6/12/2011

Padang Gurun

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 1:13 am
Tahun 2010 sudah berakhir. Dan di penghujung tahun, refleksi sepertinya jadi sesuatu yang wajib. Semacam ucapan selamat tinggal untuk tahun yang akan berlalu dan salam perkenalan untuk tahun yang baru.

Bagiku, tahun 2010 adalah satu parafrase: padang gurun.

Alasannya jelas, aku seperti berada di padang gurun yang tak bertepi. Disana tidak ada penunjuk arah, aku tak tahu kemana harus berjalan. Aku sendirian.

Padahal awal tahun ini dibuka dengan “paradise”. Setiap hari aku tersenyum, bahagia, merasa setiap bagian mimpiku akan menjadi nyata.

Tapi tiba-tiba aku terlempar ke padang gurun itu. Aku merasa aku tidak lagi punya alasan untuk tersenyum.

Aku bersyukur beberapa tahun belakangan ini, Allah telah melatihku untuk percaya bahwa semua hal yang ia ijinkan terjadi dalam hidup aku pasti mendatangkan kebaikan. Aku juga percaya semua hal yang ia ijinkan terjadi adalah bagian dari proses yang Ia sediakan buat hidupku. Pada masa-masa awal di padang gurun itu, Allah memang menunjukkan bahwa ini adalah bagian yang Ia kehendaki untuk kujalani.

Yesaya 32:10
Dalam waktu setahun lebih kamu akan gemetar, hai orang-orang yang hidup tenteram, sebab panen buah anggur sudah habis binasa, dan panen buah-buah lain juga tidak ada. Gentarlah, hai perempuan-perempuan yang hidup aman, gemetarlah, hai perempuan-perempuan yang hidup tenteram, tanggalkanlah dan bukalah pakaianmu, kenakanlah kain kabung pada pinggangmu! Ratapilah ladangmu yang permai, dan pohon anggurmu yang selalu berbuah lebat, ratapilah tanah bangsaku yang ditumbuhi semak duri dan puteri malu, bahkan juga segala rumahmu tempat bergirang-girang di kota yang penuh keriaan. Sebab purimu sudah ditinggalkan dan keramaian kotamu sudah berubah menjadi kesepian. Bukit dan Menara sudah menjadi tanah rata untuk selama-lamanya, menjadi tempat kegirangan bagi keledai hutan dan tempat makan rumput bagi kawanan binatang.

Aku tidak tahu kenapa waktu itu ayat ini meninggalkan kesan yang dalam. Seakan memberitahu aku tahun 2010 akan jadi tahun yang berat. Tahun dimana sumber-sumber sukacita akan lenyap. Tahun di mana aku mungkin tidak punya alasan untuk bahagia. Tahun 2010 justru jadi tahun ratapan, tahun pergumulan, tahun doa.

Tapi Tuhan pasti punya alasan. Ia pasti punya rencana.

Ia hanya ingin aku terus berjalan, bersamaNya. Belajar memberikan respon yang benar pada proses yang Ia sediakan.

Tapi sampai kapan? Bagian lain dari perikop itu memberikan sedikit gambaran.

Sampai dicurahkan kepada kita Roh dari atas: Maka padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan.

Aku hanya bisa percaya, suatu hari nanti padang gurun ini akan jadi kebun buah-buahan, dan saking besarnya sampai-sampai kebun itu dianggap hutan. Aku mengimani akan ada kelimpahan yang menanti.

Tapi menjalaninya tetap tidak mudah.

Beban itu terlalu berat sehingga kadang aku terbangun tengah malam dan merasa sangat sedih. Biasanya aku akan duduk dan berdoa. Tapi kadang beban itu terlalu menekan sehingga kadang aku tidak tahu bagaimana harus berkata-kata dalam doa. Lalu tiba-tiba air mata itu keluar dengan sendirinya.

Aku tidak tahu harus berbagi dengan siapa.

Tapi aku bersyukur karena aku bisa belajar bergantung kepada Allah. Allah memang menempatkan aku di padang gurun., tapi Ia menjadi sumber dari apa yang kuperlukan di padang gurun itu.

Kuasa FirmanNya adalah salah satu sumber itu. Salah satu pembicara favoritku di gereja, Pdt. Edward Supit pernah membagikan tentang Pengkhotbah 3:11, semua indah pada waktunya. bagian yang memang sudah sering kudengar. Tapi narasinya sangat menguatkan. Pendeta itu berkata “Segala sesuatu dalam hidupmu ada waktunya. Mungkin sekarang kamu sedang dalam masa pergumulan. Tenang, itu tidak selamanya. Mungkin sekarang, kamu sedang dalam masa menabur. Tenang, itu tidak selamanya, Taburlah iman, taburlah harapan, taburlah air mata, taburlah doa. Karena akan datang masa menuai, akan datang masa kamu memetik berkas-berkasmu. Jadi sekarang, bertahanlah. Bersabarlah. Satu hari demi satu hari, nanti kamu akan sampai ke musim menuai itu. Rasakanlah, tiba-tiba satu hari lewat, tiba-tiba satu minggu lewat, tiba-tiba satu bulan lewat, dan tiba-tiba tahun ini berlalu. Bertahanlah.”

Dan khotbah lain dari Pdt. Jeffrey Rahmat kurang lebih sama. Bagian yang kuingat dari khotbahnya singkat saja. “Kalau hidupmu sedang dalam masa gelap. bertahanlah. Jalan keluar itu kadang berarti jalan terus sampai keluar. Jadi, berjalan saja. Tahu-tahu kamu akan menemukan pintu keluar di depan sana”

Jadi sejak saat itu aku belajar untuk menjalani semuanya. Tidak perlu banyak bertanya, tapi percaya. Tidak terlalu banyak protes tapi menerima semua sebagai proses.

Pada akhirnya, setiap pagi doaku sederhana, “Tuhan, beri aku kekuatan untuk menjalani satu hari ini. Satu hari ini saja, tolong jagai hatiku agar aku tidak menangis, tidak sedih, tidak mengeluh.”

Tapi apa yang dikatakan Pdt. Edward itu benar. Meskipun berat, tiba-tiba hari sudah berganti, minggu berganti, bulan berganti dan sekarang, 2010 sudah berlalu.

Kalau sekarang aku memandang ke belakang, bisa bertahan sampai saat ini adalah anugerah. Pada akhirnya, Padang Gurun itu adalah tempat untuk belajar banyak hal dari tangan Tuhan sendiri. Itu seperti sebuah ruang kelas dengan metode belajar eksperimental. Well, kinda learning by doing =) Aku belajar tentang iman, pengharapan, kesabaran, ketekunan, kelembutan dan penundukan diri. Aku belajar bahwa hadirat Tuhan adalah sumber dimana aku bisa memperoleh kekuatan, penghiburan dan bahkan semua yang aku butuhkan selama aku di padang gurun. Aku belajar bahwa Firmannya nyata. Aku belajar bahwa doa, pujian dan penyembahan punya kuasa. Aku belajar bahwa Ia bijaksana dalam setiap jalan-jalanNya. (Bagian yang lebih detail tentang apa yang aku pelajari itu pernah kutulis dalam note-note sebelumnya)

Sekarang, aku merasa belum benar-benar keluar dari padang gurun itu. Tapi seperti yang pernah kubaca dalam sebuah buku, kalau Tuhan memandang baik untuk aku tetap ada di padang gurun itu, biarlah itu yang terjadi. Pada waktunya nanti pasti aku akan masuk ke kebun buah-buahan. Aku tidak tahu kapan. Mungkin di 2011. Mungkin di 2012. Saat ini, cukup bagiku untuk percaya, semua pasti indah pada waktunya.

Happy New Year, everyone!

Paris, Januari 2011

0 comments:

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review