6/12/2011

Ketika Tuhan berkata "Tidak..."

Dibagikan oleh Dhieta at 12:21 am
Baru-baru ini, saya diingatkan bahwa Tuhan menjawab doa dengan tiga cara: "ya", "tidak" dan "tunggu"

Bagian ini mengingatkan saya pada sebuah puisi yang pernah saya buat bertahun-tahun yang lalu. Saat saya belajar menerima jawaban "tidak", walaupun sebenarnya saya menginginkan jawaban "ya"

Saat itu saya diremukkan. Hati saya hancur. Tapi jawaban "tidak" itu berarti banyak hal...

Dalam jawaban "tidak" saya belajar mengenal Allah yang berdaulat atas hidup saya. Tapi apapun yang Ia ijinkan terjadi, itu pasti untuk kebaikan saya. Saya belajar untuk tidak pernah menjadi kecewa dengan Allah.


Dalam jawaban "tidak", saya belajar sepakat dengan rencana Allah yang pasti jauh lebih indah dari rencana saya sendiri. Kalau ia menghancurkan rencana saya, itu justru karena Ia ingin saya mendapatkan apa yang seharusnya saya dapatkan sesuai rencanaNya.

Dalam jawaban "tidak" saya belajar mengenal kasih Allah Bapa: Ia memang meremukkan saya, tapi dengan tanganNya sendiri Ia menghapus air mata saya, menenangkan, menghibur dan membalut luka saya.

Dalam jawaban "tidak", saya belajar percaya pada Allah. Bahwa Ia akan menangani hidup saya dengan caranya yang jauh lebih bijaksana daripada ketika saya menangani hidup saya sendiri.

Dalam jawaban "tidak", saya belajar untuk menjadi lembut di hadapan Allah. Berserah pada setiap proses yang Ia sediakan.

Dalam jawaban "tidak", saya belajar menjadi dewasa di dalam Kristus.

Puisi ini lalu menjadi monumen peristiwa itu. Judulnya "When God says No"

...

(ketika sebuah harapan tidak terpenuhi, ketika sebuah cinta harus berhenti,
ketika Allah sukar dipahami, ketika yang bisa kulakukan hanya berserah diri...)

aku berdoa, sekian lama...
dan Allah berkata,

"tidak..."

tidak peduli apakah aku rela hati
tidak peduli apakah aku tersakiti
tidak peduli apakah aku mengerti

aku menyediakan diri
menjawab, "ya, biar kehendakmu yang jadi..."

lalu aku tahu aku hanya butuh waktu
hingga nanti aku nikmati indah rencanaMu

*10/10/2006/when I learned that His love is sufficient*

btw, sekarang saya sedang belajar dari jawaban "tunggu" Kadang lebih sulit dari menghadapi jawaban "tidak" karena saya juga harus belajar tunduk pada kerangka waktu Allah. Tapi saya percaya, anugrahnya pasti memampukan saya bisa melewati bagian ini. Anyway, saya belum bisa cerita banyak, the story is still under construction ^^ Saya hanya ingin agar saya bisa memberi respon yang benar pada setiap proses yang Tuhan kerjakan...


Agustus, 2010

6 comments:

KeZia Margaret said...

Dalam jawaban "tidak", saya belajar percaya pada Allah. Bahwa Ia akan menangani hidup saya dengan caranya yang jauh lebih bijaksana daripada ketika saya menangani hidup saya sendiri.

setuju bangeeed.. cuma Tuhan yang paling mengenal kitaaa..

salam kenal yaa dita ^^ aku kezia :D

dhieta said...

Hai, kez... iyaa, Dia paling mengenal kita... seneng ya punya Bapa kaya Dia :D Salam kenal juga, ak udah mampir loh k Inspiration. Udah ku follow pula hehehe... :D

Nonik/Louisa said...

Dhietaaaa!!! oh ini Dhieta yg itu to...yg mampir di blogku itu hehe.

Maaf ya baru mampir ke blogmu sekarang...:)

tulisanmu yg ini bagus banget!! love it. aku lagi dibentuk abis2an nee...akhir2 ini rasanya kok banyak banget yg permohonan doaku dijawab tidak ya T____T

nonik.

dhieta said...

wkwkwk, ga papa nonik, ak ny aj yg suka mampir2 ga jelas, hehe.... tenaaangg, sekarang dijawab tidak karena pada waktuny nanti pasti ada jawaban yang lebih indah :D thanks for reading yaa :D

Nonik said...

Mbak, baca posting ini plus baca komenku, tak terasa hampir 3 bulan ya :p dulu aku baru kenal kamu, en panggilnya masih bingung mau langsung Dhieta ato pake Mbak :p tapi kerasa aneh si nek langsung panggil nama wkwkwkwk. hahaha.

Dulu aku masih nangis2 pas semua doaku dijawab Enggak :( tapi sekarang sudah bisa menerimanya dg lebih baik. Aaaaah...what a memory. Bersyukur ya kita hidup di dunia yg menyediakan fasilitas kaya bloggers buat simpen tulisan2 masa lalu :)

Dhieta said...

Iya ya, udah 3 bulan, tapi kaya udah kenal lama aja kita, hehe. Emng sih, pas diproses tuh rasanya piye gitu, tapi klo sekarang menoleh kebelakang rasanya jadi beda gitu. Aku juga kadang masih ada yang ngga bisa aku terima, tapi sudah bisa meresponinya dengan lebih baik :)

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review