11/21/2011

My Bestfriend's Wedding: Ko Yossie & Ci Nita

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 2:57 am
Masih ingat waktu aku pulang ke rumah kemarin untuk pernikahan Ko Yossie dan Ci Nita? Itu loh yang bikin aku stranded di Jogja semaleman gara-gara pesawatnya cancel. Jadi ceritanya begini, pernikahan Ko Yossie dan Ci Nita diadakan di JKI Maranatha Ungaran, tempat mereka berjemaat dan melayani sebagai full timer. Aku duduk di antara orang-orang lain yang turut ingin menjadi saksi pernikahan mereka. Bapak dan Ibu duduk di sampingku. Gereja sudah penuh bunga, nuansa ungu ada di mana-mana. Slide show foto pre-wedding ditayangkan di layar. Musik dimainkan. Beberapa orang lalu lalang menyiapkan beberapa hal, lalu saat itu datang...

Ko Yossie dan Ci Nita berdiri di pintu gereja, Berdampingan, bergandeng tangan. Ko Yossie tersenyum gugup, dan Ci Nita tersenyum samar di balik cadarnya. Perlahan, sambil melambaikan tangan pada beberapa orang - aku salah satunya - mereka berjalan menuju altar dengan keluarga mengikuti di belakangnya. Lalu prosesi pemberkatan dimulai, tapi sebelum aku bercerita tentang itu, I want to tell a you a very little secret...


There was a time when I wished that I would be a woman standing hand in hand with Ko Yossie, walking through the isle...

... and some days ago I just sat, with my parents beside me, and saw Ko Yossie walking through the isle, with another woman but me.

Ups!

Oh, c'mon, jangan membayangkan aku duduk di gereja itu dengan patah hati dan air mata bercucuran. Itu sangat merendahkan :D Meskipun, aku dan Ko Yossie pernah menjalani 'persahabatan' yang terlalu intim, dan akhirnya patah hati parah karena Ko Yossie memilih Ci Nita (seperti aku ceritakan di post ini), aku sudah pulih dan hati serta hubungan kami diperbarui. I was so excited since the first time Ko Yossie told me that he would getting married with Ci Nita. Jadi ketika hari itu tiba, I was very happy, for both of them. 


Aku tahu memiliki hubungan yang baik dengan mereka yang masuk kategori mantan: mantan pacar maupun mantan calon pacar, bisa sangat sulit. Jadi aku bersyukur kalau aku dan Ko Yossie tetap bisa saling mengasihi sebagai seorang saudara. Sekarang dia memanggilku "adek" dan aku memanggilnya "koko". Pada pernikahannya, dia secara khusus mengundang Bapak dan Ibu, bahkan memasukkan mereka ke dalam list keluarga yang diminta untuk difoto bersama pengantin. Aku tidak mengharapkan privilege seperti ini, but it was amazing to see how Ko Yossie still loves my parents so much^^  And also amazing to see how my mother cried when Ko Yossie and Ci Nita said their wedding vows. I know my mother loves him as her own son, walaupun sejak Ko Yossie jadian dengan Ci Nita, Ibu sudah jarang kontak lagi dengan Ko Yossie.


What I wanna say is: to have a sweet and sincere relations with your ex are not impossible. Setiap orang mungkin punya cara sendiri, aku juga. Yang paling utama adalah, bereskan dulu patah hatimu dengan Allah.  Masalah hati bisa jadi begitu rumit, kadang kita sendiri tidak tahu apa yang ada di kedalaman hati kita. Cuma Allah yang tahu benar kondisi hati kita, jadi ya cuma Dia yang paling tahu hati kita harus ditangani seperti apa. 


Bisa jadi setelah patah hati itu ada perasaan marah, menyalahkan dan kecewa kepada Allah. Mungkin itu tersembunyi, atau bahkan kita terus terang bertanya, "Tuhan, kenapa Kau membiarkan ini terjadi? Apakah Kau tidak sayang padaku? Bukankah Kau Bapaku?" Ketika kita patah hati, setujuilah kedaulatan Allah, termasuk ketika Ia mengijinkan patah hati itu terjadi. 


Allah sedang mengerjakan hidup kita, sehingga ketika Ia mengijinkan kita patah hati, Ia tahu kita memerlukan patah hati itu untuk mencapai tujuan-tujuanNya. Mungkin patah hati itu mau Tuhan pakai agar kita mengenal Dia, mungkin Dia mau kita belajar bahwa kasihNya cukup buat kita, mungkin Dia mau membentuk karakter kita. Bisa jadi banyak hal. Terbukalah untuk apapun yang Allah nyatakan, termasuk ketika Dia menyatakan kesalahan. Mungkin ada karakter tertentu yang membuat kita tidak 'dipilih'. Daripada menyalahkan Tuhan atau si mantan, lebih baik kita bertanya, "Tuhan, Engkau ingin aku belajar apa?" 


Penting untuk tetap percaya bahwa peristiwa menyakitkan apapun sanggup Tuhan pakai untuk kebaikan. Waktu patah hati dengan Ko Yossie, Allah memakainya untuk mengajarku puas dengan Allah saja. Aku juga diajar untuk tidak berharap dengan manusia, karena hanya Allah yang tidak akan pernah membuatku kecewa.  Aku belajar percaya bahwa jawaban 'tidak', jika itu berasal dari Allah, selalu adalah jawaban yang terbaik.


Dalam proses pemberesan, minta Allah untuk mengoperasi hati kita, membuka dan mengeluarkan semua perasaan beracun, perspektif yang salah serta respon yang tidak benar. Mungkin di hati kita ada kepahitan dengan mantan. Minta agar kita bisa tetap bisa mengasihinya dengan kasih Allah, termasuk melepaskan pengampunan. Ketika patah hati, kadang orang bilang, "Ayo, berusahalah untuk melupakan dia." But please, melupakan itu sesuatu yang hampir tidak mungkin, aku lebih suka bilang, "Ayo, berdamailah dengan orang itu." 


Di tangan Allah, patah hati adalah sesuatu yang membawa kebaikan buat kita. Logikanya, mantan kita juga membawa kebaikan buat kita. Besi menajamkan besi dan manusia menajamkan sesamanya. Mantan kita masuk dalam daftar orang yang digunakan Allah untuk memproses hidup kita dalam mencapai tujuanNya. Dengan membuat kita patah hati, anggap saja dia sedang melakukan sesuatu yang baik :D Kalau seperti ini, bagaimana kita bisa marah padanya? Bagaimana kita bisa benci dan tidak melepaskan pengampunan? Bahkan ketika kita merasa tidak punya alasan untuk mengampuni, kita tahu kita adalah makhluk yang hidup karena diampuni. Allah saja mau mengampuni kita, masakan kita tidak?


Lalu yang kedua, putuskan emotional dependency. Mengenai emotional dependency bisa dibaca di blog Ci Lia yang ini. Sedikit tambahan dari aku, kadang kita harus tegas dengan diri sendiri untuk memutuskan emotional dependency itu. Pada waktu Ko Yossie jadian dengan Ci Nita, aku langsung menarik diri darinya. I set boundaries in the way we communicate. Aku komit untuk ngga sms/telp dia kecuali di saat-saat tertentu, seperti Natal, Paskah atau Ulang Tahun. Bukan karena aku benci Ko Yossie, tapi supaya aku terbiasa hidup tanpa Ko Yossie dan tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu. 


Memang tidak mudah untuk bisa lepas, apalagi kalau dependency itu sudah berlangsung lama. I have to train my brain buat ngga tenggelam dalam kenangan dan harapan tentang Ko Yossie lagi. Ketika kenangan dengan Ko Yossie muncul, aku mengalihkannya dengan berdoa untuknya dan Ci Nita. Itu juga salah satu cara yang ku pakai: selalu menyertakan Ci Nita dalam segala sesuatu tentang Ko Yossie. Aku memaksa diriku sendiri untuk memandang bahwa Ko Yossie dan Ci Nita adalah satu paket. Aku tidak bisa tidak mendoakan Ko Yossie tanpa mendoakan Ci Nita. Aku tidak bisa mengasihi Ko Yossie tanpa mengasihi Ci Nita. Aku tidak bisa peduli dengan Ko Yossie tanpa peduli dengan Ci Nita. Dengan menyertakan Ci Nita dalam segala sesuatu tentang Ko Yossie, I teached my emotions buat menerima kenyataan dan ngga berharap apapun lagi soal Ko Yossie.


Give your self time to handle your own broken heart. Aku dan Ko Yossie butuh masa 'pause' sampai akhirnya kami bisa mulai dekat kembali sebagai kakak-adik. Dalam masa itu melekatlah terus kepada Allah. Cuma di dalam Dia kita bisa memiliki pemulihan sempurna dari patah hati. CaraNya bisa berbeda bagi setiap orang, tapi percaya saja dan ikuti prosesNya,  He really knows what to do.


Melihat Ko Yossie pada akhirnya menikah dengan Ci Nita adalah sebuah sukacita besar. Aku sangat tahu kalau memang pada akhirnya Ci Nita lebih sesuai dengan Ko Yossie dibanding aku. Bukan karena Ci Nita lebih baik dari aku atau sebaliknya. Tapi karena visi Ci Nita lebih mendukung visi Ko Yossie dibanding visiku. Tujuan-tujuan Allah akan lebih bisa dipenuhi kalau Ko Yossie bersama Ci Nita, begitu juga sebaliknya. Sementara aku sekarang punya visi dan destiny sendiri, yang far from their vision. Bukankah pada akhirnya kehidupan memang tentang memenuhi tujuan-tujuan Tuhan bagi kita.


I know someday I'll meet someone that fix in me to fulfill God's purpose in our life. Suatu hari aku juga akan berjalan menuju altar, memakai gaun putih dan cadar. Pada saat itu, Ci Nita akan menyanyikan When God Made You dengan iringan piano Ko Yossie (He has promised me that he would play piano on my wedding...) See, bukankah patah hati bisa berakhir begitu indah, ketika kita menanganinya bersama Allah?






God bless,

18 comments:

Welly Lokollo said...

aaaaaaaa, mengingatkanku pada seseorang..
luar biasa dhiet, ga semua orang bisa melakukannya :)

Dhieta said...

hehehe, siapakah orang itu wel??? :) Thanks, welly, aku ga akan bisa melakukannya tanpa anugerah Allah...

Lasma said...

Nice...Bener-bener wanitanya Allah.

Harmeilia Adiastuti said...

great story :) it indeed needs a big heart to do it. it pasti modal dengkul- dengkulogy(kneeling down and pray) banget tuh hehe.
and yup, once u find your vision, every thing will fall rightly: kerjaan, PH, tempat inggal, dll.

Dhieta said...

@Lasma : Thanks, Lasma^^ Masih jauh kok dari the truly woman of God :D

@Anggit : Iyaa, ga peduli dengkul bonyok2, asal hati ini kagak jadi bonyok :p Eh, sorry, sms blm dbales, hape kerendem aer laut, jadi kagak bisa nyala :'( Tapi kayany jadi kok yg k t4 kak Martha itu :D

echa said...

waaaaaaaaah Dhietaa, salute...smngaaat he's not the best for you trnyata,you'll get the number 1 best not 2nd best evantually hehe itu nasehat kk PA gw pas gw broken heart huahahahaha...kapan2 kita kudu crita2 soal ini ;p

Dhieta said...

@echa: hehehe, ayo, cha, cerita dong kisah patah hati yang bikin kamu nodongin pisau ke tiap cow yang deket2 :p Waaah, kapan yaa, harus ada waktu khusus tuh soalny panjangny bisa ngalahin sinetron Tersanjung wakakakak

echa said...

waaah syusah utk dcritakan, bkn mslh ke cwonya si tapi aku jdi nyalahin diri sndri , and mpe skrg msh proses utk lpas...i'll tell you via japri maybe inbox fb, tapi ntar deh rada pnjang soalnya wkwkwkwk ;p

Mega said...

Salut samamu Dit, aku blom bisa melakukan ini deh kayaknya, hiks :'(

Dhieta said...

@echa : siaaap, ditunggu ya, cha, hehehe

@mega : cup, cup, cup, with the grace of God, time will heal you,,, :)

Nonik said...

MBAK DHIETAAAA AKU MAU NANGIS LO BACANE.....

EDAN APIK BANGET T______________T (aku sudah comment di 3 postingmu en selalu ada icon "T________T"nya hwahahahahahaa).

Mbak....mbak...mbak.....aku lagi doa ini biar bisa lepasin perasaan G.A.L.A.U Y_______Y Gila yah padahal belon sempet jadian loh tapi kok rasanya tetep sakit gitu.... banyak kalimat yg kusukai dari post ini:

1. Yang paling utama adalah, bereskan dulu patah hatimu dengan Allah.

2.Aku belajar percaya bahwa jawaban 'tidak', jika itu berasal dari Allah, selalu adalah jawaban yang terbaik.

3.Di tangan Allah, patah hati adalah sesuatu yang membawa kebaikan buat kita.

4.kadang kita harus tegas dengan diri sendiri untuk memutuskan emotional dependency itu.

Dhieta said...

@Nonik: T___________T juga, wkwkwkwkw...

Hayooooo, katanya udah ngga galau lagi :) Klo masih sakit, berarti belum pulih. Ga papa, mungkin cuma butuh waktu aja, Nik. Set boundaries, kata Ci Grace. Guard your heart, lady, pasti abis itu akan lebih oke.

#hug#

wina said...

wowwwwww........
barusan aq baca lagi.......
aq dapat sswtu yang beda....
love u mb ^^

Dhieta said...

@Wina : dapat apa dek??? cerita dong... by email juga gapapa hehehe... Love u too :*

ester11zone said...

SO sweet, bisa berdamai dengan mantan..
Setelah 3 tahun pun, aku belom pernah kontak2an lagi sama mantan...bener2 lose contacr
Nice to read this experience :)

Januarti Nainggolan said...

Ka Dhieta, sy sedang membaca tulisanmu mulai awal postinganmu. Dan msih sampai disini. Ya ampuuuunnnnnnn, aku juga kayaknya lagi diajar Tuhan utk bisa seperti pengalaman kk ini. Secara mantanku itu adalah teman masa kecil ku, dekat dengan rumahku, dan satu pelayanan juga. dan bagaimana pun caranya, kyaknya kita benar2 gak bisa gak tau keadaan masing2. karena ruang lingkup kita berdekatan. Kalimat kk :"So, kayaknya aku sedang diproses, utk bisa melakukan ini.Bukan karena Ci Nita lebih baik dari aku atau sebaliknya. Tapi karena visi Ci Nita lebih mendukung visi Ko Yossie dibanding visiku. Tujuan-tujuan Allah akan lebih bisa dipenuhi kalau Ko Yossie bersama Ci Nita. Huaaa... Kalimat ini benar2 tepat n ngena banget ka..

Dhieta said...

Dear Janu... Ya ampunnnn, mauliate yah, I feel so hopnoured loh kamu baca postinganku dari awal :")

Iyaa, masing2 ada prosesnya sendiri. Termasuk kamu. Belajar buat jaga hati yah, walopun berat cos sering ketemu, banyak cara kok buat tetep draw the line :)

Semangat yaa...

Januarti Nainggolan said...

Heee, sama2 ka Dhit.. Saya emg gitu. Kalau baca blog org2, kalau udh ngena di hati, akan ku baca mulai dari awal. Supaya aku tau gimana awalnya :p

Wah, langsung tau yak, kalau sy wong Batak.. hihihih.. Bisa bahasa batak juga toh ka.. :)

Keep writing ya ka. GBU ^^

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review