6/12/2011

Paris On My Dream

Dibagikan oleh Dhieta at 1:16 am
Pagi ini, untuk ke sekian kalinya aku menyusuri Rue Perronet menuju Rue Cortambert. Udara cukup hangat, tidak terlalu berangin tapi gerimis yang lembut turun. Jalanan penuh daun-daun berwarna kuning dan cokelat.

Lalu untuk kesekian kalinya, kalimat itu terlintas lagi di kepalaku, “Aku benar-benar di Paris” Samar, aku tersenyum sendiri.

Aku masih ingat, saat aku dengan berani menuliskan kalimat ini di dalam diaryku: “I do really want to go to Europe. Someday, I know I will.” Waktu itu aku baru kelas dua SMA. Usiaku 16 tahun. Aku hanya tipikal remaja biasa dari keluarga biasa pula. Kami tinggal di kota kecil dan jika bepergian ke ibukota saja membuat kami harus menabung sekian lama, maka pergi ke Paris benar-benar seperti mimpi tidak tahu diri.

Tapi entah sejak kapan, London, Madrid, Roma, Asterdam sering mengisi pikiranku. Dan antara semuanya itu, Paris selalu jadi mimpi terbesar.

Aku masih ingat, beberapa tahun lalu saat masih di sekolah menengah, aku pernah menempelkan gambar menara Eiffel di diaryku sambil berkata, “Tuhan, aku pengen ke Paris.”

Aku masih ingat, saat aku membuat miniature Menara Eiffel dan Arc De Triumph dari kertas yang polanya aku download dari internet.

Aku juga masih ingat, kartu pos milik Paman bergambar Kathedral Notre Dame yang kuminta dan kusimpan baik-baik, kuletakkan dalam apa yang kusebut kotak harta – kotak panjang kecil berisi semua benda yang menurutku menarik dan layak disimpan: kelopak-kelopak mawar, surat-surat, biji-bijian, kartu pos, gambar-gambar, artikel dan banyak lagi. Kartu Pos itu dikirim oleh sepupuku yang menjadi wartawan dan ditugaskan ke Paris.

Aku masih ingat, saat aku membuat beberapa teman-temanku bosan karena selalu bilang, “Nanti, kalau aku di Paris….” Dan mereka bilang aku hanya bermimpi.

***

tapi aku menyimpan mimpi-mimpi itu bahkan sampai bertahun-tahun. Suatu hari, di usiaku yang ke 23, keberanian bermimpi ini ditantang oleh buku The Lady In Waiting. Salah satu bagiannya bercerita tentang Maria yang membasuh kaki Yesus dengan minyak yang mahal lalu menyekanya dengan rambutnya. Konon, minyak yang ia gunakan itu adalah minyak yang berasal dari kotak batu pualam putih. Kotak batu pualam putih ini dimiliki oleh setiap gadis di Israel yang belum menikah untuk diserahkan kepada calon suaminya nanti. Well, dalam pikiran saya, itu seperti simbol kegadisan. Ketika Maria memilih untuk memecahkan kotak batu pualam putihnya dan mempersembahkan minyaknya kepada Kristus, ia sebenarnya sedang meresikokan mimpinya untuk berkeluarga. Tapi baginya, menyenangkan Kristus adalah perkara utama sementara mimpinya adalah perkara nomor ke sekian.

Bab mengenai kotak batu pualam putih Maria itu di akhiri dengan pertanyaan, apa mimpimu yang masih kau simpan rapat di dalam kotak batu pulam putih dan belum kau pecahkan di bawah kaki Kristus???

Untukku pribadi, salah satu mimpi itu adalah pergi ke Eropa. Eropa sudah ada di pikiranku sejak lama. Mungkin sejak aku punya buku dongeng pertamaku dan membayangkan padang bunga kuning, rumah pertanian dengan sungai kecil dan tentu saja, salju yang turun di malam Natal.

Tapi lewat buku itu aku diperhadapkan pada kondisi untuk menyerahkan mimpiku menginjakkan kaki di Eropa kepada Tuhan. Itu berarti seandainya Tuhan tidak menghendaki mimpiku menjadi nyata, aku harus bisa menerima. Aku sama sekali tidak punya hak untuk protes karena mimpi itu sudah bukan milikku lagi.

Pada awalnya sulit untuk bisa memecahkan kotak batu pualam putih itu. Butuh berhari-hari untuk bisa menyerahkan mimpi itu. Butuh berhari-hari sampai aku bisa mengatakan, “Baiklah Tuhan, tidak ke Eropa pun tidak apa-apa. Aku tidak akan kecewa.”

Setelah doa itu apakah ada yang berubah? Tidak juga. Aku masih memimpikan Paris. tapi setidaknya aku akan berdoa tentang Paris setelah aku mendoakan pokok-pokok doa lain yang seharusnya menjadi prioritas. Aku masih memimpikan Paris, tapi Paris bukan lah menjadi tujuan utama dalam hidupku.

***

Akhirnya aku memang ke Paris…

Bagaimana?

Entahlah. Sekarang aku hanya bisa bilang itu anugerah.

Kementerian Luar Negeri memang menjadi pintu untuk ke Paris. Kami, para diplomat junior mendapat kesempatan untuk magang selama tiga bulan setelah menyelesaikan pendidikan diplomatic dasar selama tujuh bulan. Tempat magang kami selama 3 bulan itu adalah 119 perwakilan Indonesia di luar negeri. It can be everywhere.

Malam sebelum pengumuman tempat magang diumumkan, aku dan Mbak Mila, teman sekamar di asrama sekaligus saudara PA-ku mengobrol seperti biasa. Waktu itu aku bercerita, “Selama ini Tuhan memberi setiap detail mimpi yang aku punya. Bisa bekerja di toko buku favoritku adalah cita-cita dari kecil, dan itu Tuhan beri. Masuk ke Kemlu agar bisa ke luar negeri pun sekarang Tuhan beri. Jadi sebenarnya, kalau besok ternyata Tuhan beri Paris, agar mimpiku menulis puisi disana bisa jadi nyata, aku tidak tahu harus bilang apa, aku cuma merasa Tuhan sungguh tidak main-main dengan hidupku”

Tapi aku tahu itu hampir tidak mungkin. Dari kabar yang beredar, sudah ada dua orang yang ditempatkan di Paris, tidak ada tempat lagi disana. Jadi aku mengira aku akan mendapat Brussels. Di angkatan yang lalu, untuk rangking yang kudapat sekarang ditempatkan di Brussels. Baiklah, Brussels pun tidak apa-apa, hanya beberapa jam naik ke kereta dan aku sudah bisa menginjakkan kaki di Paris. Tapi pasti akan lebih menyenangkan bisa tinggal di sana selama 3 bulan.

Keesokan harinya, belum sampai ke namaku, sudah dua orang mendapat Brussels. Jadi aku dimana? Pada waktu itu, aku benar-benar tidak tahu akan ditempatkan dimana. Tapi Direkturku jelas-jelas mengatakan, “Mekar Andaryani Pradipta, KBRI Paris.”

Dan aku seperti mendapatkan sebuah kecupan dari Surga.

Mbak Mila yang duduk di sebelahku memelukku dan bilang, “Tuhan memang tidak main-main dengan hidupmu.”

Aku speechless.

Teman-temanku pun speechless. Mereka yang tahu betapa selama ini aku memimpikan Paris hanya bisa terpesona dengan perbuatan Tuhan. Mereka bilang, “Kami tidak akan se-amazed ini kalau Mbak Dita mendapat Jerman, Itali, Spanyol atau bahkan Inggris atau apapunlah, negara lain di Eropa mungkin. Tapi ini Perancis. Ini beda, ini mimpimu. Tuhan ajaib.”

Dan aku tidak bisa memberi penjelasan apapun. Mendapatkan Paris adalah anugerah.

Satu hal yang kupegang, setelah aku mendapat Paris, adalah seperti yang dikatakan Mbak Mila sebelum ia pulang ke Bandung setelah pengumuman tempat magang itu, “Kalau Tuhan sanggup memberi Paris, apalagi yang lain, itu soal gampang buat Dia. Pegang terus janji Tuhan ya.”

Dari peristiwa ini aku mengenal Allah sebagai seorang Dream Maker.

Aku hanya bertanya-tanya, kalau memang Tuhan akan memberiku mimpi itu. Kenapa waktu itu Ia menantangku untuk menyerahkannya pada Tuhan. Kenapa Ia menantang sikapku kalau-kalau mimpi itu tidak terjadi. Mungkin Ia ingin mengajariku, hidupku ini bukan lagi tentang apa yang aku mau, tapi tentang apa yang Ia mau, terserah dia mau melakukan apa dengan hidupku. Mungkin Tuhan juga ingin mengajarku bahwa semua yang aku miliki, termasuk mimpiku seharusnya dipersembahkan sebagai korban bakaran di altarNya, menjadi milikNya. Jadi aku berpikir, karena apa yang aku dapat sekarang sesungguhnya adalah milik Tuhan, kalau ternyata suatu hari nanti Tuhan memintanya kembali, aku tahu aku tidak boleh memegangnya erat-erat. Biarlah menyenangkan hatiNya jadi mimpiku yang terbesar.

Perronet, Januari 2011

7 comments:

gingerkempling said...

dit jadi curhat....
nie whahahahahaha keep dreaming girl...ami

dhieta said...

@ami: haha, klo blog yg ini emang isiny curhat mi... :p you too yaa, keep dreaming too...

Nonik said...

Dhietaaaaaaaaaa. I CAN FEEL EVERYTHING, EVERYTHING. aaaah. aaaaah aaaaaaaah. I'm so damn happy for you :') note mu ini Dhiet, menguatkan bangeeet....

Aku jadi serasa ditantang lagi utk menghancurkan kotak pualam putih itu di bawah kaki Tuhan.

Dhieta said...

@ Nonik : Wakakakak, aaaah-nya banyak bener :p

Keren ya Tuhan itu, Nik... Aku aja klo baca note ini masih speechless :')

Sampe sekarang aja aku juga masih terus ditantang buat menghancurkan kotak batu pualam putih itu loh. Soalny kadang klo yang satu udah dipecahin, aku suka bikin kotak baru, banyak pula, hahaha...

wina said...

wow.. so inspiring :)

ester11zone said...

ahhh...jadi pengen ke paris dhietaaaa... :)
pecahkan batu pualam putih mimpimu di kakiNya :)
love this quote

Dhieta said...

@ester: Iyaaa, ter, someday you will... jadi ingat setiap saat aku hancur hati karena harus memecahkan batu pualam putih itu, tapi it's all worth it, Dia menaruh mimpi itu di tempat yang aman, tanganNya sendiri :')

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review