6/12/2011

Entah Siapa, Entah Dimana

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 12:35 am
Di mataku, hidup ini seperti film. Ia tersusun dari begitu banyak potongan adegan. Saking banyaknya, banyak yang hanya lewat begitu saja, seakan tak sempat tersentuh indera kita. Bahkan kita seperti tak menyadarinya.

Tapi beberapa bisa jadi sebaliknya. Sangat membuat kita terkesan. Seperti menancap di kepala kita kemudian. Saat terjadi, waktu seakan berhenti seketika membuatnya membeku di memori kita.

Aku menemukan saat ketika beberapa adegan meninggalkan kesan sangat dalam, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Tapi saat ini aku ingin menceritakan dua adegan ini...

Tahun keduaku di universitas adalah saat aku mulai terlibat di pelayanan kampus sebagai panitia retret penyambutan mahasiswa baru. Salah satu program kami adalah mencari dana dengan berjualan es buah dan kolak di lampu merah menjelang waktu berbuka puasa. Keuntungannya tidak banyak tapi kami belajar setia melakukan bagian kami.
Sore itu, saat kami mulai berjualan, beberapa preman mendekati Erik, ketua panitia kami, dan memaksanya memberikan beberapa bungkus es buah. Aku melihat Erik memberi mereka beberapa bungkus. Entah apa alasannya. Mungkin Erik hanya tidak mau memancing keributan. Setelah preman-preman itu mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka pergi sambil tertawa-tawa. Kukira sudah berakhir, tapi kejadian selanjutnya membuatku sangat terkejut. Sambil beranjak pergi, preman-preman itu menunjuk-nunjuk Erik dan meneriakinya,”Banci!!! Pengecut!!! Dasar cewek!!!” Aku sungguh tidak menyangka. Perlahan aku menoleh ke Erik, kulihat dia melambaikan tangan kepada preman-preman itu, tersenyum dan balas berteriak, “Tuhan memberkati!”

Waktu seakan berhenti di adegan itu... Sore itu aku melihat seorang pria yang lembut hatinya, seperti Kristus yang juga lembut hatinya.

Erik kemudian tidak hanya menjadi rekan sepelayanan, ia juga adalah salah satu sahabat pria-ku yang paling dekat. Dari mereka, Erik salah satunya, aku punya alasan untuk percaya bahwa “good men of God are still exist!” Kini setelah bertahun-tahun, peristiwa itu masih tergambar jelas di memoriku: Erik yang punya alasan untuk marah atau setidaknya balas mengumpat, memilih untuk menjadi pembawa damai... (this story is dedicated to Erik and his girlfriend, Hana, thanks to come into my life )

Peristiwa kedua terjadi saat Paskah tahun 2009 yang kulewatkan dengan beribadah bersama beberapa alumni pelayanan kampusku dulu. Kami sengaja datang lebih awal agar kami bebas memilih tempat duduk. Benar, gereja masih sepi. Sembari menunggu kami mengobrol dan bercanda. Waktu itu datanglah sepasang suami istri yang masih cukup muda. Istrinya menggendong anak mereka yang masih bayi. Belum ada setahun kukira. Mereka duduk tepat di samping rombongan kami.

Adegan selanjutnya yang seakan membuat waktu berhenti. Si istri mendudukkan bayinya lalu memegang tangan mungilnya. Tangan mereka berdua kemudian digenggam oleh tangan si suami yang lebih besar. Mereka menundukkan kepala dan berdoa dengan tangan berada dalam satu genggaman. Aku percaya Bapa melihat satu genggaman itu sebagai satu kesatuan hati dalam keluarga.

Mungkin adegan itu seperti adegan biasa. Banyak pasangan-pasangan suami istri yang berdoa sebelum ibadah. Tapi aku jarang melihat pasangan yang berdoa saling menggenggam tangan, bahkan dengan bayi mereka juga. Efek adegan itu membuat rombongan kami saling melempar pandangan penuh arti. Bahkan Joy, salah satu temanku yang paling spontan berkata,”Ooohh, so sweettt...”

Iya, manis sekali melihat keluarga muda itu. Bahkan sepanjang ibadah kami sering mencuri lihat apa yang mereka lakukan. Kami melihat mereka berbagi. Saat si ibu menggendong bayinya, si ayah menyembah. Lalu si ayah bergantian menggendong bayinya agar si ibu dapat menyembah. Aku tidak tahu apakah teman-temanku masih ingat adegan ini. Tapi bagiku pribadi, keluarga muda itu sangat menginspirasi.

Kadang, melakukan apa yang benar seperti sia-sia. Seperti Erik, memberkati preman-preman itu tidak membuat mereka bertobat saat itu juga. Tapi Erik mungkin tidak pernah menyangka akan ada orang yang mengingat dan kemudian menuliskan apa yang ia lakukan waktu itu. Berdoa saling menggenggam tangan bagi keluarga muda itu mungkin juga merupakan hal biasa, mungkin mereka tidak akan menyangka ada sekelompok anak muda yang melihat mereka lalu di dalam hatinya menyimpan kerinduan untuk membangun keluarga yang hidup dalam doa dengan pasangan hidupnya kelak.

Mereka tidak pernah tahu (Well, sekarang Erik mungkin tahu setelah membaca ini...) Seperti kita juga mungkin tidak pernah tahu bahwa ada orang yang hidupnya diubahkan dengan perbuatan kita, entah siapa, entah dimana...

Den Haag, Januari 2011

4 comments:

Nonik/Louisa said...

waaaaaa........awesome awesome ^^

dhieta said...

entah siapa, entah dimana... eh ketemu nonik lewat blog wakakaka ^^

Foni said...

benar bngt ya.. apa yg kita lakukan skg mgkn kecil pengaruhnya atw bahkan ga terlihat. tpi Tuhan turut bekerja dlm sgala sesuatu. dari postingan ini, sy jd mkin dikuatkan utk trs memberikan yg trbaik bgi murid2 sy scr khusus utk tdk bosan2 menasihati, mendorong mereka utk rajin bljr dan berdoa utk mereka!
slm kenal, Foni. keep writing kak! Gbu =)

dhieta said...

Hai, foni... salam kenal juga :) Thanks for reading ya. Oh, foni guru kah? My mom and one of my very best friend juga guru. Mereka invest hidup mereka buat orang lain, salut deh... Tetep semangat buat kasih yg terbaik ya, pasti ga akan sia-sia... Tuhan berkati! =D

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review