6/19/2011

Kekacauan di Titik Nol

Dibagikan oleh Dhieta at 9:29 pm
Honestly, I don’t remember who was my first love. Sepertinya waktu SD aku sudah mulai berpikir bahwa beberapa cowok lebih menarik dari cowok lain, beberapa lebih menyenangkan dan beberapa biasa saja.

But I don’t know if it was love or not.  

Anyway, aku mendapatkan pacar pertamaku di tahun terakhir SMP. But, there was two embarrassing facts. Pertama, dia adik kelasku. Memang sih, umur kami cuma beda setahun, tapi di masa sekolah pacaran dengan adik kelas termasuk dalam things you must not do.

Aku sudah tidak terlalu ingat bagaimana kami bisa saling tertarik. Sepertinya waktu itu kami sering bertemu saat istirahat, di perpustakaan, dan menjadi dekat karena mendiskusikan satu seri ensiklopedi. Suatu hari kami akan membahas ikan-ikan aneh di dasar laut, lalu hari selanjutnya kami mengamati bintang-bintang di galaksi yang jauh, dan hari selanjutnya entah ensiklopedi apa lagi yang kami bahas.
Setelah beberapa lama (mmm, sebenarnya beberapa minggu…), aku pikir aku jatuh cinta.  Oh, cinta, semua rasa campur aduk dan semua pertanyaan itu, uh! Apakah dia juga merasakan hal yang sama? Mmm, sepertinya ya, dia selalu datang ke perpustakaan dan menungguku disana. Tapi, apa lagi perlakuan istimewanya selain itu?

Can you imagine that? You’re a teenager, you’re falling in love, you’re looking for help! And who’s better than a best girlfriend?

So, I talked to my bestfriend and she was very kind giving me suggestion. Dia bilang, “Ungkapkan perasaanmu. Kamu tidak akan tahu bagaimana perasaannya kalau kamu ngga ngomong. tembak aja!”

“Tapi aku kan cewek?,” sahutku waktu itu.

Lalu dia menjelaskan soal emansipasi, soal bukan jamannya lagi cewek hanya duduk menunggu, soal pria pasti akan merasa sangat dicintai kalau kita, para cewek mau berjuang buat mereka. Finally, she said, “Gini deh, at least, kalaupun finally dia bilang ngga, setelah itu kan kamu bisa menjalani hidupmu lagi, then find another guy maybe. Tapi, kalau kamu diem aja, mau sampai kapan kamu menebak-nebak? ”

Reasonable.

Jadi, kulakukan sarannya. Aku tidak cukup berani mengatakannya secara langsung jadi kuputuskan menulis surat. Ooh, looking at his handsome face and say I love you? No way… Jantungku tidak cukup tahan banting untuk melakukannya. That's the embarassing fact number 2, I proposed him!

Keesokan harinya, pulang sekolah kuberikan surat itu. Balasannya kudapat hari selanjutnya. Aku tidak ingat bagaimana perasaanku waktu itu. Apakah aku nervous, takut atau gemetar? I don’t know. Bahkan aku juga tidak ingat seberapa kagetnya aku waktu kubaca jawaban ‘tidak’ dalam suratnya.
                                          
Begitulah, aku ditolak.

Sedihkah aku? Entah. Menangis? Mmm, sepertinya tidak juga. Yang aku ingat begitu aku selesai membaca, aku mengejar cowok itu dan mengembalikan suratnya.

Setelah itu tidak banyak yang berbeda, kecuali rambutku yang kupotong pendek sebagai ekspresi patah hati.

Perbedaan baru tampak beberapa hari setelah itu. Pulang sekolah, dia tiba-tiba mendekatiku dan bertanya apakah aku mau langsung pulang atau masih punya waktu untuk bicara dengannya sebentar. Tapi tidak di sekolah, katanya.

Ah, entah bagaimana, pokoknya yang kuingat kami sudah duduk berhadapan di restoran bernama Es Murni. Ini yang paling kuingat, waktu itu dia memesan es durian :D  Lalu dia menjelaskan waktu itu dia bilang tidak karena papanya belum mengijinkan dia pacaran. Tapi setelah itu dia pikir2 lagi, menurutnya tidak masalah karena papanya toh tidak pernah di rumah (fyi, papanya pelaut yang baru pulang ke rumah beberapa bulan sekali). Jadi, dia bertanya apakah dia masih punya kesempatan J

Singkat kata, akhirnya kami pacaran. Sampai aku lulus dan masuk SMA. Sebenarnya SMAku bersebelahan dengan sekolahku dulu. Jadi kami tidak bisa dikatakan berpisah jauh. Tapi masa dengan seragamku yang putih abu-abu, aku pacaran dengan cowok berseragam celana pendek biru? Lagipula, look at the new boys in the class, they were so mature and cool!!! Beberapa teman mulai tahu kalau aku punya pacar di SMP, tapi saat mereka bertanya, “Dia pacarmu?”, kujawab saja,”Mantanku.”

Sepertinya dia mendengar kalau aku menyebutnya mantan. Tapi dia diam saja. Diam, benar-benar diam. Begitu juga aku. Kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Jadi, sepertinya kami putus. Iya, putus, begitu saja. Walaupun akhirnya dia masuk ke SMA yang sama denganku, tidak ada yang berubah. Kami memang putus begitu saja.

Please, don’t be upset if the ending was antiklimaks.

Anyway, mungkin cerita ini seperti tidak penting. Tapi aku hanya ingin menunjukkan bahwa perjalanan mendapatkan pasangan hidup ini kumulai dari nol, benar-benar nol. Aku sama sekali tidak tahu prinsip-prinsip tentang Love, Dating and Sex yang benar.

You can see, sebagai cewek, aku punya kecenderungan tidak sabar. Aku bukan tipe yang suka berpikir panjang. Aku sangat dikendalikan oleh emosi. Tidak heran kalau akhirnya aku yang nembak cowok itu duluan. Walaupun itu juga karena aku tidak tahu kalau dalam blueprint Allah, seharusnya cowok yang jadi inisiator karena dia yang sudah ditetapkan sebagai pemimpin. 


Selain itu, aku tidak keberatan dengan model backstreet yang dia tawarkan. memang sih, kedua orang tuaku tahu kalo gadis kecilnya ini sudah mulai coba-coba pacaran. Tapi saat dia melanggar perkataan ayahnya, aku membiarkannya. Waktu itu aku sama sekali tidak tahu dengan konsep otoritas orang tua. Aku tidak tahu kalau backstreet berarti melanggar otoritas orang tua dan juga wujud dari tidak menghormati mereka. Aku benar-benar tidak berpengalaman dan berpengetahuan.

Hal lain, aku tidak sungguh-sungguh mengenal cowok itu (kami baru ngobrol beberapa minggu, itupun hanya saat istirahat). Bahkan, aku tidak tahu kenapa dan buat apa aku pacaran, selain fakta kalau aku tertarik padanya. Yang paling parah, aku tidak tahu arti komitmen. Jadi meskipun kami sudah sepakat, waktu aku merasa aku tidak ingin pacaran lagi, ya sudah, ku anggap kami sudah putus.

Oh oh, kacau sekali...

Tapi tenang, itu baru awal. Penting digarisbawahi disini, pada tahap ini aku belum lahir baru. Kekacauan ini adalah kekacauan manusia lama. The moral is, it’s ok to make a mistake as long as you learn from that mistake, and not do that again in the future. Next, kita lihat apa yang akan terjadi setelah aku lahir baru. Banyak yang Tuhan bukakan seiring dengan pembaharuan budiku. Apakah aku sungguh belajar? Apakah masih ada kekacauan-kekacauan lain yang kubuat atau apakah semua sudah berjalan sesuai tracknya?

It’s another story!



p.s. : Post ini adalah bagian dari My Own Serendipity, perjalananku dalam bergumul mengenai pasangan hidup. Bagian-bagian cerita yang lain bisa dilihat di sini.

5 comments:

Nonik/Louisa said...

aaaah cinta pertama kita memang selalu punya cerita hueheheheh :D

dhieta said...

iyaaa, tapi klo boleh ngulang pengenny yg ini diapus ajaaa... punya sejarah 'pernah nembak duluan' itu rasanya piyeeee gtu :D

Nonik said...

rasanya piye?? malu-malu bangga hahahaha.

armitridesi said...

ka dhiet kadhiettt, holla ka dhietaa, sdh lama sekali rasanya ga ngintip2 blog kk... hmm.. memang bahagia itu sederhana, bisa baca2 tulsan kk yang selalu menarik dan asik, meskipun di tengah malam menjelang pagi.... aku udh baca smw tntang "my own serendepity" nya kk. woww seruuuu, ditunggu kisah selanjutnya kaaa:D. Bless u..:D

Dhieta said...

ahahaha.... iya ya, udah lama ga toel2an sama desi :p my own serendipity nya belon finish juga nih :p sabar yooo^^ Bless you too des :)

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review