7/01/2011

Ada Apa Dengan Dhieta :p

Dibagikan oleh Dhieta at 5:56 pm
(Ini adalah edisi kedua dalam My Own Serendipity - cerita tentang pergumulanku soal pasangan hidup. Buat yang belum baca edisi pertama, silakan baca disini ya...)


Di SMA dulu, setelah aku 'putus' dengan si pacar pertama, aku punya  ‘sahabat’ (baca: sahabat  dalam tanda petik :p) Dia tidak tampan, tapi dia baik, lembut dan sabar. Dia bahkan bisa main alat musik: gitar dia jagonya, dia melayani di gereja sebagai pemain bass, dan kemudian dia belajar keyboard juga. Pendek kata: he’s charming!

Sebagai sahabat, kami saling mengasihi. Dia memanggil aku ‘yang’, kependekan dari ‘sayang’. Begitu pula aku. Kadang dalam sms, kami menggunakan kata, ‘dear’ atau ‘my dear’. Hmm, manis sekali kan?

Sebagai sahabat kami juga saling memperhatikan. Pada saat itu, kami belum punya hp (we lived in a small city where technology is not very popular), tapi itu tidak jadi alasan buat kami untuk tidak intens berkomunikasi. Kadang kami saling menulis surat #so old school, huh?# Dalam surat itu kami saling bercerita, memberi semangat,menasehati, menguatkan, juga  berbagi pokok doa…  Kadang surat itu panjang, bisa sampai berlembar-lembar. Tapi kadang hanya beberapa kalimat.  Kalau kelasnya pulang lebih dulu, dia akan menulis, “Yang, aku pulang duluan ya, take care…” atau “Aku pulang ya, yang, tapi nanti aku jemput kamu di tempat les kok, see you…” Wasn’t he really sweet???

Yes, he was so sweet.

Ketika kami lulus SMA, aku kuliah di Semarang dan dia pindah ke tempat Pamannya di Ungaran. Ok, Ungaran dan Semarang tidak jauh, tapi kesibukannya dan kesibukanku tidak memungkinkan kami sering bertemu. Tapi kami tetap bersahabat kok. Buktinya dia kadang meneleponku, masih tetap rajin sms, mengingatkan aku makan, mengucapkan selamat tidur.

He was still very sweet.

Kami hanya bertemu beberapa bulan sekali. Bisa tiga bulan, bisa empat bulan. Mungkin pertanyaan, “Yang, kapan pulang?” dariku sudah dihafalnya. Kami saling rindu tentu saja. Kadang dalam beberapa sms, kami menyisipkan kata, “Missing you…” Kadang kalau dia terlalu sibuk dan melupakanku, aku akan mengeluarkan jurus andalan: ngambek dan mendiamkannya. Biasanya, perhatiannya akan tercurah lagi untukku.

Hari ketika aku bisa bertemu dengannya selalu jadi hari yang kutunggu-tunggu. Dirumahku, kami bisa mengobrol dari pagi sampai sore. Dia juga selalu menanyakan Ibu dan Bapak. Dalam persahabatan kami tidak ada lagi istilah, Ibuku, Bapakku, Mamamu dan Papamu. Yang ada adalah Bapak, Ibu, Mama dan Papa. Ketika adiknya berulang tahun, aku mengirim kartu ucapan dan adiknya mengucapkan terimakasih lewat telepon walaupun kami belum pernah bertemu. Dia juga kenal dengan kakak-kakakku, walaupun tidak terlalu dekat.

Bukankah persahabatan kami indah sekali?

#silent#

I still hear no answer. Iya kan, persahabatan kami indah kan?

#silent#

Ok, ok. Mungkin sejak awal, kamu sudah mengerutkan kening waktu membaca post ini. Mmm, persahabatan macam apa itu. Mesra sekali. Benarkah kalian cuma sahabat? Iya, kami cuma sahabat kok. Kami sepakat soal hal itu.

Aku masih ingat ketika kami bicara di telepon dan menyepakati seperti apa hubungan kami sesungguhnya. Katanya, dia sayang tapi dia tidak siap untuk sebuah komitmen. Oke, I’m listening, kataku waktu itu. Jadi dia bilang, seperti apapun perasaannya dan perasaanku saat itu, kami tidak bisa menjalin hubungan lebih dari sahabat.

Jadi, begitulah, kami hanya bersahabat.

Tahun demi tahun berlalu. Kedekatan kami masih tetap sama. Sampai suatu saat, dia jadi berbeda. Pesan pendeknya tidak lagi sering, bahkan saat pulang ke kota kami dia tidak punya waktu untuk datang ke rumahku. Aku menahan diri untuk tidak membuat kontak apapun. Sampai ulang tahunnya, seperti kebiasaan kami, aku menelponnya tepat pada pukul 12 malam.

Tapi telponnya sibuk. Alarm di hatiku berbunyi, adakah orang lain yang menelponnya tepat pada pukul 12 malam?

Pukul satu, baru aku bisa menguhubunginya. Dan ketakutanku benar. Dia bercerita tentang seorang gadis, teman gerejanya. Lalu beberapa hari kemudian, dia menghubungiku, memberi tahu dia sudah menjalin hubungan dengan gadis itu.

Then, I felt like my world crashed upon me. Itu adalah patah hati terparah yang pernah kualami.

Memang kami tidak pernah berpacaran. Tapi attitude kami persis seperti orang pacaran. Itu membuatku mengalami emotional dependency. Emotional dependency itu membuat aku menghidupkan harapan-harapan yang tidak nyata dan itu yang jadi pemicu kenapa aku jadi sangat terluka. 

Sekarang, setelah aku tahu prinsip-prinsip yang benar dalam menjalin hubungan, aku baru tahu itu salah. Joshua Harris dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye menekankan bahwa keintiman adalah upah dari komitmen. Tingkat keintimanmu harus berbanding lurus dengan komitmen yang dibangun. Kalau komitmennya persahabatan, keintiman kita harus sesuai. Kita tidak bicara mesra dengan sahabat kita. Kita juga tidak setiap hari sms sahabat kita untuk soal-soal seperti sudah makan, selamat tidur bla bla bla bla…

Aku butuh waktu yang cukup lama untuk sembuh dari patah hati ini. Yang jelas, hari-hariku saat itu diisi dengan menangis dan berdoa, berdoa dan menangis. I don’t know what I have to do. I really really love him (halaaaahhh…) dan terus terang waktu itu aku marah sama Tuhan. Sangat marah. The world had been so good this far, tapi tiba-tiba…

Ketika pada akhirnya aku bisa berdamai dengan jawaban “tidak” dari Allah, barulah luka itu mulai sembuh. Ketika aku bisa melihat bahwa Allah berdaulat penuh, bahwa semua yang Ia ijinkan terjadi pasti membawa kebaikan, barulah aku bisa melihat ke depan dengan sikap yang baru. Kata “tidak”dari Allah pasti yang terbaik.

Setelah berdamai dengan Allah dan hatiku, langkah pertama yang kulakukan, aku mengajaknya bicara. Kami harus membereskan ini. Kami harus saling melepaskan pengampunan. Aku bersyukur dia mau menemuiku dan secara ‘gentle’ mengakui alasan-alasan mengapa dia memilih gadis itu. It’s hurt, but you know, keterbukaan adalah awal dari pemulihan. Aku dipulihkan dari patah hati, dan mungkin juga dia dipulihkan dari perasaan bersalah.

Siang itu, kami mengakhiri pertemuan kami dengan berdoa bersama.

Setelah itu, I kept on praying for him and his new relationship, termasuk berdoa buat gadis itu. I tell you, ini membantumu untuk pulih dari patah hati. Aku pernah dengar kalau kita tidak akan bisa membenci orang yang kita doakan. By praying for them, hatiku dijaga untuk tidak punya kepahitan, bahkan tetap mengasihinya dengan kasih yang benar. 

Tapi aku menahan diriku untuk tidak melakukan kontak apapun dengannya, kecuali kontak yang benar-benar penting dan harus dilakukan, seperti mengucapkan selamat ulang tahun atau selamat natal. Kadang aku memang ingin ngobrol lagi dengannya, aku yakin dia akan dengan senang hati meluangkan waktunya. Tapi untuk hatiku yang sedang dalam proses pemulihan, itu bisa jadi bumerang. 

Dari pengalamanku itu, aku belajar, dalam kamus pacaran anak Tuhan, tidak ada istilah HTS alias Hubungan Tanpa Status dan TTM alias Teman Tapi Mesra. Seperti kata Joshua Harris, keintiman adalah upah dari komitmen. Memang sulit ketika perasaan sayang itu begitu meluap (aku masih bergumul dengan penerapannya, bahkan sampai saat ini), tapi prinsip ini bertujuan untuk melindungi hati kita dari rasa sakit yang tidak perlu seperti aku dulu.


Okay, that's the end of the 2nd stories of My Own Serendipity. Sejauh ini, cerita pertama adalah soal kesalahan, cerita kedua ini juga soal kesalahan, hehe...  Kapan dong cerita yang benar? Haha... It's still long way to go...



God Bless,




12 comments:

viryanikho said...

ya ampun blognya bagus bangetttttttt i love it :)
gmn cara bkn signature dll sih ajarin donk ;p
anyway salam kenal and tulisanmu sgt orisini :)

dhieta said...

@viryanikho: hai, salam kenal jg... wkwk, thanks pujiannya, ini template gratisan dr blogger kok wkwkwk... ooh,signature itu ikut2an ci shinta hehe, bisa didapat di mylivesignature.com, ntar disitu ada petunjuknya... :)btw, I have follow yours, would you follow me back, jd kita bisa keep in touch n komen2an, yeeeyyy!!! :p

Welly Lokollo said...

hahahahahahha, keren lho dieta :)
dari tadi bacanya sambil senyum2 karena mengingat beberapa hal dalam hidupku juga..

dhieta said...

@ (kak?) wellly: aaaww, malu tau sebenerny cerita kaya gini... wkwk.. anyway, pernah punya pngalaman yg sama kayany, untung masih bisa dbaca smbil snyum2... :)

Anita B said...

Hello, aku dapat tau blog ini dari hasil browsing, baca satu pos, ok.... Merembet ke pos kedua...dan akhirnya sampai di pos ini heheheh~ salam kenal ya :D

Cerita yg satu ini benar2 memberi banyak inspirasi dan perenungan :D terutama bagi kita2 yg masih muda dan bergumul tentang masalah PH it really help me a lot :D keep writing sister :D

God bless you~

dhieta said...

@anita: hai, anita... salam kenal :) glad to see that this post helps you alot :D emang masalah ph itu kadang ribeeettt banget, hehe, tetep semangat dalam pergumulan yaa, God bless!

Rachel Joanna said...

hmm...baru aja nemu blog ini :)
salam kenal, aku Joanna from Solo.
hmm....baca tulisan kmu yg ini..mengingatkanku akan seseorang 5 th lalu.
Ingat, tp gak merasa sakit lg, itu yg namanya pulih.

Btw, kisah kita hampir mirip lhoohhh.... :)

Dhieta said...

@Rachel : halo, rachel. Salam kenal juga. Dari Solo yah? Waah, aku ada sodara loh di Solo, jadi ya cukup sering lah kesana. Bis tingkat masih ada kan. Hehehe. Iya, ingat tapi tidak merasa sakit, itu yang namanya pulih. Tuhan baik banget udah memulihkan kita. Oh yaa? Mirip2 ya? wkwkwk, seru banget ketemu orang senasib :)

Nonik said...

Ya ampun Mbak....... aku ge moco sing iki lho. Aduh serasa ingin ikut menangis bersamamu Mbak *halaaaaah =.=* aku tau banget rasane, ooooh!!! tapi salut banget sekarang kamu dah bisa bangkit Mbak bahkan bisa menghadiri weddingnya wakakakakakakakaaaakkk!!! ^^

Dhieta said...

@Nonik: Haha, aku sudah cukup menangis, Nik. Iya, aku seneng dateng ke weddingnya, apalagi souvenirnya bagus dan makanannya enak :D

cynthia ayuningtyas said...

whuaa ;( ..barusan aku ngalamin kayak gitu kak..hikss..tau sekali rasanyaa...arrhhhh...

Dhieta said...

@cynthia : hah, barusaan?? hmm, you'll be much better girl :)

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review