6/12/2011

My Wedding First Kiss

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 2:21 am
Hidup di Paris, yang di kenal sebagai the most romantic city in the world, berarti harus siap melihat dan merasakan ekspresi cinta di mana-mana. Mulai dari penjual bunga yang bertebaran di seluruh kota, sampai pasangan – homo maupun hetero^^ - yang berciuman tanpa peduli sekitar. Hmm, I can mention, ciuman itu mulai dari kecup yang cuma sedetik sampai ciuman yang berdurasi ‘agak’ lebih lama (could I say it, French Kiss?), di caf√©,  restoran, metro, bis kota hingga trotoar pinggir jalan.

            Saking seringnya, aku yang tadinya biasa saja akhirnya mupeng juga, hahaha. Sampai suatu ketika terlontar pertanyaan, “Emang gimana sih rasanya dicium?” Dan temanku yang berdiri di sampingku hanya bisa terheran-heran, “Kamu belum pernah?” Aku menggeleng, sepertinya dengan tampang innocent, “Belum.” Aku bisa membaca kalau dia agak kaget dengan jawabanku.

            Aku jadi ingat salah satu teman cowokku di kantor. Pernah suatu ketika, entah kenapa, dia pengen banget difoto dengan cewek-cewek. Hmm, tipikal jomblo yang ingin berlagak keren sepertinya :) Anyway, karena kami baru selesaigala dinner di hotel bintang 4 – dengan gaun dan setelan batik – iseng-iseng kami berpose berdua seperti foto prewedding. Tidak macam-macam kok, aku hanya duduk dan dia berdiri agak di belakangku dengan sekuntum mawar di tangannya. Ok, dia memang memandang ke arahku seakan ingin memberikan mawar itu, tapi, aku tetap saja melihat ke arah kamera (gara-gara penyakit narsis pangkal eksis!)

            Lalu setelah beberapa frame di ambil, tiba-tiba, dia bilang “Yuk, kita pose ciuman,” sambil langsung mendekatkan mukanya ke arahku.

            Aku kaget dan lari sambil berteriak ketakutan.

            Dia terkaget-kaget, tidak menyangka reaksiku seheboh itu.

            Kalau tidak salah waktu itu dia juga menanyakan pertanyaan yang sama, “Lo belum pernah?” Dan aku menjawab dengan grade of innocent yang sama, “Belum”

            Sekarang, gantian dia yang kaget mendengar jawabanku.

            Jadi, kesimpulannya seperti ini, Yes, I’m 24, almost 25 and I’ve never been kissed. Does it really matters? If the answer is “No, it doesn’t” then why people have to be so surprised?

            Mungkin karena mereka belum tahu alasannya. Well, buat aku ciuman bukan hal yang sederhana. Itu adalah ekspresi keintiman yang didasari oleh komitmen. Ok, I know, pacaran itu juga komitmen. Tapi untukku pribadi, Kiss is special, even precious. Dan seperti kulit ayam KFC yang dimakan belakangan, ciuman ini juga kusisihkan untuk diberikan di saat terakhir. I save the best for last.

            I’ve made a promise...

            I’ll give my first kiss, only for my future husband, in the altar, on our wedding matrimony.

            Apakah seperti ada balok menimpa kepalamu ketika mendengar janji seperti ini? :p

            Well, janji – aku lebih suka menyebutnya komitmen – itu kubuat sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu di salah satu kelas pemuridan di Gerejaku di Semarang, Gereja Bethel Tabernakel Alfa Omega. Waktu itu kami belajar tentang, Love, Dating and Sex, dan kami ditantang untuk menjaga kekudusan sampai kami melangkah ke pernikahan. Ko Yogi, gembala pemuda kami waktu itu mengatakan, “Bagi orang lain, no sex before married is enough, tapi kalian, you have to live with higher standard. Say no to kiss before married!

            Lalu kami di tantang untuk membuat komitmen, menyimpan ciuman pertama kami sampai nanti kami berdiri di altar, di hari pernikahan kami. Aku meresponi tantangan itu.

            Waktu itu Ko Yogi bicara dalam konteks menjaga kekudusan.

            Waktu itu aku juga berpikir, menyimpan ciuman pertama-ku sampai hari pernikahan adalah penting kalau aku mau jadi kudus di hadapan Tuhan. Tapi, seiring berjalannya waktu, kudus bukan cuma soal itu. Kita bisa saja menyimpan ciuman pertama kita sampai hari pernikahan, tapi jika kita tetap jatuh dalam dosa di bagian lain, seperti perkataan, kepahitan dan lain-lain, apa artinya?

            Sekarang, tentu saja aku tetap berusaha menjaga kekudusan dalam segala hal dalam hidupku, tapi komitmen tentang ciuman pertama itu lebih sebagai momentum. Aku percaya, pasangan hidupku nanti adalah pria terbaik yang Tuhan sediakan. Begitu baiknya sampai aku harus menunggu sekian lama dan menempuh jalan begitu panjang dengan proses yang begitu berat. Deep inside my heart, aku percaya pria terbaik ini juga telah menempuh proses yang sama: lama, panjang dan berat.

            Aku hanya berpikir, pria yang terbaik untukku ini, layak mendapatkan yang terbaik dariku. Bahkan dalam soal seperti ciuman pertama. Ok, untuk soal ini, bisa saja yang pertama tidak menjadi yang terbaik. Tapi yang pertama selalumemorable. Itu adalah simbol, semacam monumen. Dan ciuman pertama yang kuberikan itu not as simply about how I do it, or how it feels, but the story inside.Ciuman pertama itu adalah tentang bagaimana selama bertahun-tahun ini aku mendoakan pria terbaik itu, bagaimana selama bertahun-tahun ini aku mempersiapkan dan dipersiapkan untuk dia. Ciuman pertama yang kusimpan ini adalah tanda, bahwa pria terbaik ini sudah menjadi bagian dalam hidupku bahkan jauh sebelum kami bertemu. Ciuman itu adalah tanda bahwa hatiku sudah menjadi miliknya bahkan sebelum kami saling menatap dan menyebut nama untuk pertama kalinya.

            Mungkin akan muncul pertanyaan, tapi toh pacarmu akan jadi suami kan? My answer is, siapa yang menjamin? Itu hanya bisa diketahui, saat kami berdua sudah berdiri di atas altar, janji pernikahan sudah diucapkan, dan pendeta sudah mengangkat tangannya, melepaskan berkat sambil berkata, “Hari ini atas nama Gereja Allah dan dihadapan para saksi dan hadirin sekalian, saya menyatakan kalian sebagai suami istri dan perkawinan yang telah diresmikan ini adalah perkawinan Kristen yang sah. Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.” Pada saat itu, baru aku tahu siapa pria terbaik yang Allah sediakan untukku.

            Mungkin prosesnya tidak sederhana. Mungkin jalan menuju komitmen untuk menjalin hubungan tidak gampang. Mungkin juga, saat kami sudah menjalin hubungan dan akan melangkah ke pernikahan, kami tetap harus berjuang dengan keinginan untuk menjadi intim terlalu awal. Jujur saja, sampai saat ini, aku bahkan tidak punya gambaran siapa pria terbaik itu. Entah siapa, tapi aku cuma mau bilang (hehe, siapa tahu dia baca), “You deserve the best from me. When we have a commitment later, please don’t kiss me. But help me to make this dream come true: giving my wedding first kiss for you”



Cortambert, 19 Januari 2011

8 comments:

Lia said...

kereeeen!! tak dukung komitmenmu say... :) my first kiss juga pas wedding ^^

dhieta said...

:)

doain ya ci, soalny kalau soal pengendalian diri ak masih harus harus harus belajar banyak hahaha...

iyaa, ak udah liat foto weddingnya ci lia, jd terharu...

cynthia ayuningtyas said...

salam kenal ka' dhita..
(i'm blogwalking :))

inspiring...pngin bisa -> my first kiss is my wedding kiss
hehe.. *main donk ke blogku :)

cynthia ayuningtyas said...

bagus, kak :)

Dhieta said...

@cynthia: hai, cyn :) pasti bisa kok, tergantung komintmen aja kan? hehe... eh , ak udah maen loh ke blog mu, tapi blm komen2 emang :p thanks udah baca2 blog ku yah...

wina said...

mba ditaa.. waaa.. baru baca yang ini jugaaa...
samaaa... hekekekkekeke
jadi pengen lbh lama di lobi gumaya smbil crt2 :))

Dhieta said...

@wina :kmrn ak cerita k rest soal pernikahan sperti apa yg ak pengen,prnikahan yg penuh hadirat Tuhan,smpe klo ada keluarga yg mau cerai dateng k pernikahanku mrka ga jd cerai,klo ada keluarga yg hubunganny dingin - kasihny diperbaharui, klo single2 yg dateng - mereka tahu bhw lebih baik menunggu seumur hidup untuk pria yg tepat daripada menyerah karena tuntutan dunia :) dan pernikahan seperti itu cuma ada klo pacaranny kudus. Weeewww!!!

Farha ELein said...

hi,, mbak dhieta... aq bru baca tulisan ini,huehehehe...

mbak, aku dukung 100% komitmennya!!
Aku jg buat komitmen itu, my 1st kiss is my wedding kiss,,

aku baca tulisannya Ci Lia soal i2 di blognya dan pas baca buku When God write Your love story ,, aku sdar bhw jaga kekudusan sblm merid, bukan hanya soal fisik doang, tp jg secara emosional...
Jd, aq buat komitmen itu,, walo benar spt kta mbak, qt gak tau bgmn jadinya nanti, tpi aq yakin klo qt terus bersandar sm Tuhan, pasti qt bisa.

Mbak Dhieta,, AZA AZA FIGHTING!! huehehe,,

Gbu

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review