9/05/2011

Denominasi? So What???

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 10:59 pm
Mungkin kita sudah sering dapat pertanyaan, "Kamu gereja dimana?'" Lalu kita juga tidak akan heran kalau pertanyaan itu lalu diikuti dengan pernyataan soal denominasi.  Misalnya, kalau kita bilang, "GKJ", si penanya akan bilang, "Ooh, Presbyterian" atau kalau kita jawab "GBI", si penanya akan merespon dengan, "Ooh, Karismatik."

Kalau untuk saya pribadi, respon itu agak aneh. Apakah denominasi  gereja ini sangat penting, sampai kita harus menegaskannya begitu nama gereja tertentu disebut?  Apalagi kalau kemudian kita memberi label "orang karismatik" atau "orang non-karismatik" pada jemaat gereja tertentu. Pertanyaannya, apakah jemaat GBI pasti karismatik? Atau jemaat GKJ pasti non karismatik? Pentingkah penggolongan itu?


Bagaimana kalau kasusnya seperti saya? Kalau ditanya soal gereja, saya saat ini berjemaat di GBI  Senayan City. Tapi di Magelang, kota asal saya, saya berjemaat di GKJ Plengkung. Yaa, I know, GBI  (Gereja Bethel Indonesia) itu karismatik, dan GKJ (Gereka Kristen Jawa) non karismatik. Kalau keadaannya seperti itu, masuk dalam denominasi apa saya ini? Termasuk "orang" apa saya? Orang karismatik, atau orang non-karismatik?


Oh iya, Kalau di Magelang saya berjemaat di GKJ dan di Jakarta saya memutuskan berjemaat di GBI, itu bukan berarti saya pindah-pindah gereja ya. Karena di kedua gereja itu, di kedua kota tempat gereja saya berada, saya tertanam, baik di GKJ maupun GBI. Dalam perspektif saya, pindah-pindah gereja berarti tidak tertanam di satu gereja lokal. Which means, minggu ini kita ibadah di gereja A, lalu bulan berikutnya di gereja B, atau kita beribadah di gereja C dan ketika kecewa dengan seseorang atau sesuatu, kita banting setir ke gereja D. Tentu saja, saya tidak menyarankan hal seperti itu :)


Anyway, saya sendiri dibesarkan dalam tradisi interdenominasi. Sejak lahir baru saya diasuh oleh Perkantas, lembaga pemuridan interdenominasi. Dalam masa pertumbuhan mula-mula, saya terlibat dalam persekutuan siswa dan persekutuan mahasiswa yang juga interdenominasi. Waktu mahasiswa, giliran Navigator - juga lembaga interdenominasi - yang menolong saya bertumbuh. Karena interdenominasi, maka anggotanya berasal dari berbagai macam gereja. Persekutuan yang interdenominasi tidak memandang apakah kau jemaat GBI, JKI, HKBP, GKJ, GPIB, GKI, Pantekosta, Bethany and so on and so on...

Saya bersyukur karena melalui persekutuan interdenominasi itu, saya - sampai dengan saat ini - bisa belajar mengenal, menghargai dan mengasihi setiap tubuh Kristus lebih dalam lagi. Mungkin karena tradisi interdenominasi itu saya kurang setuju kalau saya digolongkan pada satu denominasi tertentu. Saya lebih suka disebut orang interdenominasi, atau kalau perlu non-denominasi, as long as sesuai dengan Firman Tuhan, ya itu denominasi saya.

***


Di post ini saya tidak akan membahas soal perbedaan karismatik dan non-karismatik, seperti soal penggunaan bahasa roh, ekspresi dalam pujian dan penyembahan, atau style gembala dalam berkhotbah. Pembahasan soal itu bisa jadi sangaaaaatttt panjang dan bersifat teologis. Apa yang ingin saya bagikan hanya soal bagaimana kita sering bersikap terhadap gereja dari denominasi lain sebagai sesama tubuh Kristus. Sepanjang sebuah gereja didasari oleh kebenaran Firman Tuhan, maka gereja itu adalah anggota tubuh Kristus. Seperti jelas dikatakan di I Korintus 12:27, "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya."


Pertama, sikap yang kita ekspresikan dengan perkataan. Sadarkah kita, kalau komentar kita tentang gereja lain (baik serius maupun tidak) kadang kurang bijaksana?


Jujur saja, karena baik GKJ maupun GBI adalah rumah saya, saya akan merasa tersakiti kalau ada yang bilang GKJ tidak punya Roh Kudus, sama sakitnya kalau ada yang bilang GBI itu gereja komersil. :'( Sama sakitnya, ketika ada yang menjelek-jelekkan HKBP atau JKI atau GKI atau Pantekosta. Kenapa, karena ada teman-teman saya disana. Saya dan mereka sama-sama tubuh Kristus. Ketika kita mengatakan hal negatif tentang gereja atau denominasi tertentu, sebenarnya kita sedang menyakiti tubuh kita sendiri. Ketika ada orang yang menjelek-jelekkan denominasi tertentu, mereka juga sedang menjelek-jelekkan kita. Karena kita satu tubuh di dalam Kristus.


Setiap gereja adalah anggota tubuh Kristus. Anggap GKI adalah mata Kristus. Kalau kita bilang, "GKI itu Gereja Kurang Iman", bukankah itu seperti mengatakan "Kristus, mataMu penuh katarak." Anggap Pantekosta adalah bibir Kristus. Kalau kita bilang, "Pantekosta itu gereja hura-hura", bukankah itu seperti mengatakan "Kristus, bibirMu sumbing."  Saat kita memberi komentar buruk kepada salah satu gerejaNya, kita sedang menghina Kristus sendiri.

Kedua, sikap kita ketika berinteraksi dengan saudara dari denominasi yang berbeda. Sadarkah kita kalau ketika kita memaksakan kebiasaan-kebiasaan di denominasi kita pada denominasi yang berbeda, justru bisa menjadi batu sandungan?


Saya punya beberapa teman dari gereja Karismatik yang belajar menahan diri untuk tidak bertepuk tangan dan melompat-lompat ketika menghadiri ibadah non-karismatik. Alasannya sederhana, apa yang bagi mereka  pujian penuh semangat bisa dikategorikan berlebihan oleh jemaat yang lain, dan pada akhirnya menjadi batu sandungan. Saya mengagumi mereka karena tak pernah sekalipun mereka beranggapan, "Ya ampun, ini orang-orang non-karismatik lemes amat yak, ga ada tenaganya!" Saya juga punya beberapa teman non-karismatik yang, ketika menghadiri ibadah gaya Karismatik, tetap serius mengikuti penyembahan dengan menggunakan bahasa Roh, meskipun dia sendiri belum memiliki karunia itu. Mereka memilih untuk tetap menyembah Tuhan dengan akal budi dan tidak pernah sekalipun saya dengar komentar seperti "Ih, orang-orang karismatik itu ngga sensitif banget sama orang yang ngga bisa bahasa Roh..."


***


Kerika kita belajar menghargai setiap gereja, kita juga sedang menghargai diri kita sendiri. Ketika kita bersyukur untuk setiap denominasi gereja, kita juga bersyukur tentang keberadaan kita. Ketika kita mengatakan, "Tuhan, aku bersyukur untuk gereja dengan karunia kenabian yang kuat." Itu seperti mata yang sedang berkata, "Tuhan, aku bersyukur untuk telinga, karena keberadaannya memberitahuku kalau ada mobil membunyikan klakson dari arah belakang." Ketika kita mengatakan, "Tuhan, aku bersyukur untuk gereja dengan karunia diakonia yang kuat", itu seperti hidung yang mengatakan, "Tuhan, terimakasih untuk tangan, karena keberadaannya yang menjangkau banyak orang membuat kegiatan bernafasku tidak sia-sia."


Indah bukan?


*tiba-tiba membayangkan kondisi seperti di Mazmur 133, sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam dengan rukun :)*




God bless,

8 comments:

Mega said...

AGREEEEE....... *toss Dit* \^^
seminggu lalu aku juga bahas ini sama Ini Teena, sedih euy ngeliat sesama tubuh kok saling ngata-ngatain, saling nyakitin :( Aku juga sama kayak kamu, bersyukur banget bertumbuh di persekutuan interdenominasi, blajar banyak dari perbedaan yang ada.

Rindu sangat segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa berdiri dan menyembah Dia kayak di Wahyu tanpa ngeributin perbedaan, cuman satu suara bilang "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas tahta dan bagi Anak Domba"

Wah, itu pasti luar biasa banget ya?!!Senang banget ngebayanginnya ^^

dhieta said...

@Mega: Huaaaaa, megaaaa.... TOSS juga!!! betul banget, rindu suasana sorga dmn org menyembah Tuhan tanpa ngeributin perbedaan, yg ada cuma angkat suara buat Tuhan Yesus :D luar biasany pake banget banget banget...

Nonik said...

SETUJU SETUJU SETUJU :) :) :)
BAGUS BAGUS BAGUS :D :D :D

huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa LOVE THISS.....

dhieta said...

@ Nonik : hahaha, thank you, nik... :) :D ;D

HanShinta said...

SETUJU JUGAAAA!!! Gw juga case-nya sama ama kamu ... gede di gereja injili, waktu pelayanan di gereja baptis, sekarang di gereja brethren ... gubrakkksss beda semua ... but that's the beauty of the Lord's body. We support and love each other, bukan saling meruntuhkan. Begitu bukan kata FirTu? Kerajaan yg di dalamnya saling menghancurkan tidak akan bertahan. It's time we realize that denominations adalah buatan manusia, bukan Tuhan. Mana ada di Alkitab yg membahas masalah baptis, karismatik, injili, dll ?? Dan waktu kita tiba di Surga, I don't think Tuhan akan nanya "Kamu gereja mana? Denominasi apa?". "Ohhh ... gereja injili". "Baiklah, kamu di surga di sebalah barat sana yach". -.-´We are ONE body of CHRIST =) Thanks for this post, Dhiet. =D

dhieta said...

Hai, ci Shin... Huahaha, lucu banget tuh soal "kamu di surga sebelah barat sana", wkwkwk,,, ho'oh, bener banget, di surga nanti mana ada kapling2 based on denominasi. Jadi klo di surga aj kaga ada, ngapain kita ada2in di bumi.. :D thank's for reading the post ya ci Shin, salam buat Sean... (Iiiihh, pengen cubit cubit Sean :p)

stephaniesia said...

wah setuju banget! emang seharusnya kita sesama anak Tuhan ya harus saling mengasihi dan saling menerima satu sama lain. tapi sayangnya ada pihak2 yang berusaha membela gereja mereka karena sangking cintanya sama gereja mereka. menurut aku disini ada kekeliruan, boleh kita cinta sama gereja kita. tapi please, haruskah sampe membela segitunya? mnurut aku itu salah fokus. harusnya yang kita cintai itu Kristus. bukan gereja atau diri kita sendiri. sayangi yang ada disekitar kita, jaga, tapi kalau sampai membenci yang lain karena fanatisme ga jelas, itu yang dipertanyakan.

setuju juga sama dibilang, selama itu sama kayak Firman Tuhan, it's fine. itu adalah saudara seiman kita :D

keep posting! tetep jadi pena Bapa di dunia, saya juga dari GBI omong2 :D tapi di JCC, semoga kita bisa ketemu yaaa :) God bless you sist!

Dhieta said...

Hai stephani :) thanks udah mampir disini... :) beberapa temen COOL aku dari JCC juga. Iyaaa... semoga kita bisa ketemu kapan2 yaa... mungkin kalo lagi ibadah bareng di SICC hehe...

And yes, I agree with your comments. Kita harus mencintai Kristus dan juga mencintai gereja dengan kasih Kristus juga. Jadi ga akan ada fanatisme ga jelas :D

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review