapura masih bisa diperjuangkan dengan pertemuan sebulan sekali. Tapi bagaimana dengan Jakarta - Paris, atau Jakarta - LA atau Jakarta - Port Moresby? How we can affford kalau harga tiketnya aja bisa jutaan? 

Tapi harga tiket itu masih belum apa-apa. I'm thinking about the children, if any. Mau ikut siapa dia? Ikut Ibu biasanya. Tapi bukankah kehadiran seorang ayah secara fisik itu juga penting bagi pertumbuhan anak? I want my husband jadi pria pertama dalam hidup anak-anakku nanti yang akan mengajarkan mereka tentang Allah. Aku memimpikan anak-anakku nanti bisa melihat kepemimpinan ayahnya secara riil. Bagaimana ayahnya memimpin keluarganya dalam pengenalan akan Allah, bagaimana ayahnya mengasihi ibunya dengan kasih Kristus, bagaimana ayahnya berjuang setiap hari dalam pekerjaannya demi keluarga ini. You know, sosok bapa duniawi akan banyak membentuk image kita mengenai bapa surgawi. And I think it's better kalo we can be together as a family.

By the way, this is my opinion personally ya. Di blog Ci Shinta yang ini ada ngebahas soal separate family, tapi dari sudut pandang istri yang have no choice buat ikut suaminya di tempat suaminya bekerja. Misalnya suaminya tentara, atau dokter terbang, atau anthropogist. Intinya adalah setiap orang dan setiap pasangan punya pilihan. For me personally, I have the choice, I'd rather quit than having my husband jobless for the sake of my career. I'd rather quit than seeing my husband fight with the judgement of the people. 

Emang sih, aku bisa saja cari suami yang pekerjaannya ngga tergantung tempat. Penulis, seniman, pialang saham... Tapi aku ngga mau kriteria pekerjaan ini jadi yang utama, kalau nanti aku ketemu pria yang cinta Tuhan lebih dari apapun, pria  dengan hati yang mau belajar dan mau diajar, pria yang pantas menjadi ayah dari anak-anakku, walaupun pekerjaannya tidak memungkinkan untuk berpindah-pindah, I will choose to quit my job and stay for a godly man like him. Aku rasa melepaskan gelar diplomat bukanlah harga yang terlalu mahal untuk seorang godly man. I do believe he will treat me and my children well.

:)

Maybe you are questioning why I can be so sure that I wanna leave this job. Sebenarnya bukan hanya karena aku ingin memprioritaskan keluarga, tapi juga karena this is not my true vision. Dulu banget waktu aku lulus kuliah, aku sama sekali tidak tahu aku mau kerja apa. Yang ada di otak ku cuma pelayanan, pelayanan, pelayanan.  Waktu ibadah pelepasan alumni, kami diberi kertas visi, dan yang kutulis adalah ini: serving God in media ministry, esp.  become a christian writer or write something with Christian values. Hahaha, but you know, aku mau jadi berkat dalam keluarga. I want to make my mom and dad proud of me and bless them financially. Lagipula aku mau keliling dunia, jadi ya masuk Kemlu adalah pilihan yang baik pada saat itu.

Waktu aku putuskan kalo someday I will leave Kemlu, memang beban yang paling berat adalah Bapak dan Ibu. Tapi, I'm so proud of them. Waktu aku kasih tahu pilihanku ini mereka cuma bilang gini, "Ya sudah, kalo memang menurutmu itu yang terbaik. Yang penting, sekarang, selama kamu masih jadi diplomat, lakukan yang terbaik dan nikmatilah apa yang bisa kamu nikmati." I'm so glad that my parents gave me freedom, as usual, to choose my own path.  :)

Jadi begitulah, sedikit sisi complicated menjadi diplomat perempuan. Fyi, banyak yang mengambil pilihan yang sama denganku. Pihak Kemlu sendiri tahu kalau menjadi woman diplomat bukan hal mudah. Di pendidikan kami dulu, malah ada sesi khusus untuk membahas mengenai dilema ini : when a woman diplomat has to choose between his career and family. Banyak yang bisa survive, salah satunya atasanku dulu. Tapi dia sendiri mengakui bahwa ada harga yang harus dibayar oleh dia dan suaminya. Banyak konflik yang harus dihadapi terutama menyangkut pride dan ego pria yang harus mendampingi  dan bergantung pada istrinya. Ada pula para diplomat wanita yang tetap hidup selibat karena mereka mencintai pekerjaannya dan mereka tahu kalau mereka menikah, ada yang harus mereka korbankan. Pada akhirnya mereka memilih panggilan mereka sebagai seorang diplomat. It's just fine. Bagaimanapun pernikahan bukanlah tujuan hidup. Kalau memang pilihan untuk tidak menikah membuat mereka menggenapi visi yang ditaruh Allah dalam hidup mereka, that's the best for them.

But for me personally, I want to be married and bless the world with my family.



God bless,

24 comments:

Lasma Frida said...

Hehehheh... Enjoy ajalah ya. Esok ada kesusahannya sendiri. Mumpung belum ada yang iket pake cincin, nikmatin dulu jadi Diplomatnya.

Tau-tau Tuhan buat cerita yang diluar pikiran kita. Yang bikin bengong dan mulut menganga.

So nikmati dulu sepuasnya... :p

KeZia Margaret said...

KAk Dhieta. emang di Kemlu ada kontrak-nya?? mksd-nya kalo keluar itu ada harus bayar denda atau gmana??hoho.. tenang kak, mana tauu Tuhan kirim diplomat jg yg takut akan Tuhan. jgn trlalu kuatir akan hari esok yang belum datang kak. enjoy this time =) smangaaad Kak. *huugs*

Dhieta said...

@Lasma : Wkwkwkw, betul, mumpung belum ada cincin ya enjoy aja :p Kesusahan sehari biar untuk sehari yaa, hehehe.

@Kezia : Ada sih Kez, ikatan dinas gitu, lima tahun. Kalo keluar sebelum itu ya harus bayar wkwkwk. Aku tenang kok, Kez, cos even dari sekarang punn aku tahu aku harus pilih yg mana kalo dihadapkan pada pilihan itu :D Tapi dapet suami diplomat itu lebih ribet lagi euy, tetep bakalan pisah sementara juga. Trus kalo keluar harus jdi dharma wanita, aaahhh, aku tidak mau jadi dharma wanita hahahaha... *hugs back*

Anita Bong said...

Dalem banget postingan ini, Dhieta udah banyak mikir kedepan :D it's good, dan bersyukur Dhieta tetap mengutamakan panggilan surgawi sampe mikir keadaan calon suami kelak :D keren banget!

Tenang aja, Tuhan udah ada di masa depannya Dhieta dan Dia sudah mempersiapkan yang terbaik buat Dhieta XD biasanya sih jalan keluarNya selalu diluar apa yg kita pikirkan hahahah~ aku jadi penasaran Tuhan ngerencanain apa di hidupnya mbak Dhieta :D tetap semangat yaaa~ nikmati aja jalan2nya *loh? XD hahaha~*

PS: Jadi IRT sambil ajdi penulis keren juga XD hahahah~ COOL!

uly said...

wah dit, ternyata masih ada dilema.
bagus dit, dari awal sudah dipikirin, dan kalaupun gak sesuai rencanamu, Tuhan pasti lg siapin yg the bestnya :)

ester11zone said...

ahaaa...ternyata dibuat juga postingannya :)
nice dhiet...lebih dari ekspektasi ku...
Bener2 complicated ternyata jadi woman diplomat...rasa2nya careerku as engineer ga membutuhkan pengorbanan dan complicated kyk seorang diplomat..
Dibalik sesuatu yang enak diliat, travelling, elit class community, ternyata ada banyak sisi dari seorang woman diplomat..
Semangattttt.......
Someday ketika dikasih pilihan antara family dan karir..udah ga usah bingung2 lagi harus milih yang mana :)
Great posting, dan sangat diberkati *ini kok aku jadi merinding ya :D*

Echa said...

iya gw tau ini lu ud prnah crita wktu diBdg, saat kita brtiga bercengkrama dibawah pohon rindang itu..wekekek dikopi2 itu laaa
sabar ya sapatw ntar pas ud mau merit ad kbijakan baru
bole ad diplomat jenis stay tapi pergi2, basenya di Indo tapi tgs dia pergi2 bbrapa bln sekali gt..bisa kaga ya...jadi yah ttp diIndo, ttp jadi diplomat, ttp bs merit dgn suami yg bs bngun karir heuheuheu

cumangad enjoy aja yg hari in, g smua org bs jdi diplomat pdhal bnyak yg pngen ;p
Hari depan indah Kau beri, rncanganMu yg trbaik bagikuuuu *nyanyi*

Dhieta said...

@Anita : wkwkwk, aku juga penasaran sama rencana Tuhaaannn... aku ini mau diapain yaaa? Hahaha, yang terbaik pastinya lah ya. God's story never ending with ashes kata Mak Elizabeth Elliot :D Jadi betul yang kamu bilang, tenang ajaaa....

Iya ya, jadinya bukan cuma stay at home mom, tapi juga working at home mom... heheheh

Dhieta said...

@Uly : Aaaahhh, I love your comment, inaaannngg.... "kalaupun gak sesuai rencanamu, Tuhan pasti lg siapin yg the bestnya :)" Aku inget2 pastinya kalimat ini :B

Dhieta said...

@Ester : thanks loh ter buat 'ide'nya hehehe. Bisa terus terang soal my deepest fear as a diplomat gini agak relieving juga. Cuman yaa, kalo ada cow yg baca smoga mereka ga jadi kabur hahahaha.

Akhir2 ini aku kadang iri sama cewek2 yg hidupnya sederhana, hidup d kota kecil, jadi pns pemkot/pemkab/pemprov. Abis itu nikah, punya anak... seems so simple. Tapi ingetin diri sendiri, bersyukur, bersyukur, harus bersyukur...

So glad that you feel blessed
:)

Dhieta said...

@Echita : Aaaahhh, kayany gw perlu doain lu jadi menlu nih, trus bikin kebijakan kaya yang elu bilang itu hahahaha. Iya nih, gw jadi kangen saat2 di bawah pohon rindang dan minum kopi. Ayo lah cha, gantian lu maen ke jakartaaaa.... biar bisa nyanyiin lagu itu live buat gw wkwkwkwk

Welly Lokollo said...

Aaaaa, baca tulisanmu perasaanku jadi campur aduk dhiet..Luar biasa deh

Aku setuju banged sama pemikiranmu..Apapun yang terjadi dimasa mendatang kita ga pernah tau, tapi kita mau belajar melakukan kehendak Tuhan..Kamu udah berpikir panjang lebar dan dalam tentang masa depanmu dhiet :)

Tulisanmu memberkati banged

Dhieta said...

@welly : belajar melakukan kehendak Tuhan, apapun hargaNya, begitu ya wel? Kamu juga bikin perasaanku campur aduk by moving to a strange land for him :p You're really a brave woman...

Sering2 update ya nanti di Papua, walopun internet susah...

pray for you.

Nonik said...

C'est super!!

sampe bingung mau ngomong apa hehe. yg jelas very eye opening :D Well, kalo dari sudut pandangku... seems like I'd love to do that job. Mungkin karena belum di tahap mikir married n berumah tangga kali ya :p

tapi apapun jalanku nanti... biar Tuhan yg bimbinglah. akhir2 ini lagi dibentuk dlm banyak hal. Soal love's life, job, future, S2, karakter...

Lia said...

ooh dhietaaaaa... God bless your heart! i love to read this! every single 'sacrifice' that u make for the sake of fulfilling ur calling as a woman with supportive role will bring you to the land of cannaan, tanah perjanjian full of blessings dari Tuhan!!! oh praise the Lord for a single woman like you! :) :) :) :) :) :)

Dhieta said...

@Nonik : merci beaucoup^^ Bisa dimaklumi kalo belum mikir, nik... You're still young :D Bersyukurlah buat masa pembentukan itu, sesakit apapun, itu menyiapkanmu untuk masa depan yang luar biasa^^

Dhieta said...

@Ci Lia : oooohhh, ci Liaaa... your words are really encouraging me^^ Thank you... I can't wait to see that promise land actually, tapi it's worth the wait lah yaa, hehehe... God bless you, cici...

Anonymous said...

By doing this, the body becomes vulnerable to lots of
diseases and sicknesses that will most likely come forth and
can cause stomach upset when taken to excess.
There are many 3 day how to get him back forever is just isn't a one step project either. Marijuana how to get him back forever implies getting rid of the layers of waste on top. Green Tea for how to get him back foreverification Green tea is obtained from the evergreen 'tea plant'.

My web blog: web site

Jane said...

Baru baca tulisan ini. Akhir-akhir ini lagi dilema. Jadi diplomat adalah impianku. Aku ingin mencobanya tapi setelah baca-baca aku baru tahu soal dilema jadi diplomat perempuan. Menikah aja ribet tapi...aku tetap ingin mencoba. Jadi diplomat itu emank keliatannya keren dan menantang. Dari semua kementerian yang aku 'survey' sejauh ini emank kemlu yang paling ribet tesnya jadi diplomat tapi tes2 itu justru terlihat seperti menantang aku yah tapi seperti tulisan kak Dhieta, I will choose God and family first. Tapi kemudian muncul pertanyaan, setelah ikatan dinas 5 tahun apa seorang diplomat bisa berhenti yah? Apa bisa setelahnya aku melamar jadi PNS kayak dosen atau apalah kerja yg menetap githu? Hmm...tapi aku ingin jadi diplomat...ahh dilema ini...being a woman is complicated but I love it as God makes me so..hmm what should I do for my future? Enjoy the 'now'! #CURHATmodeON

Dhieta said...

Dear Jane

:)

Seperti kerjaan lain, tentu saja diplomat bisa resign, cuman resikonya harus kehilangan status PNS juga. Tru setahu aku, mantan PNS ngga bisa daftar lagi jadi PNS di formasi lain.

Saranku, kalo emang jadi diplomat itu panggilan hidupmu, kalo memang itu visi yang ditaruh Tuhan di hatimu, go for it!!! As long as kamu taat mengikuti tuntunan Tuhan, ngga perlu khawatir soal yang lain2, karena Tuhan pasti akan cukupkan. Misalkan, kalo emang panggilanmu jadi diplomat, masalah jodoh pasti Tuhan juga akan kasih seseorang yang visinya juga mendukung visimu. Itu sih masalah kecil buat Tuhan kan?

So, cari lagi kehendak Tuhan and just walk through that :)

blandina said...

Hallo Kak Dhieta, aku diberkati banget sm tulisan ini :) tengah malem baca ini pas diwaktu-waktu meditating which way to go, or what to do first. Aku dapetin aku di kemlu kak, and yes, marriage thingy is one of my concern. terus aku baca reply kk yg ini
"Misalkan, kalo emang panggilanmu jadi diplomat, masalah jodoh pasti Tuhan juga akan kasih seseorang yang visinya juga mendukung visimu. Itu sih masalah kecil buat Tuhan kan?"
itu meneguhkan sekali.

Aku coba set aside kekhawatiran aku dan fokus apa yg mau Tuhan kerjakan dalam kehidupan aku.

Semenjak baca ini, aku mau langsung ambil doa puasa, supaya telinganya mendengar makin presisi Bapa mau bawa aku kemana hehe :)

Untuk apapun pilihan kakak, may God's favor be upon you always.

Trus semangat ya kak :)

Dhieta said...

Hai blandina :) I'm so grateful that this post could be a blessing to you. Jadi mau masuk Kemlu? Sudah sejauh mana prosesnya? Semoga berhasil yaa...

Thank you also for the kind prayer. Appreciate it a lot! :*

givanda eka said...

Halo kak. Aku tertarik bgt sama tulisan kakak ini. Awalnya hanya ingin cari prospek kerja yg bagus untuk lulusan fakultas saya yaitu hukum. Lah saya kebetulan emg dari dulu tertarik banget berurusan dengan segala sesuatu yg internasional. Saya memutuskan untuk mendaftar kemenlu setelah saya lulus nanti (saya masih semester awal, turn 17 this month tp sudah khawatir sm masa depan haha) tp setelah membaca tulisan kakak ada 2 hal yg ada dipikiran saya. Semakin tertarik menjadi diplomat tetapi takut mengambil risiko. Kenapa? Saya memang tipe orang yg tidak gampang terikat pada komitmen jadi untuk urusan menikah saya emang ga diburu waktu. Tetapi bagaimana jika hal itu terjadi tiba2 dan tidak direncanakan? Itu yg saya takuti. Dilema banget kak. Menurut kakak bagaimana? Melihat umur ku juga masih panjang perjalanan hehe makasih kaak.

Dhieta said...

Halo Givanda, maaf ya baru bales, lagi ga kepegang nih blog ini T.T

Wah asik ya masih 17 tahun ehehe... Yang jelas di usia kaya kamu, yang paling penting adalah mencari visi Tuhan buat hidupmu apa. Kalo udah dapet ya berjalan terus dalam tuntunan Tuhan... Jadi ya diuji lagi apa panggilan Tuhan untukmu.

Aku bukan tipe orang yang kalo kasi advice tuh harus begini atau harus begitu, karena bisa beda2 di tiap orang. Cuman jujur aja aku ngga ngerti sama kalimatmu, bagaimana bila hal itu terjadi tiba2 dan tidak direncanakan? maksudnya apa euy? Pernikahan? Maksudnya tiba-tiba menikah? Kenapa euy tiba-tiba menikah> :p

Ehehehe, pernikahan yang baik itu menurut aku ada masa perencanaan. Baik soal waktu maupun soal2 lain. Intinya sih sebelum menjalin hub kan pasti didoakan dl kan, termasuk soal pilihan karir nantinya.

Yang jelas sih gini, kan sekarang udah tahu resikonya jadi diplomat. Pakai aja hal itu jadi pertimbangan. Keep ini mind aja dl. Sambil gtu belajar yg baik biar IP nya bagus, sambil terus mencari dan mengikuti tuntunan Tuhan. Follow Him step by step dan jangan kuatir soal masa depan pastinya ;)

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review