6/12/2011

Selalu Ada Alasan Untuk Tersenyum

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 12:41 am

Habakuk 3 : 17-18

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.



Hari-hari ini saya belajar untuk memberikan respon yang benar kepada duka: tetap bersukacita walaupun segalanya tampak begitu buruk dan beban di hati terasa sangat berat. Kadang kita merasa, dalam duka kita tidak punya alasan untuk tersenyum. Yang ingin saya bagikan adalah sebenarnya dalam duka pun kita tetap punya alasan untuk melakukan semua itu. Satu ayat yang menolong saya memahami bagian ini adalah Roma 5:3.


Dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-Hari, saya menemukan satu terjemahan yang indah: “Demikian juga kita dapat bersuka cita, pada waktu kita mengalami kesulitan dan cobaan, sebab kita tahu hal itu baik bagi kita karena menolong kita belajar bersabar. Dan kesabaran menghasilkan suatu watak yang kuat dalam diri kita serta menolong kita supaya senantiasa lebih mempercayai Allah setiap kali kita bersabar, sampai akhirnya pengharapan dan iman kita menjadi kuat dan teguh. Kalau sudah begitu, apa pun yang terjadi, kita dapat hidup dengan tabah karena kita tahu bahwa segalanya baik” 

Dari ayat itu, saya belajar bahwa setidaknya ada 2 (dua) alasan untuk tetap bersukacita di kala duka :

1.  Segala yang Tuhan ijinkan terjadi, termasuk duka, adalah sesuatu yang baik.

Satu hal yang pasti Tuhan itu baik dan semua yang baik bersumber dari Allah. Semua yang dia ijinkan terjadi pasti mendatangkan kebaikan. Seperti kehidupan Yusuf, Allah memakai semua peristiwa, mereka-reka semua menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Justru dari duka itu kita akan menikmati sesuatu yang baik di masa datang.


2.  Karakter dan kapasitas yang dibawa ke level yang berbeda.

Roma 5:3 tadi menunjukkan beberapa hal yang diproses melalui kedukaan yaitu: kesabaran, iman, dan pengharapan. Dalam terjemahan versi lain kita bisa menemukan  ketekunan dan karakter. Kadang kita ditekan sampai kita merasa didesak sampai ke ambang limit iman, pengharapan dan kesabaran kita. Tapi sebenarnya yang terjadi adalah, dengan tekanan, limit itu sedang direntangkan agar kapasitasnya bertambah. Hasilnya kadang baru kita lihat ketika tekanan selanjutnya datang, tiba-tiba kita sadar bahwa kita sudah jadi orang dengan karakter dan kapasitas yang sudah diubahkan. Seperti ayat tadi yang mengatakan setiap kali kita bersabar kita akan senantiasa lebih mempercayai Allah. Untuk saya pribadi, bagian ini sangat personal. Allah memproses iman dan kesabaran saya tidak dalam satu-dua tahun atau satu-dua kedukaan. Tapi sayamenikmati bahwa sedikit demi sedikit, limit kesabaran saya direntangkan ditandai dengan respon yang yang lebih bijaksana pada setiap peristiwa. Sekarang, kalau saya menoleh ke belakang, saya hanya bisa terheran-heran mengagumi setiap proses yang Tuhan lakukan untuk membentuk saya.


Kedukaan adalah sesuatu yang baik. Itulah kenapa kita justru harus bersukacita di tengah duka. Di tangan Allah, segala sesuatu yang buruk akan diubah menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Jadi kenapa duka itu tidak kita serahkan saja ke tangan Allah? Untuk saat ini, saya memang belum bisa sepenuhnya melihat apa sesungguhnya rencana Allah dengan duka yang sedang saya alami. Tapi selain karena dua alasan di atas, setidaknya saya masih punya satu alasan lagi untuk tersenyum: perenungan saya kali ini menginspirasi sebuah puisi yang rencananya akan digubah menjadi lagu oleh seorang teman. Saya sangat excited menunggu akan jadi seperti apa lagu itu ;


Allah, ini dukaku

Kuletakkan di atas mezbahMu

Pakailah untuk membentukku

Semakin indah di hadapanMu


Allah, ini air mataku

Kuletakkan ke dalam tanganMu

Pakailah untuk membawaku

Semakin mengenal pribadiMu


Reff : 

Engkaulah Allahku, berdaulat atasku

Engkau Penjunanku, pemilik hidupku

Kau punya rencana atas setiap peristiwa

Tak ada yang kebetulan

Semua Kau pakai untuk kebaikan


Oh iya, satu hal yang paling penting, kita selalu punya alasan untuk tersenyum karena kita selalu punya Allah. Dialah satu-satunya alasan kenapa kita selalu punya alasan untuk tersenyum dalam duka: karena Dia baik, karena Dia setia, karena Dia akan menangani duka kita. Sukacita itulah yang akan jadi kekuatan kita dalam duka. The Joy of The Lord is my Strength!!!


Jakarta, 30 April 2010

"All by HIS g.r.a.c.e"

3 comments:

febe said...

hai mbak dhieta, lagunya wes rampung mbak? hehehe..

Dhieta said...

hahaha... udah dek, tapi file nya ilang :"( waktu itu temenku udah ngerekam tapi skarang entah dimana. Nanti aku tanyain lagi :D

febe said...

waaaah sayang banget mbaaak :(
iya mbak, semoga ketemu yaa mbak, pengen dengeriiin :)

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review