11/25/2011

Selamat Hari Guru, Ibu

Dibagikan oleh Dhieta at 11:24 am
Baru saja baca status seorang teman soal Hari Guru, jadi ingat dia juga pernah nulis di blognya soal pahlawan tanpa tanda jasa a.k.a guru. And since my mom is a teacher, jadi pengen sharing soal Ibu. Kenapa? Karena dari hidupnya sebagai seorang guru itu, aku bisa belajar banyak hal, dan hal-hal itulah yang  ikut mendasari dan membentuk aku sampai aku bisa jadi seperti sekarang ini.

Okeh, mulai dari mana kita enaknya?

Ibuku, seorang guru dengan status PNS, yang diperbantukan di sekolah swasta, SMA Kristen 1, yang juga menjadi sekolah ku dulu.  Dengar-dengar dia dulu diterima di Fakultas Kedokteran, tapi karena Mbah Kakung dan Mbah Putri akan sangat berat membiayai Ibu (berhubung Pakdhe sudah jadi mahasiswa arsitektur yang waktu itu juga tidak murah), Ibu harus membuang mimpinya menjadi dokter dan masuk ke IKIP Negeri Semarang, jurusan Fisika. Aaaahh, Fisika? Fisika? Fisika? Bagaimana bisa? Kalo aku sih, nyerah aja deeehh... :p

Tapi, walaupun IKIP sebenarnya adalah plan B, Ibu tetap sangat mencintai profesinya sebagai guru, dan melihat hidupnya, aku belajar banyak hal.
  • Dari ibu aku belajar kasih adalah hidup yang diberi dan dibagi.
Ibu mengasihi murid-muridnya, itu sudah pasti. Tapi sebagai guru, kasih Ibu tidak hanya berhenti di sekolah, dengan memberi pelajaran soal relativitas dan ledakan atom, atau mengajari mereka menghitung energi potensial benda-benda, lalu berhenti hanya sampai disana. Ibu mengasihi murid-muridnya, dengan masuk ke dalam hidup mereka dan membagi hidupnya sendiri. 

Aku masih ingat bagaimana dulu ada beberapa murid yang datang ke rumah hanya untuk curhat. Kebanyakan yang datang kepada Ibu adalah anak orang kaya yang kurang perhatian, mendapatkan tekanan pergaulan dan entah apa lagi. Bahkan kadang Bapak ikut menemui anak bermasalah itu dan menjadi konselor dadakan. Ooh, tentu saja aku juga harus belajar membagi orang tuaku dengan mereka.
  • Dari ibu aku belajar bahwa hidup adalah proses belajar 
Sebagai guru Ibu bahkan masih belajar. Kadang aku menertawakan Ibu karena buatku itu terlalu rajin. Aku yang berstatus murid saja tidak pernah belajar :p Tapi Ibu tetap membaca buku-buku pelajaran Fisika itu, mengerjakan soal-soal di bank soal Fisika yang tebalnya segede bantal, atau belajar peraturan pemerintah terbaru soal pengaturan kurikulum pengajaran.

Salah satu nasehat Ibu yang paling kuingat adalah, di dunia ini tidak ada hal yang terlalu sulit kalau kita punya kemauan untuk belajar. A teachable heart, itu hal yang penting, tidak juga dalam study, tapi juga dalam kehidupan. Bagi Ibu, tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya mereka yang tidak cukup punya kemauan untuk belajar. Mungkin itu karena Ibu terbiasa mengajar mereka yang dianggap tidak cukup pintar untuk masuk ke SMA Negeri. Di sekolah Ibu, juga ada anak-anak yang 'dibuang' oleh sekolahnya. Tapi Ibu selalu percaya, mereka tetap berhak mendapatkan kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
    • Dari ibu aku belajar bahwa uang bukanlah segalanya.
    SMA tempat ibu mengajar, bukan sekolah favorit, muridnya kebanyakan datang dari pinggiran dengan kondisi ekonomi yang tidak baik. Beberapa datang dari desa dengan latar belakang anak petani. Untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi untuk membayar biaya kos di kota, atau biaya transport kalau mereka tidak kos. Meskipun kami bukan keluarga kaya, Ibu akan membuka pintu rumah dan mengajak satu anak untuk tinggal bersama kami. Beberapa guru lain di sekolah juga melakukan hal yang sama.

    Peristiwa itu tidak hanya terjadi sekali itu. Dulu ketika aku kecil, rumah kami bahkan seperti kos-kosan karena banyak saudara yang menitipkan anaknya kepada Ibu. Ibu dengan gaji seadanya  selalu membuka tangan untuk mereka semua. Ah, gaji guru berapa sih? Kalau Ibu hanya memikirkan uang, Ibu tidak akan melakukan semua itu.

    Dari Ibu aku belajar untuk mencukupkan diri dengan apa yang ada. Kami, aku dan kakak-kakakku, dilatih untuk tidak ingin hidup mewah, namun dilatih mensyukuri apa yang ada. Kami dilatih untuk senantiasa bersyukur karena ada banyak hal di dunia ini yang jauh lebih berharga dibanding sekedar materi.

    Ibu adalah one of the greatest blessing in my life. Aku akan selalu mengagumi kasihnya, kebijaksanaannya, kesabarannya, kebaikannya, keadilannya. Setiap hal kecil yang ia lakukan adalah teladan yang menjadi kesempatan bagiku untuk belajar. Seperti ketika aku dulu menjadi muridnya, ibu tidak pernah memperlakukan aku secara istimewa. Aku akan selalu ingat waktu Ibu melemparku dengan kapur karena aku ngobrol saat pelajarannya, atau memarahiku di depan seluruh kelas karena aku tidak bawa LKS :p Aku juga akan selalu mengagumi dedikasi dan kesetiaannya pada profesinya. Mungkin apa yang dia dapat tidak sebanding dengan apa yang dia beri. Tapi aku tahu justru itulah letak sukacitanya, sehingga bahkan ketika saat ini Ibu sudah pensiun, dia masih tetap terus mengajar.

    Selamat hari guru, Ibu. Kami sekeluarga bangga padamu.

    15 comments:

    Mega said...

    Salam ya buat ibuuuu.... Salut euy, ibumu guru yang TOP d^^b jadi ingat2 guruku masa sekolah ^^

    Dhieta said...

    Hehehe, salam balik dari Ibu ku, Meg (padahal belum disampein :p) Iya, bangsa ini punya banyak guru yang TOP, sistem pendidikannya aja yang kurang maksimal #pengen ikut indonesia mengajar#

    Harmeilia Adiastuti said...

    Sungkem kagem Ibu, Dhieta :)haha kalah gw, aq yg jadi guru aja belum nulis soal ini hehe

    Dhieta said...

    @Anggit: Selamat hari guru, Anggit... Jangan lelah berjuang untuk masa depan anak bangsa #wkwk, bahasany PPKn banget# :p

    KeZia Margaret said...

    aiiiiiiiiiiihhh bener2 yaa ibu-nya kak mega pasti bner2 guru itu panggilannya.hehehe.. klo ga, ga mungkin kaya gituu.hoho..
    ngmng2 soal guru. aku jg pengen jadi guru.hahaha..

    Dhieta said...

    @Kezia : Hehehe, maksudny Ibu nya kak Dhieta kali ya :p Iya, panggilan kali yaa, makanya bisa all out gitu, ngga ada capeknya... Oh ya? Kezia mau jadi guru? Waaah, keren loh itu... Jarang ada yg mau sukarela jadi guru^^

    KeZia Margaret said...

    ehhh iyaaaa.hahahaa.. ngelindur kan akuuu.hahaha.. iyaa kak beda tauu yang jadi guru karena panggilan to yang jadi guru karena cuma duit doank.hoho..
    iyaaa pengeeeen.. padahal dulu ogah bangeeed jadi guru.hahahaa.

    echa said...

    waaa your mommy is keren, pngabdiannya luar biasa ya Dhiet...salam ya dri org paling cute diBandung *apa sih ;p
    duuh jdi kangen ama guru2 aku diSD, SMP, SMU..aku prnah nangis la liat rumah guru aku diSMU, yah maklum SMU negri, skolah top si...tapi ttp aja gaji gurunya sdikit bgt...pdhal si bpk udh kerja 25 tahun lbh...tapi glongannya susah naik2... i miss him :'((((

    Dhieta said...

    Echa: thankies, echaaa... Salam balik buat orang paling cute di Bandung :D iyaa, banyak tuh guru yg ngajarny bener tp kurang d apresiasi, bikin pengen nangis :p eh eh, ganti topik, ni gw abis ktemuan dong sm kak martha, welly, anggit, kezia n nonik... Rencanany mau ketemuan lgi tp d Bandung :)

    Welly Lokollo said...

    aaaaaa...mamaku juga guru SMA dhiet, PNS pula tapi ngajar di SMA Katolik :P jd bisa membayangkan apa yang dirimu ceritakan

    Luar biasanya pengabdian mamamu Dhiet :)

    Dhieta said...

    Huaaaa, Welly, ternyata kita sama yaaa... Salam buat mama mu yaa... Pasti pengabdiannya juga luar biasa :D

    Nonik said...

    AKU TERHARU RU RU RU RU RU BIRU BIRU BIRU BANGET BACA INI T______________________T

    feel so blessed with your writings!!!! aku juga pingin jadi guru Mbak, tapi gatau ya kesampean ato enggak hehee. bener2 lagi MENANTI en ngikut rencananya Tuhan ini.

    Dhieta said...

    :) Ikut Indonesia Mengajar aj, Nik. Programnya Anies Baswedan itu tuh, kamu pasti tahu kan ya. Aku pengen ikut tapi umur udah ketuaan, mungkin kalo Nonik masih bisa. Keren banget tuh programnya :D Ato kalo ngga, Nonik jadi dosen aja abis lulus nanti. Palagi Nonik kan academically brilliant. Pasti bisa jadi dosen luar biasakaya Mas B******* :p dulu sebenernya almamaterku juga nawarin aku jadi dosen tapi aku ga terpanggil jadi pendidik, ga jadi deh. Lebih terpanggil keliling dunia kaya sekarang ini hahahaha

    Nonik said...

    tau gak Mbak, aku dah doain ikut Indonesia Mengajar (IM) itu hampir setaon lo.... tapi pas itu disuruh buat "kubur keinginan" dulu, uji apakah itu dari Roh, ato dari daging. Naaah besok aku mau ikut konferensi IM di Sabuga-ITB hehe. Aku mau tanya2. Benar2 suatu tantangan & kehormatan sendiri kalo aku bisa ketrima masuk IM en ngajar di daerah2 terpencil. Aaaaaaah.......... ^^

    banyak juga tuh yg bilang aku jadi dosen aja. Tapi kok aku belum ada passion ya :( impianku masih ke terjun ke masyarakat kecil gitu, di daerah2 terpencil,en kalo bisa bukan di Pulau Jawa hahaha.Tapi ya lagi2 ini harus diuji sih....bener ato gak ya. aku bisa ga ya. masih banyak yg harus dipertajem & dilatih lagi Mbak. Doain yaaa :)

    Dhieta said...

    @Nonik: Your name is in my prayer, girl. Mungkin pas kamu disuruh kubur keinginan itu, mungkin emang waktunya belum tepat. Tapi kalo emang Tuhan ngijinin kamu kesana, pintu pasti akan Ia bukakan :) Selamat bergumul ya, Nik. Pergilah kemanapun Tuhan tunjukkan jalannya...

    Post a Comment

    I'd love to hear anything from you...
    :)

     

    Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review