6/12/2011

My Fun Little Project

Dibagikan oleh Dhieta at 2:30 am
Akhir bulan ini, aku akan pindah ke apartemen di daerah Cawang - Jakarta Timur. Untuk sebuah apartemen full furnished dengan dua kamar, satu ruang tamu, satu dapur dan satu kamar mandi, harga yang kudapat sangat murah. Aku percaya, apartemen itu adalah sebuah jawaban doa.


Pulang dari Paris, aku memang pernah kos di kawasan Pondok Pinang. Tapi karena setelah itu aku harus mengikuti short course di Den Haag selama dua bulan, aku memilih keluar dari kosku yang lama. Pulang dari Den Haag akhir April lalu, aku homeless. Untuk kembali ke kosku yang lama rasanya sangat tidak efektif, jaraknya terlalu jauh dari kantorku. Dua jam perjalanan pulang dan pergi setiap hari pasti akan sangat melelahkan. Jadi sambil mencari kos di dekat kantor, aku bergantung pada kebaikan hati beberapa teman. Minggu pertama di Jakarta aku numpang di rumah Mbak Mila dan Bang Hery - suaminya. Masalahnya Mbak Mila dan Bang Hery ini baru saja menikah dan aku tahu akan sangat tidak bijaksana kalau aku terlalu lama tinggal bersama mereka, itu akan merusak masa bulan madu yang pasti lebih menyenangkan kalau dinikmati berdua.


Setelah seminggu dan aku belum juga dapat kos yang cocok, aku pindah ke tempat Joy. Joy ini adalah adik angkatan di kampus dulu. Kami pernah satu kos sewaktu aku masih kerja di Gramedia. Sekarang Joy menyewa sebuah rumah petak. Kadang mamaknya datang menengok, tapi basically Joy tinggal sendiri. So, atas kebaikan hati Joy, aku menumpang di rumah petak mungilnya.

Tapi seminggu berlalu dan aku tidak juga menemukan kos yang menurutku tepat. Daerah belakang kantor terlalu crowded buatku, lagipula disana agak kumuh dan harganya mahal. Maksudku, untuk ukuran kamar yang cenderung kecil dan fasilitas yang didapat, harga yang mereka berikan tidak worth itbagiku. Jadi setelah menimbang-nimbang, sepertinya kembali ke kos yang lama adalah pilihan yang cukup masuk akal. Memang jaraknya jauh, memang akan melelahkan, but at least I can feel at home. Setiap aku pulang kantor, aku tahu ada tempat yang nyaman yang menantiku.


Sebenarnya aku mendoakan rumah petak seperti yang disewa Joy. Ada kamar, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Kondisi seperti itu lebih private dan aku tahu rumah seperti itu adalah kesempatan yang baik untuk belajar the art of house making yang dengan kata lain adalah belajar keterampilan rumah tangga, mulai dari menyapu, mengepel sampai memasak.


Apartemen yang akan kutempati nanti sebenarnya adalah milik sepupu Joy yang suaminya akan ditugaskan di Jepang. Joy memberi kabar soal apartemen itu tepat sebelum aku pindah ke kosku yang lama. Joy rupanya juga sedang mendoakan tempat tinggal yang lebih layak, tapi kalau ia tinggal sendiri harganya terlalu mahal jadi dia mengajakku untuk share. Tentu saja aku sangatexcited dengan tawaran itu. Sebuah apartemen, yang bisa ku-manage sendiri, bukankah itu awal yang baik untuk belajar the art of home making?


Dulu aku tidak menyadari betapa pentingnya the art of house making ini bagi seorang wanita Kristen. Dulu aku heran kenapa temanku Ira yang dimuridkan di The Navigator dilatih untuk menguasai keterampilan rumah tangga. Pada akhirnya aku memahami bahwa Allah memang menghendaki itu. Dia memang menugaskan kita untuk menguasainya.


Amsal 31 jelas-jelas menjelaskan hal itu.


... Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya... Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya... Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan... Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya... Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya... Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam... Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal... Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap... Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya... Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya...


Look at it, wanita di Amsal 31 mengurus rumah tangganya, ia mengurus makanan, ia mengurus pakaian, ia mengurus kebun... Ia memang punya pelayan, tapi ia tetap mengawasi rumah tangganya, dan pengawas yang baik adalah dia yang memahami apa yang ia awasi.


Aku tidak terlalu ingat kapan pertama kali aku membaca tentang Amsal 31. Tapi beberapa tahun ini bagian itu menjadi pergumulan tersendiri dalam perjalananku sebagai seorang wanita. Bagian itu sudah jadi sebuah visi pribadi, sebuah tujuan untuk dicapai, dan terampil dalam perkara home making adalah salah satu tujuan itu.

Tuhan pasti memahami arti penting sebuah rumah untuk keluarga. Sebuah rumah yang nyaman adalah seperti oase bagi penghuninya setelah mereka berjam-jam melewatkan waktu dengan segala tantangan di kantor atau di sekolah. Dan wanitalah yang bertanggung jawab untuk menciptakan oase itu. Belajar the art of home making pada saat ini adalah investasi yang baik untuk pernikahanku nanti. 

Saat ini, aku masih tinggal bersama Joy di rumah petak mungilnya. Akhir bulan ini kami akan pindah ke apartemen. Aku sudah merencanakan untuk membeli beberapa buku resep masakan. Aku juga sudah mulai mencari inspirasi mangenai bagaimana aku bisa mendekor apartemen itu - atau setidaknya mendekor kamarku nanti.

Sepertinya apartemen ini akan jadi sebuah project kecil yang menyenangkan. Dan setelah project itu, aku bisa lebih dekat dengan wanita yang digambarkan di Amsal 31.


Jakarta, Mei 2011

0 comments:

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review