6/12/2011

My Romantic God

Dibagikan oleh Dhieta at 12:18 am

Seperti biasa, waktu stok bacaan habis, aku sudah mulai gelisah. Aku harus segera beli buku baru. Of course, Gramedia selalu jadi tempat paling comfy untuk beli buku (for some sentimental reasons when I was a child :p). Dan kali ini aku memilih Creative Prayer by Chris Tiegreen...

Sebenarnya aku belum selesai membaca buku itu, satu bab pun belum. Tapi ada satu bagian yang mengingatkanku pada beberapa hal dan entah kenapa aku ingin menuliskannya.

Seperti menginspirasi...

Mr. Tiegreen said,
Tuhan bicara dengan kita dalam cara-cara multidimensional. Dia bicara lewat pelangi kepada Nuh, semak yang terbakar kepada Musa, buah ara kepada Yeremia, tulang-tulang kering kepada Yehezkiel, dan pohon anggur kepada Yunus. SuaraNya hadir dalam bunyi guntur, angin, api, nyanyian, bisikan lembut dan banyak lagi. Allah menyatakan dirinya dalam ungkapan keharuman, suara, sentuhan, cita rasa dan apa saja yang dapat diterima oleh indera kita.

Aku masih ingat, tanggal 1 Januari 2008. Bagiku 2007 adalah tahun yang berat : studiku yang belum juga selesai, pergumulan untuk terus bertumbuh, pelayanan yang belum menampakkan hasil, belum lagi keadaan keluarga yang semakin menekan.

Waktu itu, aku sedang di perjalanan pulang setelah menghabiskan malam tahun baru di gereja, merasa sangat kacau dan tak tahu harus mengharapkan apa di tahun 2008. Jadi aku hanya bisa menarik nafas panjang dan memandang ke atas, ke arah surga.

Langit sangat biru dan awan begitu putih, matahari sedang berbaik hati karena sinarnya tidak tajam. Hangat.

Dan aku melihatnya,

Sebuah pelangi... 
Pelangi yang besar dan indah.

Seakan Allah berbicara, "Seperti aku memberi pelangi kepada Nuh, pelangi ini kuberikan kepadaMu, untuk mengingatkanmu, aku ini setia. Apa yang sudah kujanjikan pasti akan Kupenuhi"

Seketika hatiku dipenuhi ucapan syukur karena aku tahu apapun yang terjadi di tahun 2008 nanti, Allahku setia, Ia tidak akan pernah meninggalkan aku. Dalam masa sulit mengerjakan skripsi, melayani di gereja dan keluarga, juga menjalani proses pembentukan karakter, pelangi di tahun baru inilah yang selalu kuingat. Dan benar, janjiNya tentang studiku dipenuhi, dengan cara yang extravagant. Aku lulus di tahun 2008 dengan hasil yang beyond my expectation!

Setelah lulus aku pindah ke Jakarta. Pekerjaanku yang lama menuntutku untuk pulang malam. Karena kosku dekat dan kalau kebetulan tidak ada yang mengantar pulang, aku jalan kaki sampai kos. Kadang aku berjalan sambil melihat langit, berharap melihat banyak sekali bintang seperti di Magelang, tempat asalku. Sendirian di Jakarta bukan hal mudah, jadi aku sering mencari hal-hal yang bisa mengingatkanku pada Magelang. Tapi, di Jakarta jarang sekali kulihat bintang. Sepertinya hanya ada satu bintang. Tapi itu cukup karena bintang itu sangat besar dan terang. Saat aku berjalan pulang, aku selalu mencari bintang yang satu itu. Kadang terlihat, kadang tidak. 

Setiap malam saat bintang itu tidak terlihat, aku tetap memandang ke atas karena aku tahu bintang itu sebenarnya tetap ada, dia tidak terlihat karena tertutup awan. 

Seperti janji Allah, kadang seperti tak nyata, tapi janjiNya sungguh ada, akan diperlihatkan tepat pada waktuNya. Seperti Allah, kadang aku tak bisa merasakanNya, kadang Ia seakan diam, tapi Dia ada dan selalu ada.

Lewat bintang itu aku belajar,
Apa yang tidak kelihatan bukan berarti tidak ada.
Aku mau hidup bukan atas dasar penglihatan tapi atas dasar iman.

Bukankah Allah itu romantis?

Ya, bagiku Allah sangat romantis. 
Seperti ketika aku ada masalah dan jalan-jalan ke toko buku untuk menenangkan diri, tiba-tiba di toko itu diputar "Air on the G String" favoritku. Kebetulankah? Aku percaya tidak. Tuhan menghadiahkan lagu itu untuk mengingatkanku, Dia ada menemaniku selalu. Aku sungguh merasakan hadiratNya menyentuhku lembut. Di toko buku itu, aku menangis sembunyi-sembunyi.

Dan aku tahu kenapa Allah memperlakukanku dengan romantis. Karena Dia tahu aku suka diperlakukan seperti itu. Dia sangat tahu aku suka pelangi, bintang dan musik klasik. Dia tahu aku suka langit, awan dan laut. Dia tahu... dan dia ingin mengasihiku dengan cara aku ingin dikasihi.

Sekarang, saat mengingat kembali pengalaman-pengalaman itu, aku sangat bersyukur punya Allah seperti Allahku.

8 comments:

Foni said...

bener juga ya, Allah itu romantis =)
mungkin sy prnh atw bhkn sll mengalaminya, hanya sj sy tdk sadar dan krg peka akan kehadiranNya..
He is sooo GREAT!

dhieta said...

@Foni : Yes, He's absolutely romantic... :') *jadi terharu* mmm, mungkin caranya Tuhan ke Foni beda sama caranya Tuhan ke saya, hehe, jadi bukanny ga peka kok, hanya carany saja yang beda :D btw, foni ada blog juga kah? just want to get to know you better :)

Foni said...

I don't have any kak =(
pgn sih sbnrx..hehe

dhieta said...

@Foni : kalo pengen y bikin aj fon hehehe

Nonik said...

Jakarta emang beda adooooh soko Magelang, opo meneh Purworejo hahaha :D

Tuhan kita memang so WOW ya Mbak....... :)

Dhieta said...

@Nonik: Wah, jadi pengen ke Purworejo :) Pasti dsana juga WOW! :p

Nonik said...

ayo mampir. lha wong cedhak buanget moso ratau mampir wakakakak.

Dhieta said...

@Nonik: Ayok, akhir tahun ya, pas aku cuti :D

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review