6/13/2011

Batas Kesabaran

Dibagikan oleh Dhieta at 1:07 pm
Diantara puisi-puisi yang kutulis sewaktu aku masih mahasiswa, ada salah satu yang mempertanyakan soal batas kesabaran. Pada waktu itu kutulis begini:

adakah cinta berbatas?
setipis harapan atau
seluas kesabaran?
berbataskah harapan?
berbataskah kesabaran?
jika jawabnya menanti
apakah penantian berbatas?
pada apa?
waktu, rasa atau duka?

Ok, ok, puisi itu memang tentang cinta: an old story about falling in love with my best friend and all I could do was just wait and pray and finally found that God answer was NO (aku pernah menulis tentang berkat di balik jawaban TIDAK itu disini) Kedengaran sedih ya? Mmm, tidak seburuk itu kok. Pengalaman waktu itu sangat mendewasakan dan sekalipun misalnya aku bisa memutar waktu, aku tidak ingin mengubah apapun. Bersyukur kami masih bersahabat sampai sekarang, walaupun untuk itu kami tetap butuh waktu untuk membuat semuany back on the right track. Oh iya, sahabatku itu akan menikah tahun ini and I'm really happy for him and his fiancee...

Lho lho lho, kok malah jadi curhat??? Baiklah, sudah cukup nostalgianya and let's just go back to the main agenda...

Jadi, kalau benar kesabaran batasnya adalah waktu, maka kita boleh berhenti bersabar kalau kita merasa kita sudah cukup lama bersabar. Lalu kalau batas kesabaran adalah rasa, maka kita boleh berhenti bersabar kalau kita merasa kita sudah tidak ingin bersabar. Terakhir, kalau batas kesabaran adalah duka, maka kita boleh berhenti bersabar kalau kita merasa kita sudah terlalu menderita.

Benarkah begitu?

***

Selama ini, kesabaran tidak pernah menjadi sahabatku. Dia adalah sejenis makhluk asing dan perlu waktu bertahun-tahun untuk mengenalinya. Itupun lebih karena terpaksa. Iya, Tuhan memaksaku berkenalan dengan kesabaran.

Caranya sederhana, ia mengajakku bergumul dengan jawaban doa. Si anak bungsu yang selalu mendapatkan apa yang ia mau pada waktu yang ia mau, kini harus belajar menunggu. Awalnya, Ia melatihku menunggu beberapa minggu, lalu Ia mulai merentangkan waktu menunggu itu menjadi beberapa bulan, hingga akhirnya Ia melatihku menunggu hingga beberapa tahun.

Hal tersulit adalah ketika Dia bilang, "Iya, anakku, aku akan memberikannya tapi tidak sekarang, tunggu ya..."

Lalu dengan manis aku akan bilang, "Iya, Tuhan, aku akan menunggu..." Setelah itu, tentu saja waktu berlalu, tapi paket dari surga yang Ia janjikan tidak juga datang (mungkin malaikat yang ditugaskan oleh divisi pengiriman berkat justru tersesat entah kemana) Lama-lama my sweet attitude berubah jadi rushing attitude dan yang ada di otak, hatiku dan mulutku adalah "berapa lama lagi, Tuhaaaannn??"

Mungkin itu seperti Daud waktu ia bilang, "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?" (Mazmur 13:1-2)

Berapa lama lagi, Tuhan?

***

Ketika akhir-akhir ini pertanyaan, “Berapa lama lagi, Tuhan?” itu muncul, aku diingatkan pada sebuah khotbah dari gembalaku Ps. Billy Njotorahardjo.

Waktu itu dia bercerita tentang pengalamannya memancing bersama beberapa rekan hamba Tuhan lain di gereja kami. Mereka naik perahu ke Teluk Jakarta dan mulai memancing sambil berharap mendapatkan hasil yang baik. Namun sampai menjelang sore, Pak Billy belum juga mendapat tangkapan yang bagus. Sampai akhirnya, ia merasa ada ikan yang memakan umpannya dan menarik tali pancingnya dengan kuat. Sepertinya itu ikan yang besar!

Pak Billy mulai menarik pancingnya. Tapi sia-sia, ikan itu memberontak dan terus memberontak. Ia berenang ke sana kemari. Pancing Pak Billy sudah melengkung tapi ia tetap menahannya. Perahu terus mengikuti kemana ikan itu bergerak. Menit demi menit pun berlalu. Lama-lama pak Billy merasakan tangannya mulai pegal. Keringatnya sudah bercucuran. Terlintas di pikirannya, lebih baik ia menyerah. Toh sebelumnya, ia sudah mendapat beberapa ikan. Toh ia tidak akan pulang dengan sia-sia.

Tapi, tidak, pikirnya. Ia tidak boleh kalah dengan ikan itu. Apalagi rekan-rekan yang disekelilingnya juga memberi semangat. Pak Billy mulai meneguhkan hatinya. Ia berkata dalam hatinya, “Ok, ikan, aku akan bertahan, kita lihat siapa yang lebih kuat, kamu atau aku.”

Pak Billy bertahan, tanpa tahu kapan ‘pergumulan’nya itu akan berakhir. Kadang dia menarik, kadang dia mengulur. Lengannya pegal, jari-jarinya sakit dan kakinya mulai capek berdiri. Saat itu, ia juga bertanya, “Berapa lama lagi, Tuhan?”

Ia tidak tahu jawabannya. Ia hanya bertahan.

Sampai akhirnya gerakan ikan itu mulai melambat. Pak Billy menarik pancing. Sedikit demi sedikit. Kekuatan lengannya sudah tidak banyak. Ikan itu mulai terangkat. Pelan-pelan. Dan ia hanya bisa terkaget-kaget, ikan itu adalah ikan terbesar yang pernah ia tangkap. Lagipula ikan jenis itu, dengan ukuran sebesar itu tidak seharusnya ada di teluk Jakarta

Pak Billy sangat bersukacita.

Merenungkan kejadian itu, Pak Billy bertanya, “Tuhan, engkau ingin aku belajar apa?” Tuhan hanya menyahut singkat, “Sabar, nantikanlah Aku, nantikanlah waktuKu”

***

Menantikan jawaban doa bisa jadi sebuah pergumulan yang berat. Menantikan waktu Tuhan mungkin seperti berjalan di dalam pipa sampai entah kapan kita menemukan cahaya di ujungnya. Tapi, dengan kesabaran kita pasti akan sampai ke ujung jalan. Ia akan memberi upah atas kesabaran kita. Seperti Abraham, ia menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya (Ibr 6:15).

Jadi apakah kesabaran ada batasnya? Of course, tentu saja. Ada waktunya kita sudah tidak perlu bersabar, tapi itu bukan saat kita merasa kita sudah tidak sanggup, bukan saat kita merasa sabar sudah jadi terlalu menyakitkan. Batas kesabaran kita adalah saat waktu Allah sudah dinyatakan, saat Ia sudah turun tangan, saat jawabanNya sudah kita terima. Batasnya ada di ujung jalan, ketika masih di tengah jalan bagian kita adalah bertahan dengan sabar.
 

Jakarta, Juni 2011

P.S : Khotbah pak Billy itu kudengar awal tahun 2010, salah satu khotbah yang membuat aku bisa bertahan dengan sabar dalam masa sulit yang kusebut ‘padang gurun’. Dua khotbah lain dengan pengaruh yang sama kudengar dari Ps. Jeffrey Rahmat dan Ps. Edward Supit yang bisa dibaca disini.

0 comments:

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review