6/12/2011

Seperti Boas

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 12:53 am
Sejak masih di sekolah menengah dulu, kakak PA-ku selalu mendorong agar aku mulai mendoakan kriteria pasangan hidupku. Hmm, doaku dulu berkisar pada pria tinggi besar berkacamata dengan rambut pirang dan mata biru, lengkap dengan senyum yang bisa membuatku meleleh. Pria yang kelihatan ganteng dengan tuxedo, pintar menyanyi dan bermain alat musik. Pria yang akan memanjakanku dengan bunga dan puisi. Pria yang membuatku merasa jadi seorang putri...

It seems like I give too much attention to physical things, huh? Of course, I don't. Aku juga mendoakan karakternya kok. Waktu itu aku berdoa, karena aku gadis yang emosian maka aku menginginkan pria yang sabar, karena aku suka bercerita maka aku ingin pria yang akan selalu menyediakan telinganya, karena aku suka jalan-jalan maka aku ingin pria yang mau memberikan waktunya, karena aku manja aku ingin pria yang dewasa... Sounds nice, right? Then, some men came and went away *deep sigh*. I smiled but also cried a lot. But I still pray for a man from God.

Hingga aku sampai pada masa ketika Allah mulai mengarahkan doa-doaku tentang pasangan hidup. Dia mengenalkanku pada kisah cinta antara Boas dan Rut...

Boas bertemu Rut di ladangnya, saat Rut memungut bulir-bulir gandum yang tercecer oleh para pekerja Boas. Ada kemungkinan bahwa Boas mungkin sudah tertarik pada Rut sejak awal. Karena itu kupikir Boas bisa saja langsung memberi Rut sekarung gandum, tapi Boas hanya menolong Rut secukupnya dan membiarkan Rut berusaha sendiri. Pelajaran pertama adalah Boas tidak memanjakan Rut. Dia membiarkan Rut bekerja dan berusaha, tapi aku percaya dia selalu ada kapan saja Rut membutuhkan dia. Dan mungkin saja Boas mengawasi Rut dari jauh, dengan dua tujuan: berjaga-jaga atas Rut dan mengamati karakter Rut.

Aku tahu aku manja, tapi kalau pasangan hidupku nanti adalah orang yang memanjakanku, aku tidak akan pernah belajar mandiri.

Hal lain yang membuat aku tertarik adalah, walaupun sudah jelas Boas tertarik pada Rut, ia bisa mengendalikan diri. Pada saat Rut meminta Boas menebusnya, Boas tetap menempatkan dirinya pada track yang benar: Ia harus meminta ijin pada pria yang lebih berhak menebus Rut. Jika pria itu mau menebus Rut, Boas mundur. Jika tidak, barulah Boas akanmenyanggupi permintaan Rut.

Dan Rut pulang ke rumahnya, mungkin dengan hati gundah dan bingung. Tapi Naomi, mertuanya, menyuruhnya duduk saja dan menunggu.

Sejak kecil, apa yang aku mau harus aku dapat saat itu juga. Aku tidak suka menunggu. Apalagi tidak mendapatkan apa yang aku mau. Tapi kalau pasanganku nanti selalu memberi apa yang aku mau, aku tidak akan pernah belajar menjadi dewasa. 

Pada akhirnya aku belajar bahwa pasangan yang Allah inginkan untukku adalah dia yang akan menolongku menjadi seperti Kristus. Mungkin dia tidak selalu menuruti apa mauku, mungkin dia tidak selalu menolongku, mungkin dia tidak akan selalu berkata-kata manis kepadaku. Tapi dari semua itu aku justru belajar untuk jadi dewasa, mandiri, sabar, dan lembut. Hal-hal yang selama ini menjadi kelemahanku. Bukankah besi menajamkan besi dan manusia menajamkan sesamanya???

Jadi nanti, kalau pasanganku menuntut pengertianku, aku tahu Tuhan sedang melatihku bersabar. Kalau pasanganku banyak bicara, aku tahu Tuhan sedang melatihku belajar mendengar. Kalau pasanganku bermulut tajam,aku tahu Tuhan sedang mengajarku berhati lembut dan tenteram.

Karena bagaimanapun juga, tidak ada pasangan yang sempurna. Aku pun tidak bisa menjadi pasangan yang sempurna. Justru kami dipertemukan, agar pada akhirnya kami bisa bersama-sama disempurnakan oleh Kristus.

Lagipula, hubungan itu bukan tentang apa yang kudapat bukan? Mengasihi adalah tentang apa yang bisa kuberikan untuk pasanganku. Mengasihi adalah tentang melayani, bukan dilayani. Itu juga yang dilakukan Kristus. Ia melayaniku bahkan sampai mati di kayu salib. Semua hanya karena satu alasan, Ia mengasihiku, dan akan tetap mengasihiku, meski tidak ada satu halpun yang membuatku layak dikasihi.

Jakarta, Agustus 2010

4 comments:

Nonik said...

BAGUS BANGET........

Dhieta said...

Thank youuuu... Masih ditunggu nih Boasny :)

Simple Writter said...

awesome...
touch bangedd...

Dhieta said...

@simple writer : thank you :)

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review