2/24/2012

Marriage : Untargetted

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 8:57 pm
Jadi teman-teman, orang "kepo" yang sok nanya-nanya ke Mega soal pasang target, itu adalah aku. Hehehe.... heboh banget nih pake pengumuman segala. Apakah karena aku pasang target? Huaaa, a big No. Aku ga ada target-target kaya gitu. Mo nikah kapan juga terserah Tuhan. Cuman masalahnya, kemaren ada seorang teman yang nanya trus aku jadi penasaran sama jawaban orang lain, terutama karena si teman itu terkesan 'agak' tidak setuju dengan sikapku yang tidak pasang target kapan mau nikah ini.

Honestly, I was hurt a little bit when he said, "Apa? Kamu ngga ada target kapan mau nikah? Berarti kamu ga punya rencana dong pada hidupmu? Kamu hidup hanya sekedar 'go with the flow.' Gitu kan?"

*Sigh*

I hate it when he said I just live my life go with the flow. I hate it when he said I have no plan for my life. I hate it then, when he said someday when I'm older I will wake up, still being single, and realize that I've been wasting my time by not getting married but it is too late.

Aku lupa bagaimana tepatnya aku menjelaskan pada temanku waktu itu. Tapi hal pertama yang aku bilang adalah, I am fine as a single. Aku utuh, aku lengkap. Aku tidak memerlukan hubungan untuk membuatku merasa tidak berkekurangan.

Jadi, salahkah kalau aku tidak membuat target?

Hmm, I used to make plans. Dulu aku ingin menikah muda, segera sesudah aku lulus kuliah. Mungkin di usia 22 atau 23. Dulu aku sangat sangat sangat ingin menikah. Bayangkan, aku sudah membuat daftar tamu yang akan kuundang untuk pernikahanku saat aku masih kelas 2 SMA. Diaryku waktu itu penuh dengan potongan-potongan gambar gaun pengantin, hand bouquet, dan apa saja yang bisa jadi inspirasi untuk sebuah pernikahan (baca: pemberkatan dan pesta). Semua temanku tahu kalau aku sangat ingin  punya pacar dan menikah.

I was obsessed with marriage. Aku ingat aku pernah bilang ke teman pelayananku, aku siap menerima apapun karunia yang Tuhan beri, asal bukan karunia hidup selibat (Masih mending dikasi karunia, ini milih lagi, wakakakak, ga tahu diri...) Anyway, the point is, I was so afraid that God doesn't want me to get married.

Sampai saat ini, aku masih ingin menikah. Tuhan sendiri tidak pernah bilang aku sebaiknya hidup selibat. Tapi aku sudah tidak takut lagi walaupun selalu ada kemungkinan aku tidak menikah. Bagiku sekarang, menikah itu baik, tidak menikah itu juga baik, selama itu sesuai dengan rencana Allah. Menikah, itu untuk kemuliaan namaNya, tidak menikah itu juga untuk kemuliaanNya.

And then talking about plan, at last it's not about my plan, it's not about my parents plan, it's about His plan. I want to plan anything He plans. Dan sejauh ini, I don't know the detail of His plan about me and marriage. Yang kudapat adalah kalau Dia menghendaki aku menikah, aku pasti akan menikah, tepat pada waktunya. Bukankah Dia membuat segala sesuatu indah pada waktunya?

Pengkhotbah 3:11

Ia menentukan waktu yang tepat untuk segala sesuatu. 
Ia memberi kita keinginan untuk mengetahui hari depan, 
tetapi kita tak sanggup mengerti perbuatan Allah dari awal sampai akhir.
(Bahasa Indonesia Sehari-hari)

True, God made everything beautiful in itself and in its time--
but he's left us in the dark, so we can never know what God is up to, 
whether he's coming or going.
(The Message)

Aku tidak tahu kapan waktunya aku akan menikah. Blank. Sangat blank. Harapan bahwa itu akan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama pasti ada. Tapi kalau aku harus menetapkan target (sasaran yang harus dicapai - KBBI) itu seperti memberi label bahwa pernikahan adalah tujuan and I dont wanna be driven (I wrote it 'drove' and thanks Anggit buat koreksinya hehehe) by my wants to be married. Pernikahan bukanlah tujuan hidup. Memenuhi tujuan (visi) Allah yang seharusnya jadi tujuan hidup kita. Menikah adalah salah satu cara untuk memenuhi tujuan itu. Apa gunanya kalau menikah justru menarik kita dari visi yang Tuhan tetapkan?

Jadi, kalaupun aku menetapkan target menikah di umur 28 tahun, so what? Adakah itu menjadi tanda bahwa aku sedang melaksanakan panggilan Tuhan bagi generasiku - seperti yang dilakukan Daud dengan hidupnya? Lalu kalau target itu tidak tercapai, so what? Apakah itu akan memberi aku label, "orang gagal", karena tidak bisa memenuhi target? Lalu kalau aku sudah menerapkan target, apa yang harus kulalukan? Mencari pria-pria agar targetku terpenuhi? Kalau kita tahu bahwa pertemuan kita dengan siapapun pasangan kita, itu adalah hak prerogatif Tuhan, kenapa harus pasang target untuk sesuatu yang sebenarnya diluar kendali kita?


I just think simple, dengan tidak menetapkan target aku sedang menjadi terbuka dengan apapun rencana Tuhan. Persis seperti yang juga dipikirkan Mega. Dan menurutku juga seperti yang dilakukan oleh banyak orang di Alkitab. Kita semua tahu kalau bangsa Israel mengikuti Allah ke tanah perjanjian tanpa menetapkan target. mereka dan justru seratus persen mengikuti Allah selangkah demi selangkah. Setahuku mereka tidak menetapkan rencana perjalanan. Mereka justru menunggu Allah menunjukkan jalan.

Keluaran 9:15-23
Pada hari didirikan Kemah Suci, maka awan itu menutupi Kemah Suci, kemah hukum Allah; dan pada waktu malam sampai pagi awan itu ada di atas Kemah Suci, kelihatan seperti api. Demikianlah selalu terjadi: awan itu menutupi Kemah, dan pada waktu malam kelihatan seperti api. Dan setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah.Atas titah TUHAN orang Israel berangkat dan atas titah TUHAN juga mereka berkemah; selama awan itu diam di atas Kemah Suci, mereka tetap berkemah.Apabila awan itu lama tinggal di atas Kemah Suci, maka orang Israel memelihara kewajibannya kepada TUHAN, dan tidaklah mereka berangkat. Ada kalanya awan itu hanya tinggal beberapa hari di atas Kemah Suci; maka atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat. Ada kalanya awan itu tinggal dari petang sampai pagi; ketika awan itu naik pada waktu pagi, merekapun berangkatlah; baik pada waktu siang baik pada waktu malam, apabila awan itu naik, merekapun berangkatlah. Berapa lamapun juga awan itu diam di atas Kemah Suci, baik dua hari, baik sebulan atau lebih lama, maka orang Israel tetap berkemah dan tidak berangkat; tetapi apabila awan itu naik, barulah mereka berangkat. Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa.

Look at that, bukankah bangsa Israel juga go with the flow - kalau memang itu istilah yang dipakai. Mereka hanya melangkah berdasarkan arahan Tuhan lewat tiang awan dan tiang api. Kalo tiangNya berhenti mereka berhenti, kalo tiangNya bergerak mereka bergerak. Mereka tidak tahu berapa lama mereka akan berada di suatu tempat, bisa sehari, bisa sebulan. Mereka tidak menargetkan, 'aku akan disini sekian hari lalu aku akan melanjutkan perjalanan.' atau 'aku harus sampai di tepi Sungai Yordan pada bulan kesekian.' No, menurutku mereka tidak punya target. Mereka hanya go with the flow, go with the cloud lebih tepatnya :)

Aku tidak ingin mengatakan bahwa memasang target kapan menikah adalah hal yang salah. Hanya saja dalam kasusku, memasang target tidak membantu aku untuk lebih memahami maksud Allah. Memasang target juga tidak membantuku untuk bertumbuh dalam iman bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Justru dengan tidak memasang target I feel that I can embrace every single second when I'm single with the right attitude : wait upon the Lord. Repeat: Wait upon the Lord, not wait upon a husband! :) Wait upon the Lord berarti siap mengikutiNya kapan saja Ia bergerak, siap menapaki jalan apapun yang Ia tunjukkan dan itu tidak selalu tentang pernikahan.

Waktu temanku bilang aku hanya go with the flow dengan berjuang untuk jadi single happy, I just said it's not only about being happy. But it's about using your singleness to do what God wants you to do. I just love when Hana, Erik's girlfriend, send me message at night just to say, "Mbak, peluk dong." Atau aku juga menikmati saat-saat chatting di YM dengan Wina dan berbagi banyak hal soal relationship dengan dia. Terlebih aku menikmati saat Saras, adik rohaniku, bilang dia juga ingin menolong beberapa gadis di persekutuan remaja untuk belajar dalam kelompok kecil. I just love when I talk with my parents and ask them about my niece. Aku mencintai saat-saat aku bisa memberkati orang lain dengan masa singleku.

Buatku, enjoy day after day of my singleness tanpa target kapan menikah sebenarnya sama sekali bukan go with the flow. Orang-orang di sekitarku menikah karena dikejar usia, orang-orang di sekitarku menikah karena tuntutan orang tua, orang-orang di sekitarku menikah dengan mereka yang jauh di bawah standar karena tidak sabar lagi menunggu yang terbaik, well, that's the flow. And you know what? I'm against the flow! I'm not gonna married with anyone but the best from Christ, I'm not gonna married with any reasons but His reasons, I'm not gonna married anytime but in His time. I'm not gonna married if this is not His will.

Hmm, aku pikir aku sudah jadi terlalu emosional di post ini. I dont know if what I write here is right or not, it's just my two cents. Aku terbuka dengan tambahan pendapat maupun koreksi.




p.s. : Aku suka banget sama bunga, dulu paling suka sama mawar, tapi sekarang kayanya udah ganti hehehe. Apa ya enaknya? Lily, Anggrek? Atau Dandelion??? Dandelion aja deh... Itu termasuk hal yang paling amazing yang aku temuin di Eropa, soalnya disana dandelionnya gedeeeee, hehehehe.

25 comments:

Lasma Frida said...

Hmmm...Jadi inget kata-kata bokap aku. Waktu dia tanya target aku dan calon PH aku maried. Kita ga bisa pastiin kapan dan Beliau marah waktu kita bilang " Ya, liat waktunya Tuhan."

He said " Enak aja kalian suruh-suruh Tuhan bikin agenda kalian. Tugas kalian bikin rencana, masalah rencananya ga cocok sama rencanaNya Tuhan atau ga pasti Tuhan kasih liat. "

Pemimpin rohani aku juga bilang kalau kita ada keinginan untuk menikah, kita tulis mimpi kita mau nikah di usia berapa. Bukan kita terpatok di usia itu, tapi itu tanda kalau kita ga main2 dengan hidup kita. Tugas kita merencanakan hidup kita, tapi menyerahkan semuanya sama Tuhan dan biar rencana Tuhan yang jadi.

Ayat

Amsal 20:18 Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat.

Amsal 24:6 Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.

Lukas 14:31 Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?

tapi setiap recana memang harus kita taruh di kaki Tuhan.

Yakobus 4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."

Dulu teman saya pernah berpikir yang seperti kamu pikirkan, tapi waktu itu saya hanya menangkap kalau saat itu ia tidak ingin membuat rencana karena ia takut rencana itu tidak tercapai atau gagal.

aku ga tau kamu memiliki perasaan yang sama atau ga. Tapi kesimpulannya, memang aku ga setuju kalau kita ga merencanakan hidup kita, termasuk usia kita ingin menikah.

Cuma sharing aja ya. Moga-moga bisa memberkati. :D. GBU

KeZia Margaret said...

Kak Dhietaaaaaaaaaaaaaaa..
*sroooooooooooooooooot*
peluuuuuuuuuuuuuuuuuukkkk...

Dhieta said...

@Lasma : Woooooowww, what a long and comprehensive comments, hehehe. First of all, thank you for the insights. Just want to make some things clear... Dengan tidak memasang target untuk menikah bukan berarti aku tidak mempunyai rencana dengan hidupku kok. I have, I have plan, so many plans. I have a plan to be married also, but about when it is, I have no idea. And honestly, married is not the major thing in my life right now hehehe.

As I told on my post, I used to make plans. Aku pernah bikin target kapan mau married, tapi udah lewat, haha. Tuhan ternyata tunjukkan bahwa targetku bukan targetnya, hahaha. Lalu kalau sekarang ga bikin target lagi, sama sekali bukan karena aku takut rencanaku gagal lagi kok. Sama sekali tidak.

Hanya saja pada akhirnya aku belajar, I will be married when I'm ready. Selama ini aku berpikir aku sudah siap, tapi ternyata tidak. Selama ini aku selalu meminta aku menikah umur sekian karena aku merasa di umur segitu aku udah siap. Tapi selalu Tuhan tunjukkan bahwa aku sebenarnya belum siap. Aku akan menikah saat Tuhan berpikir aku sudah siap, bukan saat aku merasa aku sudah siap. Then I realize that I absolutely don't know when is the time God think I'm ready. That's why I don't focus on When anymore, but on the preparation. Then just surrender, anytime He think I'm ready, that's my time! :D

Lalu soal ayat tentang perencanaan, yes, I absolutely agree. But in my opinion, planning is not only about when. Dalam hal lain aku akan mencantumkan unsur when on my plan, misal : I will have a house next year, or I will publish my novel when I'm 30 etc etc. But regarding marriage, I absolutely believe that on my phase as single who isn't in relationship, He will bring my soulmate without my intervention at all, completely His sovereignity, that's why I make no target, cause it seems like I give Him a deadline, hehehehe. That's why, i choose not to plan about when. I'd rather plan about how, how I will be a mother, how I will be a mom , why I'm gonna married etc etc.

Tapi mungkin perlu ditekankan kalau it's in my case kali yaaa. As I said, in my case, menargetkan KAPAN tidak membantuku untuk memahami maksud Allah. Soalnya aku lebih cenderung fokus pada KAPAN dan bukan pada PROSES. It can be different for others... :)

Lalu sebenernya yang digarisbawahi pada postku ini bukan soal harus atau tidak harus kita membuat target kapan menikah. Bukan juga tentang benar atau tidak benar jika kita tidak membuat target kapan menikah. Tapi, pada bagian bahwa it's not fair to judge people who doesnt have target about marriage by saying they just go with the flow and have no plan for their life! It's not fair to say that without targetting marriage you will enjoy your single too much and then found your self getting older but still single.

Btw, aku akan bikin target kok kapan aku married, yaitu saat aku menjalin hubungan dengan seseorang nanti. Saat itulah aku akan bikin target kapan aku married :) Saat itulah aku baru merasa kurang bijaksana kalau aku tidak punya target menikah, terutama karena hubunganku itu juga tergantung pada responku, bukan hanya intervensi Allah. Maybe in this case, your father's opinion can be implemented.

Ini juga sharing aja kok. Semoga bisa memberkati juga. Gbu2 :D

Dhieta said...

@Kezia : Hahahaha, lap dulu ingusnyaaaa, baru ku peluuuuukkkkkk^^

Lasma Frida said...

I c...I c...Belajar jadi wanita yang tenang. Memang kadang saat kita membuat target kita jadi terlalu ambisius.

Mega said...

Oi Diyong, bayar royalti ya, sebut2 namaku segala :p tapi omong2 soal target, lucu kale ya kalo aku bilang targetku ngapain tahun ini, pas ternyata gak terjadi, aku bilang tahun depan, pas gak jadi lagi, tahun depannya, dst. Eh, bukan lucu deng, stres kali ya kalo cuma tiap tahun bikin target gitu ^^

Kupikir Dit emang ada beberapa hal yang emang bisa kita targetin, ada yang kagak. Harus konsultasi sama BABE dan berhikmat juga, sambil bilang,"TUHAN, apa yang kamu mau di gidupku dalam area ini (misal:permeritan ^^)?"

O, iya mesti kembali ke tujuan hidup kita apa, visi yang TUHAN taruh dalam hidup kita apa. Kalo emang TUHAN kasih kita visi menjadi ibu RT yang kasi dampak dalam kluarga kayak kak Lia Stoltzfus. Target 'kapan' merit ini mungkin dia punya (atao malahan gak punya, hahahaha, jadi pengen colek mpok Lia ^^V). Tapi aku yakin, dia gak 'mengusahakan' mencari a Godly Man tiap hari demi targetnya. Dia menikmati perannya sebagai single, dan doing her best, kayak yang kamu lagi lakukan tu lo Dit :p

Dan.....sepertinya tiap perempuan punya target (kalo gak mau dibilang impian :p) menikah kapan di waktu mudanya or di masa dewasanya, hahahaha

Theresia Hutapea said...

hmmm aku juga no target, tapi yes in hope
aku hope sbelum umur 30
dan pssst aku hope tahun ini ada breakthrough :))
dan aku berkata2 dgn iman
tapi aku juga surrender ama Tuhan, for He knows the plans He have for me
dan aku rasa stiap orang punya takran iman masing2, dan kita brjalan ssuai dgn prtumbuhan kita dan apa yang udah Tuhan revealed ama kita hhehehehe
So mari kita enjoy everyday life sambil tetap mnempatkan Yesus ditempat yg prtama
sekian dari saya Tong
smpai brtemu diposting slnjutnya
hahahaha pie Sunday!!! :D

Welly Lokollo said...

Aku juga ga pernah merencanakan kapan akan menikah sebelum memutuskan untuk berpacaran. Alasannya karena ga mau fokusku berpindah dari mencari Tuhan ke mencari calon suami..hehehehehe. Klo udah direncanakan, aku biasanya akan "mengusahakan" untuk mengejar target dan takutnya malah jadi menggunakan "segala cara".

Semangat diet *hugssssss*..Yang belom punya pacar, ga usah tertekan ketika ditanya kapan menikah..hehehehehe

Terus berserah sama Tuhan dan biar kehendakNya yang jadi

Harmeilia Adiastuti said...

baca postingmu jadi inget e.elliot di Let me be a woman. bagus deh. kalau sempat coba baca. pasti semakin meneguhkan dan menyemangati :)

Dhieta said...

@Mega : bagian ga mengusahakan untuk mencari seorang Godly Man itu aku setuju banget, hehe. Btw, aku punya teman yang dia emang ga ada mimpi buat nikah, hahaha, berasa aneh yaa, tapi emang gtu loh... And she's doing the best with her singleness^^

@Echong : Amin, Echa, tahun ini ada breakthrough,jadi undangan bisa cepet naek cetak dan aku bisa ikut makan arsik ikan emas, yeeeeyyyy!!!

@Welly : Iya Wel, you're absolutely right. Kalau ditanya kapan nikah, jawab aja kapan2 yaa, hehehe. Akan ada saatnya kita menuai sambil bersorak sorai (kaya Welly bentar lagi^^)

@Anggit : Huaaah, bukunya ada ya di Indo? Terjemahan atau impor? AKu baru baca yang passion and purity... Let me be a Woman nya belooommm, huaaaa, pengeeeennn,,,

Harmeilia Adiastuti said...

ada koq. ga tau toko bukunya impor ato ga. yg pasti in english. bagus bgt deh bukunya. punya aq udah agak lecek. pinjem punya aq aja juga boleh. tapi klo punya sndiri emang bisa dicoret2 sesuka hati hehehe. aq beli di anak panah pas ada book fair di skul.
banyak koq toko buku yg jual buku kristen bagus2 and harganya juga ok...ga perlu pesen online ato ke singapore (kadang perlu jg sih ke sana...klo bukunya susah cari di sini) ato qt minta toko bukunya pesenin utk kita shg qt ga perlu ribet dan harganya sama saja :)
soal harga buku juga sama aja koq. di sg aq lihat lbh mahal. malah lbh murah cr di indo.
misal: di buku ditulis 6 dollar, di indo harganya jadi 65 ribu. selisih dikit aja.
ato pas km tgs ke amrik skalian beli (haaa....itu ide yg bagus sekali hehe)

yg km bahas di post ini, ada juga di bahas di let me be a woman.
contohnya pas kamu bilang soal bgs israel...emang spt itu. bgs israel kan pasang tenda, berdiam, ringkes2, pindah tempat. pasang tenda lagi, berdiam, ringkes2, pindah tempat. gitu terus sampai masuk Kanaan.
Singleness juga gitu, ada stage for being single for temporary, ada stage for being single forever, ada stage utk marriage.
ada soal ttg free by obeying the the rules.
aq paling suka pas she said:
singleness is a gift.
aq jg tahu itu dari dulu, tp ga menghidupi.
tp cara dia explain buat aq jadi ngeh.

pakai model ayat kesusahan shari cukuplah sehari gitu...

singleness is a gift, which we should receive with thanksgiving. this gift is for this day. and we are responsible for this day. lets live it one day at a time and not look forward as though the real life is around the next corner, padahal the real lfe is here and now. God still owns tmrw

Gitu die bilang...bagus bgt deh :)

ps: itu " i wanna be driven", not drove hehe :p (peace)

Dhieta said...

@Anggit : yang ps nya dulu, hahahaha, makasih koreksinyaaa, emang keliatan mana yang otodidak dan mana yg bukan,hwekekeke. Akan segera diedit^^

Oh iya, aku juga pernah denger soal anak panah itu. Pesen onlen aja kali ya, toh harganya juga ga jadi mahal banget. Ngga bisa ngandelin tugas ke amrik, semua serba tidak pasti disini, huehehe...

Iya ya, kita udah tahu dari dulu tapi belum menghidupi. Mungkin perlu diceburin dulu, trus learning by doing, huehehehe. Praktek. Praktek. Praktek.

Nonik said...

MBAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK I LOVE THIS!!!!! HUA HUA HUA HUAHAHAHAHAHAHAA. SUKA BANGET KALIMATMU YG INI:

"Hanya saja dalam kasusku, memasang target tidak membantu aku untuk lebih memahami maksud Allah. Memasang target juga tidak membantuku untuk bertumbuh dalam iman bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Justru dengan tidak memasang target I feel that I can embrace every single second when I'm single with the right attitude : wait upon the Lord. Repeat: Wait upon the Lord, not wait upon a husband!!"

Terus yang paragraf kedua terakhir ini:

"Buatku, enjoy day after day of my singleness tanpa target kapan menikah sebenarnya sama sekali bukan go with the flow. Orang-orang di sekitarku menikah karena dikejar usia, orang-orang di sekitarku menikah karena tuntutan orang tua, orang-orang di sekitarku menikah dengan mereka yang jauh di bawah standar karena tidak sabar lagi menunggu yang terbaik, well, that's the flow. And you know what? I'm against the flow! I'm not gonna married with anyone but the best from Christ, I'm not gonna married with any reasons but His reasons, I'm not gonna married anytime but in His time. I'm not gonna married if this is not His will."

Nonik said...

Suka lagi sama commentmu yg ini: "I realize that I absolutely don't know when is the time God think I'm ready. That's why I don't focus on When anymore, but on the preparation. Then just surrender, anytime He think I'm ready, that's my time! :D"

En sama perkataan Mbak Mega yg ini: "...dia gak 'mengusahakan' mencari a Godly Man tiap hari demi targetnya. Dia menikmati perannya sebagai single, dan doing her best, kayak yang kamu lagi lakukan tu lo Dit :p"

komentar2 di atas cukup bisa menyuarakan isi hatiku haha.

btw, sebenernya ada loh mbak bagian yg harus kita lakukan. yaitu: BERGAUL!! Bukan diam saja seperti katak dlm tempurung en berharap Tuhan langsung jatuhin pria tampan dari langit. Tapi gaulnya of course di tempat en lingkungan yg tepat. Soalnya banyak nih cewek2 yg habis baca buku2 BGR jadi beranggapan, "ooh gitu ya. kalo gitu oke gue diem aja ga usah ngapa2in, biar Tuhan yg bawain cowo." Dan mereka masih terus bertanya2 bahkan frustrasi, kenapa masih tetap single 5-10 tahun kemudian.

Tapi dalam bergaul, fokus kita idealnya yaaa bukan dg cari PH. Intinya, pergaulan akan membantu memperbesar kemungkinan kita untuk ketemu si doi hehe. Semakin luas lingkup pergaulan kita, semakin besar kemungkinan kita bertemua si dia yg cocok (again, di lingkup pergaulan yg TEPAT). Pernah denger kan pepatah kalo jodoh itu bukan di tangan Tuhan. I mean, Tuhan pasti tau siapa cocok dg siapa, tapi juga ga maksa orangnya. Tuhan juga tahu kalo misale kita ga cocok sama si A, tp kitanya ngotot pingin sama si A. Ya wis Tuhan tetep hormati free will kita dg konsekuensinya masing2.

Anita Bong said...

Wah seruuu~ :D heheh~ Sedikit share soal target menikah saya sendiri belum keuhkeuh menentukan kapan mau kawin hahahah~ kalo ditanya kapan nikah? jawaban saya cuman senyum hohoho~ Once pernah doa tanya Tuhan kapan kira2 saya nikah, lalu saya mengajukan proposal, umur sekian ya Tuhan? Tuhan cuman ketawa, ga ada jawaban pasti. wakakak~ kalo menurut perhitungan, harusnya umur 27, umur segitu udah mapan hahahah~ udah bisa nabung dll, tapi sekali lagi ga dipatenkan.

I think bukan masalah kita menetukan target ato tidak, selama kita berjalan dengan tuntunan Tuhan tiap hari, dan tetap menjaga fokus kita kepada Dia, serta senantiasa konsultasi dengan Roh Kudus, He will show His will to us. :)

Dhieta said...

@nonik : Ya ampyuuunnn, nikkkk, komenmu panjeng bener^^ Jadi bingung :p iya, emang kesimpulannya, saat kita single itu, justru kita harus other-focused, bukannya self focused. Nah soal bergaul itu, memang bukan untuk memperbesar kemungkinan^^ Tapi untuk melayani komunitas :D

@Anita : Hahaha, iya tuh, gondok emang klo nanya sesuatu tapi diketawain sama Tuhan :p Dan gw sangat setuju bahwa yang penting adalah berjalan dengan tuntunan Tuhan tiap hari, intim dengan Tuhan dan dengar2an akan suaraNya. Nice points, Nit :D

viryani khogianto said...

halo baru komen yah norak haha uda lama basi banget aku.. kemaren aku uda sempet baca ini.. rada2 bingung dengan tidak memasang target. tapi aku juga setuju dengan penjelasan mu LOH? haha. sampe aku baca komen lasma frida, balesan komenmu, dst. what an interesting discussion :D I love this post and all the comments. learn alot and thanks for that! i have a new perspective about it.. -- the difference about making plans, target, about when and how..

aku setuju dengan komen lasma sepenuhnya. dan aku juga setuju dengan penjelasanmu.. aku mungkin belum merasa kan yah.. plan umur sgini married - ga kesampean - pasang target lagi umur sgini ga kesampean lagi - dst.. dan what i love the most is this statement:
Btw, aku akan bikin target kok kapan aku married, yaitu saat aku menjalin hubungan dengan seseorang nanti. Saat itulah aku akan bikin target kapan aku married :)

cant say much, but i feel truly blessed with this post and this discussion :D

Dhieta said...

Hahaha, better late than never kok, ni :p

Emang ya, deadline nikah itu suka bikin gelisah... Padahal itu standar sosial saja, dan bukan keharusan. Time frame nya Tuhan bisa jadi sama sekali berbeda... Semangat, let's embrace every single second of this singleness...

So glad that you feel blessed :) Tuhan luar biasa...

Alphaomega Pulcherima Rambang said...

Seperti yang dibilang kak Grace dan aku ingat,"Enjoy every season in your life", aku juga pengen enjoy my season \(",)/

cynthia ayuningtyas said...

joss kas ^^d
hmm, salut aku sama km mba keren sekali..! bagus banget kak, hehe.. he, meneguhkanku akan masa single ku,.

kadang aku bingung jawabnya kak, kalau ditanya ttg pacar. lumayan sering dbandingin sama ponakan2 yang udah punya pacar di usia mereka yg masih belasan.. susah njelasin k mereka yg beginian dengan cara pandang kita (sbg wanita kristen) jadi yaa, saya hanya tersenyum ketika ditanya..

senang bisa membaca :D

Martha Oktavina said...

Ditha...senengnya baca tulisan mu say..emang cape deh, sama org yang suka ty ty kpn merit, ada target kpn? Ribet...paling gak suka dulu ditanya gitu sblom merit.Punya Plan itu emang bagus..tapi lebih bagus lagi kalau kita tetap terbuka pada rencana Bapa ( seperti yang Ditha bilang).kalo cuma krn ngejar target, trus yang ada di depan hajar bleh lebih celaka 12 .Yes ,We have Plan, but we have to more Focus to HIS plan.

Dhieta said...

hehehe, iya kak marthaaa.. untungnya Bapak sama Ibu ga suka nanya2 :) Cow yang pantes dihajar bleh itu cuma Josh Groban sama Michale Buble sama Iker Casillas #halah, menyesatkan hehehe.... I plan to follow God's plan, gitu aja kali ya :D

Felisia Irma said...

Dhietaa.... ah aku adalah orang yang paling telat komen maybe udah basi lol! Pengenya sih kenapa aku gak tau dari dulu kenapa aku gak kenal kalian dari dulu huahahahaha. Tapi aku bersyukur masih sempet kenal kalian dan seneng banget sangat diberkati!!

Anyway ini target merit wkwkwkwk-- aku dulu target merit umur 27-an lah. Pas ulang ke 27 boro2 merit pacar aja gak punya. Dan pada masa itu aku pemulihan diri memang dari dosa-dosa masa lalu halah termasuk dalam relationship. Dan 27 thn 6 bulan dia nongol. Padahal pada saat usia kita sm2 24 kita udah mau dikenalin tapi kita berdua agaknya sama-sama belum siap. Aku yakin saat umur 24-pun kita dikenalin pasti gak jadi.

Aku setuju sama apa yang di katakan ani kalo setelah dapat pasangan baru target merit yes I did that. Dan entah kenapa belakangan ini aku sering dikuatkan sama hal-hal yang berbau pasangan. Seneng banget sih kayak dapat peneguhan sekalin juga bagi berkat buat temen-temen cewek. Ini kan topik paling digemari sama cewek2.

Keep posting ya dhieta. GB!!

Dhieta said...

Haaaiii, Felis!!! Iyaaa, kenapa ya retret Pearl ga dibikin dulu2 ahahaha....

Selamat mempersiapkan pernikahan yaa, pasti smuanya lancar dan penuh perkenanan Tuhan^^

iranita said...

tq untuk sharingnya ka.. memberkatiku banget. salam kenal dariku.. oya ka ayatnya yang terakhir bukan keluaran 9 tapi bilangan 9.

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review