7/04/2011

Jalan Yosua

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 6:57 pm
This is the first step of the Road to the Ministry,my stories about the journey with God when I strived to join the Ministry of Foreign Affairs... 


But before I start the stories, karena karir erat hubungannya dengan soal visi, mungkin aku perlu mengingatkan kalau sejak masa kuliah aku punya visi untuk melayani Tuhan di media ministry esp. pelayanan literatur (lengkapnya bisa dibaca disini). Mmm, dulu sih pernah berkhayal buat kerja di majalah rohani kaya Get Fresh atau Get Life (so sad that I couldnt find these two magazines anymore... ), lalu semakin ke sini semakin rindu buat fokus di christian fiction books. 

Literatur jenis ini sudah sangat populer di Eropa dan Amerika sana, tapi masih sangat langka di Indonesia. tidak banyak karya fiksi Kristen di rak buku kita, kebanyakan adalah soal pengajaran dan kesaksian. Padahal lewat fiction story, apakah itu cerpen atau novel, kita juga bisa mengabarkan firmanNya. Kalau di luar (Amerika terutama), christian fiction book ini sudah terdiri dari berbagai genre, ngga cuma drama and romance tapi juga thriller, petualangan dan lain-lain. Hmm, seru yah? 

Nah, karena visiku bukan pegawai negeri, khususnya jadi diplomat, pada awalnya aku ragu untuk mendaftar di Kemlu. Tapi, masuk Kemlu adalah kesempatan yang baik, ini adalah profesi yang memungkinkan aku untuk mewujudkan beberapa impian masa kecilkuku: belajar bahasa asing dan mengunjungi tempat-tempat menarik di berbagai belahan dunia dan siapa tahu Paris, kota impianku, termasuk di dalamnya.


Sebenarnya, begitu mendengar soal rekrutmen ini, satu hal yang melintas di benakku adalah "Aku harus coba!" tapi setelah itu, sebuah pertanyaan muncul, "Apa ya kehendak Tuhan soal ini? Bagaimana dengan visi pelayanan literatur yang sudah kudoakan selama ini?" Memang, masuk Kemlu nampaknya adalah sesuatu yang baik. Tapi apa yang baik menurut kita belum tentu yang terbaik yang Tuhan inginkan. Aku sangat takut kalau ternyata keinginanku ini bukan keinginan Tuhan, sangat takut kalau aku menginginkan apa yang tidak Dia inginkan, yang berarti aku mulai berjalan di luar destiny yang Ia tetapkan.


Bukankah kita seharusnya punya hati seperti hati Musa yang berkata, "Tuhan, bila Kau tak besertaku, ku tak mau berjalan..." Aku tidak mau masuk Kemlu kalau Tuhan memang tidak setuju, hiks... So, kuputuskan untuk mendoakan ini dulu dan mencari tahu kehendak Tuhan.


Saat itulah aku juga ingat nasehat temanku dulu, do what you can do now... Selain itu, aku mengenal salah satu pekerja di gereja yang punya kerinduan untuk jadi full timer, tapi entah kenapa setiap Ia mendoakan kerinduan itu ia selalu merasa belum waktunya. Bagiannya saat ini adalah melayani Tuhan di market place, sampai nanti saat yang tepat Tuhan akan memberitahunya untuk jadi full timer.


Aku hanya berpikir begini, stidaknya menulis adalah pekerjaan yang sangat fleksibel. Aku bisa jadi diplomat yang bekerja selama weekdays dan menggunakan weekend untuk mengejar visiku yang sesungguhnya. Lalu, kalau aku benar-benar bisa masuk Kemlu, perjalanan mengunjungi negara asing pasti bisa menambah inspirasi untuk tulisanku. Sounds perfect kan?


Tapi bagaimanapun, aku harus mendapatkan janji Firman Tuhan untuk bagian ini. Honestly, deep inside my heart, takut juga sih kalau Tuhan bilang ngga boleh dan menyuruhku tetap stay, kerja di toko buku... (Waktu itu aku masih bekerja di retail toko buku, pekerjaan yang kupilih karena kecintaanku pada dunia liateratur)

Beberapa hari berdoa, aku masih tidak mendapatan apa-apa. Dari Saat Teduh tidak ada rhema, dari khotbah di gereja juga tidak dapat rhema. Hmm, jangan-jangan Tuhan benar-benar tidak ingin aku daftar di Kemlu. Bagaimana dong?

Sampai akhirnya, siang itu, Roh Kudus mulai menaruh sesuatu di hatiku. Bukan, bukan pada waktu berdoa, berbahasa roh atau mendengar khotbah. Waktu itu aku justru sedang seterika baju (seterikaan setumpuk gara-gara penyakit menunda, huh!), dan tiba-tiba Ia mengingatkanku pada sebuah ayat.

dari Yosua 1:2-9, janji yang diberikan Tuhan kepada Yosua setelah Musa meninggal.
"Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu. Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."
Begitu ingat ayat ini, bukannya sorak-sorak bergembira karena mendapatkan janji Tuhan, aku malah bingung sebingung bingungnya. Soalnya itu janji yang menurutku udah expired. Dulu janji ini kudapat waktu aku sedang mendoakan universitas mana yang harus kumasuki. Dengan janji inilah aku mengimani aku akan diterima di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Undip. Janji ini jugalah yang terus kupegang selama masa kuliah, termasuk masa-masa mentok dalam pengerjaan skripsi. Ketika pada akhirnya aku lulus, kuanggap janji ini sudah digenapi.

Lalu setelah lulus kuliah, setelah janji ini digenapi, apakah janji ini masih berlaku? Apakah janji tentang masa kuliah ini juga berlalu untuk pekerjaan. Aku tidak mau sok peka dalam soal mendapatkan janji Tuhan. Bukankah segala sesuatu harus diuji dulu?

Aku mulai merenung-renungkan ayat itu... Meditate... meditate... and meditate... finally, i got something...


- Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu... 
    (Oke, setiap tempat... setiap... berarti semua, tanpa terkecuali. Tuhan berjanji memberi tanah Kanaan, tapi penggenapannya tergantung Yosua, mau seberapa jauh Ia mau berjalan dan menginjakkan telapak kakinya di tanah Kanaan. Semakin jauh ia berjalan, semakin luas tanah yang Ia pijak, tanah yang Ia dapat pun semakin banyak. Demikian juga aku, Ia berjanji memberikan setiap tempat yang akan kuinjak, kalau aku mau menginjak Kemlu dan 'menguasainya', Ia akan memberikannya.)
- Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau;
    (See, seumur hidup ya seumur hidup. Bukan cuma waktu kuliah dan setelah lulus lalu sudah. Bukan. Seumur hidup berarti termasuk saat aku sedang mencari pekerjaan. Berarti janji ini tidak expired, aku masih bisa menikmatinya, bahkan saat aku sedang mencari pekerjaan, dan bahkan setelah itu...)
Waaahh, aku akhirnya dapat approval dari Big Boss buat daftar Kemlu!!! Even, I think I got guarantee that I would pass the test!!! He promised that!!! Bukankah Dia berjanji Dia akan memberikannya? Tapi, hmmm, kok sepertinya masih terlalu awal ya buat bilang aku pasti lulus. Aplikasinya saja belum dikirim, hehe... Itu iman atau kepedean???

Yang jelas, aku mulai mengirim aplikasi. Ini masih awal, perjalanan masih jauh. Tapi kalau Tuhan besertaku, pasti perjalanannya ngga akan pernah biasa-biasa. Walking in His road would be like the road taken by Joshua long time ago, a road of faith.


God bless,

2 comments:

Nonik said...

akhirnya.......ENG ING EEEEENNNGG!!! MASUK KEMLU BOW!!! HAHAHAHAAH ^^

Dhieta said...

@Nonik : wkkwkw, belooom, kan masih prolog ini hehehe

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review