6/12/2011

Visi Pelayanan Literatur

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 2:25 am
Beberapa hari ini aku sedang menyibukkan diri dengan membaca semua note yang dibuat oleh Grace Suryani. Grace adalah seorang penulis rohani yang sudah menerbitkan (kalau tidak salah :p) empat buah buku. Salah satu bukunya, Tuhan Masih Menulis Kisah Cinta, ada di rak buku-ku. Aku menemukan beberapa tulisanny di Gloria.net, tapi sepertinya sekarang dia lebih aktif di facebook pagenya (klik disini)

Membaca tulisan-tulisan Grace mengingatkanku pada kerinduan yang beberapa tahun ini Tuhan tanam di hati: menjadi penulis rohani. Lalu sepertinya akan menyenangkan untuk membagikannya...

Entah sejak kapan kerinduan ini ada. Yang jelas menulis memang menjadi salah satu passion terbesarku selain membaca :p Tapi kenapa penulis rohani? Mmm, entahlah. Awalnya hanya karena kebiasaan curhat di diary. Fyi, aku mulai menulis diary sejak smp, tapi berakhir di keranjang sampah karena aku tidak kuat membacanya lagi (well, kinda first broken heart story with your smart handsome popular senior :p) 

SMA kelas 1 aku mulai menulis diary lagi. Diary pertamaku berwarna biru. Isinya? Hmmm, segala macam. Gambar2 yang kuanggap bagus (biasanya gambar suasana Eropa, mimpi terbesarku waktu itu), quote, puisi atau apapun yang kuanggap menarik. Dan tentu saja cerita tentang kehidupanku. 'Kehidupanku' disini kebanyakan adalah tentang perasaan "terpendam" pada salah satu teman gereja (buat yang tahu siapa, sudah jangan dibahas wkwkwk). Sampai akhirnya aku menerima Kristus dan dimuridkan oleh Mba Tatik dari Perkantas Magelang, dialah yang meletakkan dasar kerohanianku termasuk  melatihku membuat jurnal saat teduh, mencatat khotbah, dan apapun tentang Allah yang aku dengar, lihat dan rasakan. Sejak saat itu isi diary ku berubah...

Diaryku sekarang adalah kisah perjalananku bersama Allah.

Lalu entah bagaimana kerinduan itu muncul, sepertinya menyenangkan bisa berbagi berkat melalui tulisan. Apakah ini panggilan? I don't know, it just came naturally, I think. Sampai kemudian, aku menemukan sebuah buku yang meneguhkanku, judulnya Visi Pelayanan Literatur (Antoni Stevens, Yayasan ANDI, Yogyakarta 1989) Sepertinya aku menemukan buku itu di tahun terakhirku kuliah, di salah satu festival buku tahunan. Buku itu ada di tumpukan buku-buku obral dengan tipikal sama: tua dan kusam. Buku itu tipis saja dan harganya murah, sepertinya hanya sekitar 5000 rupiah. Tapi melalui buku itu aku banyak belajar bahwa tulisan bisa jadi sarana yang efektif untuk misi Kekristenan dan Allah memanggil mereka yang memiliki talenta ini untuk ambil bagian dalam pelayanan literatur.

Jangan bayangkan bahwa pelayanan literatur itu sama dengan menulis buku theologi yang berat-berat dan penuh dengan kutipan ayat dan makna-maknanya dilihat dari bahasa yunani dll, Pelayanan literatur juga bisa berwujud kesaksian, puisi, cerpen, novel atau bahkan kumpulan jokes. Aku sendiri sepertinya lebih tertarik pada creative writing (cerpen, novel, puisi) dan feature writing (artikel ringan seperti kesaksian dan sharing tentang suatu hal).

Aku tahu saat ini aku sudah punya pekerjaan yang cukup menjanjikan. Tapi aku tidak ingin pekerjaanku sekarang membuatku melupakan kerinduanku dalam pelayanan literatur ini. Lagipula kerinduan ini pula yang kutulis dalam "kertas visi" yang sampai sekarang masih kusimpan di alkitabku. Kertas visi itu kudapat dalam ibadah wisudawan di persekutuan kampus dulu. Pada waktu itu, Mas Dani, salah seorang alumni yang menjadi pembicaranya.

Dia membagikan bahwa hidup yang berhasil bukanlah tentang pendidikan yang kau tempuh, karir yang kau jalani, atau pria/wanita yang kau nikahi. Hidup yang sukses adalah ketika kita, dengan hidup kita, menggenapi apa yang menjadi maksud dan rencana Allah. Seperti Daud: menggenapi panggilan Allah bagi generasinya. Lalu dia berbicara tentang visi, apa yang kita ingin capai di kemudian hari. Dia mengarahkan kami untuk menulis sesuatu yang spesifik dan bukan semacam 'hidup melayani dan memuliakan Allah'. Sesuatu yang spesifik akan membuat kami lebih fokus dan terarah dalam mencapainya.

Waktu itu aku menulis, menjadi penulis fiksi Kristiani atau bernilai Kristen.

Aku tidak menulis, menjadi diplomat sukses :p, aku juga tidak menulis melakukan perjalanan keliling dunia, aku bahkan tidak menulis menjadi istri hamba Tuhan (haha...). Aku hanya ingin menjadi penulis untuk kemuliaanNya.

Dan sekarang aku masih mengejar visi itu, sedikit demi sedikit. Sampai saat ini aku masih lebih mudah untuk membagikan pengalaman pribadiku sendiri, seperti yang kutulis di blog ini. Tapi nanti, aku memimpikan di salah satu rak Gramedia ada novelku didisplay disana :D Sampai saat itu, aku akan sangat senang jika ada yang mau membaca kemudian meresponi tulisan-tulisanku, membagikan apa yang mereka dapat darinya atau bahkan memberikan saran dan kritik untuk perbaikan di kemudian hari (berasa sedang menulis artikel ilmiah hehe)

Anyway, Sianne Ribkah, penulis Before 30 - biografi Pastor Philip Mantofa, pernah menulis artikel berjudul Ode Untuk Para Penulis yang berisi tantangan buat mereka yang punya talenta menulis untuk serius mengasah dan menggunakannya melayani Allah. Well, aku sudah mengatakan iya, ada lagi yang berminat?

Den Haag, April 2011

2 comments:

Lia said...

dhiet, di blogku ada pnulis2 novel tuh, kenalan gih... namanya rina sama stephanie zen.

dhieta said...

siap, kerjakan, nanti kucari di blognya ci lia... makasih ci...

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review