6/12/2011

Cerita yang Tertunda

Dibagikan oleh Dhieta at 10:51 pm

Dulu, pernah ada seseorang yang menanyakan, seperti apa kriteria pasangan hidupku? Kujawab, “Seperti Boas…” Waktu itu responnya, “Boas? Boas Salosa?” Aku masih suka tersenyum kalau ingat waktu itu. Tentu saja bukan Boas Salosa, pemain sepak bola nasional kita. Ini Boas yang lain. Boas suami Rut, salah satu pria yang menjadi leluhur Kristus.

Mengapa Boas? Salah satu alasannya sudah pernah kuceritakan, yaitu he brings up the best in me. Kalo mau lebih lengkap bisa dibaca di post sebelumnya. 

Tapi kemudian aku berpikir begini, Boas memang pria yang tahu bagaimana menaati Allah, dia pria yang mengikuti pimpinan Tuhan dibanding keinginan hatinya sendiri, dia pria yang memiliki pengendalian diri luar biasa, dia kuat, seperti nama Boas yang berarti ‘Pilar Kekuatan’, tapi itu juga berarti Boas adalah pria yang tidak ragu melakukan penundaan.



Rut mencintai Boas, Boas juga mencintai Rut. Tapi Boas membuat Rut menunggu. Saat  Rut menghampirinya dan meminta Boas mengembangkan sayapnya untuk melindungi Rut, Boas justru menyuruh Rut menunggu sampai keesokan harinya karena ia harus bicara dengan pria yang lebih berhak untuk menebus Rut, sesuai dengan hukum yang berlaku di Israel pada saat itu.

Oh, ternyata Boas tidak hanya membuat Rut menunggu. Ia bahkan terkesan melepas Rut pada orang lain, sepertinya ia tidak benar-benar berjuang untuk mendapatkan Rut. Ia rela jika Rut harus menjadi milik orang lain. Pada saat bertemu dengan penebus yang ia maksud, ia tidak mengatakan “aku tahu kau penebus yang lebih dekat, tapi aku mencintai Rut dan Rut mencintai aku, jadi berikanlah Rut untukku.” Tidak, Ia tidak bilang seperti itu. Boas justru bilang, “Jika engkau mau menebusnya, tebuslah; tetapi jika engkau tidak mau menebusnya, beritahukanlah kepadaku, supaya aku tahu, sebab tidak ada orang yang dapat menebusnya kecuali engkau, dan sesudah itu aku.”

Oke, kita semua tahu akhirnya penebus itu tidak bersedia menebus Rut. Tapi bagaimana kalau ia bersedia? Bukankah itu berarti Rut akan menikah dengan orang yang tidak dicintainya, dan Boas juga akan patah hati.

Kalau itu terjadi, betapa bodohnya Boas. Salahnya sendiri ia tidak berjuang untuk benar-benar mendapatkan Rut.

Tapi tidak, hati kecilku bilang Boas bukannya tidak berjuang. Justru ia berjuang. Berjuang agar kalau Rut memang untuknya, maka pernikahan mereka berada dalam ketaatan kepada Allah. Ketaatan itulah yang menjadi kunci berkat atas rumah tangga mereka.

Sekali lagi, Boas justru berjuang. Ia berjuang agar kalau Rut memang untuknya, maka pernikahan mereka adalah hasil usaha dan kehendak Tuhan, bukan usaha dan kehendak mereka sendiri.

Dengan melepas Rut, dengan melakukan penundaan, Boas justru sedang berjuang membangun pondasi yang benar bagi hubungan mereka. Boas tahu benar, jika bukan Tuhan yang membangun rumah, maka sia-sia lah orang yang membangunnya.

***

Sekarang pertanyaannya, bagaimana kalau Tuhan benar-benar memberiku seorang Boas? Bukankah itu berarti, despite all his high qualification, akan ada masa penundaan yang harus kami lalui? Bagaimana kalau ternyata pria yang aku cintai masih harus mengurus dan mempersiapkan banyak hal dalam hidupnya dan menganggap sekarang bukanlah waktu yang tepat? Lalu bagaimana kalau ia terkesan tidak benar-benar berjuang untukku? Bagaimana kalau ternyata, pria yang aku cintai justru membuatku menunggu? 

“Kalau Tuhan benar memberikanku seorang Boas, apakah aku bisa menjadi seperti Rut?”

Apakah aku bisa menjadi seperti Rut yang menaati apa yang dikatakan Naomi, “Duduk sajalah menanti, anakku, sampai engkau mengetahui, bagaimana kesudahan perkara itu; sebab orang itu tidak akan berhenti, sebelum diselesaikannya perkara itu pada hari ini juga.” (Rut 3:18)?

Oh, itu terdengar mudah. Hanya duduk diam dan menanti. Tidak usah melakukan apa-apa. Tapi untukku, aku tahu itu sama sekali tidak mudah.

Masalahnya, aku ini wanita ber-tipe Debora. Suruh aku maju perang, aku akan langsung bergabung dengan pasukan. Aku ini wanita ber-tipe Ester, dengan berani menghadap raja tanpa dipanggil dan mengatakan apa yang ingin dikatakan. Itu semua mudah.

Tapi, duduk diam menanti seperti Rut, atau menyimpan perkara di dalam hati seperti Maria ibu Yesus???

Jujur saja, kalau aku jadi Rut, mungkin aku akan adu argumen dengan Boas tentang perlu atau tidak minta ijin pada penebus yang lebih berhak. Lalu kalau aku kalah berargumen, aku akan memaksa Boas menemui penebus itu malam itu juga agar semua urusan cepat selesai dan aku bisa segera mendapat jawaban. Lalu kalau Boas tidak mau, sepertinya keesokan paginya aku akan minta Boas membawaku menemui penebus itu agar aku bisa menjelaskan kepadanya kalau aku tidak mencintainya, aku tidak mau menjadi istrinya dan aku sudah memilih Boas.

Kesimpulannya, kalau Tuhan ingin aku duduk diam menanti, sepertinya cara terbaik adalah mengikat kaki dan tanganku pada sebuah kursi, dan menyumpal mulutku agar aku tidak berteriak-teriak minta dibebaskan.

***


Aku sungguh penasaran, bagaimana caranya bisa duduk, diam dan menanti seperti Rut?

Then, I try to make a little research about Ruth 3:18. Aku mengumpulkan ayat itu dalam berbagai terjemahan. Mulai dari TB, BIS, NIV, NKJV, hingga The Message. And I found some interesting facts.

Pertama, beberapa isitilah lain yang dipakai untuk frase duduk, diam dan menanti adalah sit still, sit back and relax, stay here, and wait here. Aku belajar, bahwa duduk, diam dan menanti berarti do nothing. Ruth did nothing but wait. Tentu saja dia menunggu dengan sikap hati yang berdoa, tapi dia tidak melakukan apapun untuk mempengaruhi keputusan Boas. Kalau dalam buku Lady In Waiting, dalam konteks saat ini, itu berarti tidak menelepon, tidak kirim sms dan tidak merancang pertemuan-pertemuan 'kebetulan' dengan Boas. Oh, oh, it must be very hard... 


Lalu dalam Contemporary English Message bahkan ditambahkan frase just be patient and don’t worry about what will happen. Aku belajar, bahwa untuk bisa duduk, diam dan menanti, kita harus rileks (berserah dan tenang dalam pengaturan Allah), sabar dan tidak kuatir. Biarlah kehendak Allah yang terjadi. Bukankah kehendak Allah, apapun itu adalah yang terbaik? Bukankah waktu Allah jug aselalu yang terbaik? Ia akan membuat segala sesuatu indah dalam waktunya.

Kedua, dengan duduk, diam dan menanti, aku belajar bahwa Rut sebenarnya sedang menaruh kepercayaan kepada Boas. Rut sedang mempercayai kesanggupannya untuk mengurus segala sesuatu tentang mereka, Seperti yang dikatakan Naomi, “,,, sebab orang itu tidak akan berhenti, sebelum diselesaikannya perkara itu pada hari ini juga.” Naomi begitu yakin pada karakter Boas, ia tidak akan mempermainkan Rut. Bahkan dalam The Message Bible disebutkan that man isn’t going to fool around. Mark my words, he’s going to get everything wrapped up today.

Dengan membiarkan Boas berjuang dengan caranya, tidak campur tangan, itu berarti Rut sedang mempercayai kesanggupan Boas memimpin hubungan mereka. Itu juga berarti Rut sedang belajar untuk menghormati kepemimpinan Boas dan hidup dalam penundukan diri. Bukankah itu karakter yang harus dimiliki seorang istri: penghormatan dan penundukan diri kepada suami. Ternyata bukan hanya Boas yang sedang menaruh hubungan mereka dalam pondasi yang benar, dengan duduk,diam dan menanti, Ruth juga sedang melakukan hal yang sama.

Dan setelah semua penundaan, ada akhir bahagia. Boas dan Rut mungkin adalah pasangan dengan kisah cinta terindah di Alkitab. Kisah cinta yang didasari oleh purity, diresponi dengan kedewasaan dan sikap hati yang benar di hadapan Allah dan sesama. Saya benar-benar belajar banyak dari mereka berdua.



Jakarta,  Juni 2011

8 comments:

Harmeilia Adiastuti said...

Haha i like it when you said: Kesimpulannya, kalau Tuhan ingin aku duduk diam menanti, sepertinya cara terbaik adalah mengikat kaki dan tanganku pada sebuah kursi, dan menyumpal mulutku agar aku tidak berteriak-teriak minta dibebaskan.
mungkin itu jg cara yg manjur utkku =)

dhieta said...

@anggit: hehehe, iyaa, cocok buat kita :D kind of cew yang suka ribet n galau hahaha... belajar sama2 kita yaa :) mari kita fight supaya kita punya kerelaan buat diproses and dipersiapkan sampe Boas itu dateng :D

Nonik said...

Wah Mbak.....karakter kita 11-12. Aku banyak menemukan diriku di tulisan ini!!! aku juga tipe wanita seperti Ester dan Debora. Selalu ingin maju berperang, mengambil insiatif, ga sabaran, suka nggebrak2, dominan, weleeeeeh T.T

Baca tulisan ttg Ruth, rasanya tuh kaya digebyur sama banyu adem hahahaha.

Dhieta said...

@Nonik: Hahaha, iya Nik, ak ini kan Sanguin - Koleris yaa, luar biasa banget prosesnya buat jadi wanita yang lemah lembut dan tentram itu. Tahu kan ya, yang namany tipe pemimpin, suka gedubrak gedabruk, trus diajar buat duduk diaaammm, rasanya aaaaaaaarrrrrrgggggggggghhhhhhhh.... hahahaha...

KeZia Margaret said...

hoalaaaaaaaaaaahhhh iniii mantaaaap.hehehe..
aku juga tipe cewe dominan kak walaupun karakter sanguin-melan. cuma orang-na grabak grubuk mo-na buru2 gituuu.. hoalaaaahh.hahaha..
bener yaaa. harus jadi seorang cewe yang tenang. menunggu dengan tenang. bukan menunggu dengan grasa grusu..hehehe.

Dhieta said...

@kezia: sanguin-melan? Wooww, unik sekali :D klo menurutku yah, sebagai seorang sanguin yg akhir2 ini udah ga gtu sanguin :p kadang2 kita baru bisa anteng klo udh ngerasain kepentok gara2 grusa-grusu. Itu pengalamanku sih, Kez. Moga2 kamu ngga yaa. Hehehe...

Nonik said...

ya ampun kita ini banyak amat cewe2 yg sanguin-koleris en selalu terburu-buru, gubrak gabruk, grusa grusu, gedubrak gedubruk!!! Maaaaaaak. kita ini cewek apa cewek??? Ga heran kalo susah buat kita punya roh yg LEMAH LEMBUT & TENTRAM!!! Ga heran kalo *mungkiiiin loh* cowo2 pada keder en mikir 1-2x sebelum pdkt... ngeri bow. Kita ini cewe kaya Xena, the Warrior Princess. mana gue komen dg nada berapi-api pula lageee!! haaaah >.<

Novita B said...

iseng buka google, ingin tahu pendapat tentang perjalanan hidup Boas dan Ruth. Dan, suka banget dengan tulisan kamu. Tepat di hari vals day sabtu kemarin seorang ibu di klinik datang menghampiriku. Dia sibuk menjodohkanku dengan anaknya. Dia suruh saya yang menghampiri anaknya lebih dulu. karena anaknya sdh trll sibuk dengn pekerjaan dan pelayanannya. Aku menolak, lalu dia bercerita ttg kisah Boas dan Ruth. Dia brcerta jg ttg ruth yang menghampiri Boas swktu malam hari. namun tidak perlu berkata kata berlebihan. Mamanya menyuruhku utk mendoakan anaknya. membawa nama anaknya dalam doaku? wihhh... dengan yakin itu kah mamanya? cuma kesimpulan yang sangat aku dapat adalah Tuhan sdg mengingatkanku utk tetap diam dan tenang dan setia dalam penantian. Tuhan masih bekerja utk masa depanku.

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review