2/16/2012

What's Next???

Dibagikan oleh Dhieta at 9:17 pm
Baiklah, dalam dua minggu aku sudah dua kali bolak-balik Jakarta - Semarang. Hmm, capek sebenernya tapi menyenangkan :D Dinas ke Semarang selalu terasa lebih meaningful karena bisa dimanfaatin buat pulang ke rumah, dan bertemu beberapa teman lama. And on valentine day some days ago, aku dapet setangkai mawar merah looooh^^ Hayo tebak dari siapaaaa? Hayoooo? Huehehe, dari mbak2 taksi gitu deh. Jadi kami naik taksi dari Soekarno Hatta ke kantor, dan ternyata Tiara Taxi lagi bikin program valentine yaitu bagi-bagi mawar merah dan souvenirs juga. Berhubung aku naik paling terakhir dari temen-temen yang lain, aku deh yang dikasih mawar. Fufufufu, what a sweet suprise...

Btw, kemarin baru baca note-nya Mega soal Musa yang jadi gembala di tanah Midian selama 40 tahun. Persis seperti yang sedang kupikirkan.  It seems like beberapa bulan terakhir ini hidupku lebih stabil, tidak terlalu mengalami rollercoaster emosi, walaupun itu bukan berarti kondisi sudah membaik (merujuk pada kasus strawberry field), tapi lebih karena God has teached me how to handle the situation, and I've been trying to give a right and better response :) But honestly sometimes I feel that  I know I'm in the middle of something, but I feel that the process is on the same level everyday.  That's not bad. Nothing's bad. The situation is stabil. But I'm just keep doing the same thing, day after day, and I start thingking that I am stuck. I'm going no where.


Aku memang sedang menantikan tanah perjanjian. Tapi aku sedang tidak dalam kondisi berperang. Bahkan jalan menuju ke sana belum jelas. Tuhan belum memberi komando untuk melangkah atau melakukan sesuatu. Aku hanya sedang menjadi penggembala di Midian. Doing the same things everyday. Kadang ada ledakan kecil seperti misalnya antisipasi bahan pertemuan Pak Menlu dan Hillary Clinton yang mendadak (dan bikin rencana ikut seminar Lovelution sama Welly, Kezia, dan Nonik jadi batal >,<), atau pertengkaran dengan seorang teman yang cukup membuat shock. Tapi selain itu, my life is steady and peaceful. It's like I'm just waiting God says, "Yes, Dhieta, this is the time!", seperti Tuhan yang tiba-tiba muncul di hadapan Musa dalam semak yang terbakar dan menyuruhnya berangkat ke Mesir.


Mungkin memang seperti Musa yang jadi gembala selama 40 tahun sebelum akhirnya Tuhan panggil dia. Pagi, bangun, mandi, makan. Siangan dikit, ambil tongkat, kumpulin domba, giring ke padang, tungguin sambil nyanyi-nyanyi, sedikit mikir, ngeliat langit, ngitung burung, etc, etc. Sore, kumpulin domba, giring ke kandang, mandi. Malem, makan, tidur. Yaa, kira-kira begitulah. Aku ngga tahu gimana tepatnya kehidupan seseorang yang menggembalakan domba di jaman dulu, I heard that they have to spend nights in the field also. But one thing, sepertinya semua berkutat pada rutinitas. Memang sih ada saat-saat gembala harus menghadapi singa. Atau ada anak domba yang kelakuannya kaya shaun the sheep, pecicilan kemana-mana, nyasar sampe harus dicari-cari. But maybe these are just one or two special days among thousands peaceful (dont wanna mention 'boring') days.

Dan Musa harus melewati itu selama 40 tahun. Apa ya yang dia rasakan?  Aku tahu bahwa 40 tahun masa stabil milik Musa bukanlah masa yang tidak punya arti. Tapi justru masa 40 tahun itu adalah masa pembentukan. Sebelum Musa menjadi gembala bagi orang Israel, Allah melatihnya menjadi gembala bagi sekawanan domba. #Ah, kebayang shaun the sheep lagi# Allah mengikis karakter Musa yang dulu bertindak tanpa tuntunan Tuhan, menjadi pria yang hanya bergerak saat Tuhan memerintahkan. Allah mengubah Musa yang dulu super duper ngga sabaran (inget kan gimana dia ngelabrak dan ngebunuh orang Mesir?), menjadi pemimpin yang panjang sabar dan ngga cepet meledak. Coba bayangin kalo Musa yang dulu langsung menggembalakan bangsa Israel yang keras kepala alias tegar tengkuk itu, bisa langsung darah tinggi trus stroke kali dia, huehehehe....

Tapi bagaimana dia meresponi 'masa-masa stabil' itu ya? Saat semuanya  begitu stabil tapi sebenarnya itu adalah masa gelap karena kita tidak tahu apa yang ada di depan. Mungkin waktu itu Musa bertanya-tanya bagaimana jadinya dengan visinya untuk membebaskan bangsa Israel. Meskipun stabil, 40 tahun itu adalah masa-masa penantian terhadap apapun kehendak Tuhan untuk masa depan. Meskipun stabil, 40 tahun itu juga masa penuh pertanyaan, "God, what's next?" Jujur saja, kalau aku, aku mulai bosen, hehehe. I just feel that I just can't wait and do the same thing that feels like do nothing. Masa pause bukan berarti tidak melakukan apapun kan, masa pause bukan berarti menjadi begini-begini saja kan. Sampe akhirnya, dengan beberapa pertimbangan, sekarang aku sedang merencanakan untuk pergi dan melakukan sesuatu.  Masih didoakan dan diproses sih, bertanya apakah pergi dan melakukan sesuatu itu adalah What's Next yang Tuhan rencanakan. As soon as possible I will tell you what exactly it is.

***

Aku baru nyadar kalo udah lama ga nulis soal masa penantian , padahal dulu sering banget tuh, hehe. Bukan berarti sudah tidak menanti, hanya saja responnya sudah berbeda. Kalau dulu masa penantian serasa jadi beban, sekarang masa penantian itu bahkan sudah tidak jadi fokus lagi :) Baru beberapa hari yang lalu nemu renungan bagus di websitenya Joyce Meyer, jadi kepengen nulis lagi soal masa penantian ini. Joyce nulis renungan judulnya When God's Timing is Taking Too Long, lengkapnya baca disini karena aku cuma mau nulis sebagian kecil saja.

Intinya begini, masa-masa penantian yang Tuhan sediakan untuk kita lewati pasti punya tujuan. Salah satunya seperti yang ditulis Joyce Meyer, "Because He uses times of waiting to stretch our faith in Him and to bring about change and growth in our lives." Dengan kata lain, penantian adalah sebuah proses, bukan saja proses menuju berkat yang sedang kita nantikan (on my words: the matter of time), tapi juga proses menyiapkan kita untuk menerima berkat itu (on my words : the matter of us).

But when we humble ourselves under the mighty hand of God, 
in due time, He will exalt us 
(I Peter 5:6)
("Due time" is God's time, when God knows we're ready, not when we think we're ready. The sooner we understand and accept that, the sooner God can work His plan in our lives)

Kapan kita bisa dikatakan siap? Saat Allah melihat kita sudah dibentuk sesuai tujuan-tujuanNya, saat itulah waktu Allah dinyatakan. Salah satu tandanya adalah kita punya patience and perseverance yang ditandai dengan kesanggupan untuk menerima waktu Allah. Menerima waktu Allah berarti tidak lagi bertanya, "Kapan, Tuhan? Kapan?" tapi justru berkata, "Kapanpun, Tuhan. Silakan." Menerima waktu Allah berarti kita tidak lagi frustasi dan geregetan pada waktuNya yang tidak kunjung datang, tapi justru menikmati setiap detik yang kita lewatkan dalam penantian karena kita percaya waktuNya tepat. Kalau kita sudah bisa menerima waktuNya, menikmati masa penantian menuju ke sana, saat itulah kita sebenarnya sudah dalam kondisi siap. Masa persiapan kita sudah selesai, now, to get what we've been waiting for, is really just the matter of time, and not the matter of us any more.
Dan kita bisa menanti dalam suka cita dan damai sejahtera, karena kita tahu masa itu pasti akan tiba.

Habakuk 2:3 

Catatlah itu, sebab sekarang belum waktunya. Tetapi saat itu segera tiba, dan apa yang Kunyatakan kepadamu pasti akan terjadi. Meskipun tampaknya masih lama, tetapi tunggu saja! Saat itu pasti akan datang dan tak akan ditunda.
(BIS)

 Tetapi segala hal yang telah Kurencanakan ini tidak akan terjadi dengan segera. Meskipun demikian, pasti saat penggenapan penglihatan itu akan tiba. Jika tampaknya lambat, janganlah putus asa, karena semua itu pasti akan terjadi. Bersabarlah! Semua itu tidak akan terlambat barang sehari pun!
(FAYH)



God bless,
 


p.s. :  l'm a tea lover loh... Di keluargaku setiap kumpul2 selalu ada the panas mengepul^^ Klo sekarang, hot camomile tea and cinnamon tea adalah favorit di saat rileks dan menenangkan suasana hati :)

2 comments:

marthavina said...

Ditha...bener bener senang dgn apa yg kamu bagi...sebenarnya...setelah dipikir pikir...masa hidup kita adalah sebuah penantian lho...tiap tahapan hidup kita, Tuhan kasih "sesuatu" pas...lagi sedang berproses, (masa stabil) kadang kita suka lengah, makanya saya berusaha untuk be prepare all the time. Kapan segala sesuatunya berubah saya sdh prepare, 'gak mau kecolongan kayak dulu lagi, sewaktu saya full time mom... terasa sekali masa penantian saya, Puji Tuhannya, saya be prepare, and very happy with those days, and i know also now...ketika saya sedang bekerja sekarang ini juga, saya sedang di siapkan ke tujuan yang lain...so..what ever our purpose to wait, kita gak boleh lengah, we have to prepare all the time. btw..Ditha suka teh ya...aku gak siapin teh ya, waktu kamu ke rumah.nah kalo aku suka nya teh tubruk cap botol he..he..

Nonik said...

waaaah, tulisan ini bikin aku serasa segeeerrr en adem ayem ^^

aku tahu Mbak rasane menanti tuh kaya apa, gak enak >.< *gawat kayane masih belum breakthrough nii....* bener2 diajar pelan2 dulu sama God baru akhirnya bisa menikmati masa2 menanti ini, itupun bener2 selangkah demi selangkah bangeeeet.

btw, Musa itu sampe dikatakan bahwa dia adalah orang yg PALING LEMBUT DI MUKA BUMI. GILEEEEE.... padahal dulu dia tuh ga sabaran en emosine meledak2 ya. yang sampe ngebunuh orang Mesir itu. Tapi bener2 deh waktu penantian 40 taon itu berbuah hasil yg baik, sampe2 dia digelari ORANG YG PALING LEMBUT DI MUKA BUMI booow... '0'

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review