6/23/2012

Visi Pelayanan Literatur : Panggilan yang Agung

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 12:38 am
Aku baru pulang dari Bandung. Pusing dan sakit perut (tenang, tenaaaang, udah minum obat kok.. -,-). Trus sejak di bis tadi siang, keinginan menuliskan ini rasanya sangat mendesak^^ Gara-gara komen2an sama temen di FB, aku jadi ingat buku Visi Pelayanan Literatur yang pernah kuceritakan di post ini. Waktu itu baru aku ceritakan sekilas, tentang bagaimana buku jadul yang ditemukan secara ajaib itu :p (terbit tahun 1989 dan 'ditemukan' sekitar tahun 2008) menolongku untuk mengerti apa visiku sebenarnya. Nah, sekarang, berhubung buku itu bagus banget tapi sepertinya sudah ngga bisa ditemukan lagi di toko buku, I'll share some great parts of this wonderful book.

Jadi buku itu membahas tentang Visi Pelayanan Literatur, yang didefinisikan sebagai pelayanan pemberitaan Kabar Baik Kristus melalui media literatur. Sesuai dengan tahun penulisan, media literatur disini masih fokus pada media cetak... yaa, maklum lah ya, waktu itu belum jaman internet, wkwkwk. Tapi tetep aja, banyak prinsip yang masih bisa digarisbawahi dan diterapkan pada jaman tekhnologi seperti sekarang ini. Yang jelas, dengan adanya teknologi, pelayanan literatur saat ini lebih powerful karena bisa menjangkau lebih banyak orang dengan cepat dan mudah.


Buku ini sebenernya gabungan beberapa tulisan dari tokoh-tokoh pelayanan literatur, sebut saja Dr. R.M. John Tondowidjojo, CM (Direktur Communication Training Centre "Sanggar Bina Tama", Surabaya), Antoni Stevens (Pimpinan Editor Penerbit Buku Rohani Yayasan Andi Yogyakarta), Drs. Wilson Nadeak (Pemimpin Redaksi "Indonesia Publishing House" Bandung), Drs. Alfons Taryadi (Pemimpin Penerbit PT Gramedia Jakarta), Rohyati Salihin (Penulis dan Abdi Allah di "Balai Mahasiswa Baptis" Semarang), Ida Cynthia S (Penulis di Majalah Kartini, Anita - Cemerlang, Mahkota dan Nona, Jakarta), dan Drs. Xavier Quentin Pranata (Pemimpin Redaksi Majalah Bulanan Kristiani Populer Bahana, Yogyakarta). By the way, jabatan yang disebutkan adalah jabatan saat buku tersebut diterbitkan yaa, sangat besar kemungkinan jabatan itu sudah berubah saat ini (It's been more than 20 years, guys... :p)

Aku ngga akan bahas semua tulisan mereka, karena ada beberapa yang sangat teknis. Kayanya sekarang lagi pengen share tentang pelayanan literatur dilihat dari kaca mata Firman Allah. Misalnya pada tulisan Antoni Stevens yang berjudul Pelayanan Literatur Dari Masa ke Masa dan Rohyati Salimin yang berjudul Bertumbuh Melalui Literatur. Ringkasan di bawah ini adalah gabungan dari tulisan mereka. Bukan berarti tulisan yang lain tidak penting, tapi bagi saya pribadi, tulisan kedua orang ini seperti pondasi dimana tulisan-tulisan yang lain dibangun di atasnya. Bagian-bagian lain akan di-share kemudian^^

Here it is...

Allah kita adalah Allah yang berkenan menyatakan diri-Nya kepada manusia, salah satunya melalui firmanNya. Awalnya, firman Allah disampaikan secara lisan kepada manusia dan diteruskan dari mulut ke mulut. Keadaan itu terus berlangsung sampai kemudian Musa dipilih Allah dan diperintahkan untuk menuliskan apa saja yang Allah pernah dan sedang firmankan. Demikian juga setelah Musa mati, hamba-hamba Allah, baik itu nabi, raja, atau rasul, dipanggil untuk melakukan hal yang sama seperti Musa : menuliskan firman Allah. 

Dari sini kita bisa lihat bahwa ide untuk menulis tentang Allah, muncul dari Allah sendiri. Tujuannya jelas, untuk menjaga kemurnian firmanNya. Seandainya disampaikan dari mulut ke mulut, besar kemungkinan akan terjadi distorsi pesan dari generasi ke generasi. Selain itu, Allah ingin agar firmanNya lestari dan dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. Kini, kita bisa menikmatinya sebagai Alkitab, literatur yang diilhamkan oleh Allah sendiri.


Namun, firman Allah yang tertulis itu masih memerlukan media bantu untuk menjelaskan maknanya. Firman yang tertulis kadang masih harus dijelaskan dan diuraikan. Dalam pelayananNya di dunia, Yesus banyak melakukan hal ini, menjelaskan firman Allah (di Perjanjian Lama) agar dimengerti. Alkitab adalah literatur Allah pribadi, yang kini ditawarkan kepada kita supaya menjadi sumber ide untuk membangun tubuh Kristus


Dalam 2 Timotius 3:16-17 dikatakan, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian, tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." Berbekal pemahaman ini, isi Alkitab kemudian mulai dijabarkan dan dituangkan ke dalam berbagai literatur, dengan maksud agar umat bisa lebih mudah memahaminya. Peristiwa-peristiwa yang erat kaitannya dengan firman atau menjadi saksi dan bukti kebenaran firman, kemudian dicatat dan dibukukan. Dari masa ke masa, jenis penjelasan ini berkembang, mulai dari tafsir Alkitab, kesaksian/sejarah, sampai dengan fiksi rohani. 


Dari sini bisa dilihat, pelayanan literatur sebagai upaya untuk menjelaskan firman adalah sebuah panggilan yang agung. Sejak jaman dahulu, panggilan pelayanan ini sudah diemban oleh para nabi, rasul, dan bapa-bapa gereja. Panggilan yang sama sekarang ditawarkan kepada kita. Sebagaimana serangan terhadap Gereja Tuhan tidak henti-hentinya, dan tugas membangun rohani dalam tubuk Kristus juga belum selesai, panggilan ini juga masih akan terus ada. Bahkan, seiring dengan semakin dekatnya masa pengangkatan gereja Tuhan dan penghukuman si jahat, tugas dan panggilan ini menjadi semakin penting. 


Panggilan itu menunggu tanggapan kita. Dalam tulisan Yohanes, secara tersirat terkandung makna, bahwa jika Allah ingin firmanNya diketahui oleh generasi mendatang (orang lain), maka Dia dapat 'mendesak' umat Allah untuk menuliskannya (Yohanes 20:30, 31 dan 21:25). Namun, we know, Allah menghargai kehendak bebas manusia ciptaanNya dan menunggu kerelaan manusia untuk menjadi 'alat-Nya'. 

Panggilan itu menunggu tanggapan. For me personally, panggilan itu telah bersuara begitu keras dan aku tidak bisa tidak menanggapinya. Tepat setelah lulus kuliah, aku sudah mengatakan kepada Allah, "Yes, Lord, I want to serve you on media ministry, especially on literature ministry" Seperti Daud yang mengerjakan panggilan Allah bagi generasinya, aku juga ingin mengerjakan panggilan pelayanan literatur ini untuk generasiku (dan bahkan generasi selanjutnya). Mengenai panggilan ini aku punya beberapa impian yang ingin dicapai, yang bahkan sampai sekarang Tuhan belum membuka pintu. Tapi kalau sampai saat ini blog ini masih jadi ladang yang Tuhan berikan, aku mau mengerjakannya dengan setia, sampai nanti Tuhan percayakan ladang yang lebih besar :)

"Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup - itulah yang kami tuliskan kepada kamu " (I Yohanes 1:1)


God bless,

4 comments:

keZioong said...

aku jg mo.. jadi tukang cerita-nya Tuhan :D

Dhieta said...

Haha, we are, Kez... karena yg diceritain Raja, kita ini tukang cerita level Kerajaan, first class, wkwkwk...

FarhaElein said...

wah, sayang banget tuh buku udh 'langka' ya, mbak Dhieta... kyknya buku itu bagus n inspiring..
hmm,, for me..aku kagum sama mbak Dhieta yg setia mengerjakan n menanti penggenapan panggilan Bapa, smpe skrg,, but, our Father is faithful...keep trust Him!

tiap kali baca tulisan soal panggilan, kayak tulisan ini, jadi semangat lagi buat kejar n gumuli panggilan hidup dr Tuhan... ^____^ FIGHTING,mbak!

Dhieta said...

sebenernya aku masih belajar setia, Farha, masih banyak gagalnya juga hehe.... But as you said, yes, He is faithful indeed^^ Iyaa, ayo temukan panggilan Allah buat hidupmu... biar hidup ini ngga sia-sia, tapi justru jadi berkenan di hadapanNya.

Jia you!
(^^)/

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review