6/23/2012

Choosing Impossibilities

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 9:47 pm
Tiba-tiba kepikiran, ada ngga sih orang yang sengaja mempersulit diri sendiri demi sebuah hasil yang un-regular? Maksudnya, kalau ada pilihan antara jalan yang mudah dan jalan yang sulit, dia justru akan memilih yang sulit.  Atau mungkin orang itu justru akan sengaja mempersulit keadaan sementara dia punya pilihan membiarkan keadaan biasa-biasa saja.

Kemarin sempat ngobrol sama seorang oknum blogger^^ yang bilang kalo keadaan A terjadi dalam hidupnya maka dia akan melakukan B walaupun itu seperti membuka pintu pada kegagalan. "Kamu ngga takut malah jadi berabe?" aku sempat nanya. Kata dia, kalo B itu berhasil maka itu berarti sebuah peneguhan final dari Allah.

Mungkin seperti saat dulu aku memilih Skripsi dulu. Di Undip, skripsi itu masuk mata kuliah pilihan. Jadi, yang ngga mau ambil skripsi bisa ambil latihan penelitian yang lebih gampang. Skripsi memang menuntut waktu yang lebih lama dan riset yang lebih rumit, tapi waktu itu aku tetep milih skripsi. Alasannya, "Allahku Allah yang besar, Dia sanggup bikin hal besar. Kalo Dia sanggup memampukanku untuk skripsi, masak aku sengaja pilih latihan penelitian?"


Lalu tiba-tiba ingat pada apa yang dilakukan Elia di Gunung Karmel saat Ia menantang nabi-nabi Baal.

I Raja-Raja 18:23-24
Namun, baiklah diberikannya kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu apai dan juga tidak akan menaruh api. Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama Tuhan. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!" Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!"

Lalu dilakukanlah seperti yang telah disepakati. Nabi-nabi Baal membangun mezbah, menyembelih lembu, melakukan ritual, bahkan menoreh-noreh diri mereka sendiri dengan pedang, tapi tidak ada yang terjadi. Tidak ada jawaban api dari tuhan mereka.

Lalu giliran Elia. Dia melakukan hal yang sama. Membangun mezbah, menyembelih lembu. Tapi tidak cukup sampai disitu.

I Raja-Raja 18:32-35
Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama Tuhan dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih. Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh poyongan-potongannya di atas kayu api itu. Sesudah itu ia berkata: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudia katanya: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk kedua kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian kayanya: "Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya, sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air.

Si Elia ini sebenernya kenapa sih? Secara hukum fisika, kayu yang ngga dibasahin ngga akan bisa terbakar begitu saja kalo emang ngga dikasi api. Ini kok malah pake bangun parit, trus udah gitu kayunya disiram lagi sampe basah ke dalem-dalemnya. Bukankah Elia sedang mempersulit keadaan? Bukankah dia juga sedang mempersulit dirinya sendiri?

Dan Elia melakukan ini dengan sengaja. Dia melakukannya based on choice.

Keadaan yang pertama (mezbah ngga pake air) aja udah cukup buat sebuah mujizat Tuhan. Tapi Elia ngga puas sampe disitu. Dia memilih mempersulit keadaan, mempersulit dirinya sendiri, supaya Tuhan bisa bekerja dengan level mujizat yang tidak biasa.

Prinsipnya seperti ini condition for a miracle is difficulty but condition for great miracle is impossibility. Atau sepertinya kalimat ini bisa memperjelas,

"When God intends to make something wonderful he begins with a difficulty. When he intends to make something very wonderful, he begins with an impossibility."

Bukankah memang seperti itu cara Allah bekerja? Membelah Sungai Yordan saat keadaan paling deras. Mengurangi pasukan Gideon sampai hanya tinggal 300 orang. Menunggu sampai Abraham mati pucuk dan Sara menopause. Memilih Daud yang sama sekali ngga ada tampang tentara. Membangkitkan Lazarus saat ia sudah mati empat hari. 

Mungkin selama ini Tuhan yang menempatkan kita dalam sebuah impossibilities. Tapi kalau kita punya kesempatan bertindak seperti Elia, menempatkan diri sendiri dalam sebuah impossibilities based on our own choice, why notDalam kasus Elia, saat Allah kemudian menjawab dengan api, terlihat jelas siapa sebenarnya Allah. Baal yang cuman harus ngebakar kayu kering aja ngga sanggup, tapi pilihan Elia membuka pintu bagi Allah untuk melakukan sesuatu di atas standar.  

Menaikkan level kesulitan. Menaikkan level ketidak mungkinan. Menaikkan level mujizat.

Contoh simpelnya seperti ini, baru-baru ini ada teman yang akan melamar beasiswa dan bingung memilih antara tes TOEFL atau IELTS. Dia memang lebih familiar dengan TOEFL, tapi untuk beasiswa (dan keperluan akademik lainnya) IELTS sebenarnya lebih sesuai. Masalahnya dia tidak familiar dengan IELTS dan sepertinya writing IELTS lebih sulit. Bagi dia, TOEFL adalah difficulties dan IELTS adalah impossibilities. Kalau dia memilih IELTS, maka dia harus belajar lebih keras dibanding kalau dia memilih TOEFL. Memilih IELTS menuntut dia untuk mengatasi ketidak mampuan dan ketakutannya sendiri. Namun memilih IELTS akan mengkondisikan dia lebih mengandalkan pertolongan Allah dibanding kalau dia memilih TOEFL. memilih IELTS membuka kemungkinan baginya untuk melihat mujizat Allah terjadi dalam hidupnya.

Memilih ketidak mungkinan memang akan memberi tuntutan pada level yang juga berbeda. Tantangannya pun berada pada level yang lebih tinggi. Untuk itu, mungkin dibutuhkan iman yang lebih besar, keteguhan yang lebih kuat, keberanian yang lebih dalam dan kerajinan yang lebih tinggi. Tapi ketika ketidakmungkinan itu teratasi, kita bisa benar-benar melihat, "Sungguh, ini pekerjaan Tuhan!" lalu hanya Tuhan, dan Tuhan saja, yang akan dimuliakan.



God bless,


P.S: Dan akhirnya, sekali lagi, aku memilih untuk memposisikan diri dalam sebuah ketidakmungkinan. Rasanya mungkin seperti Gideon yang membentangkan guntingan bulu domba di tempat pengirikan, dan meminta Allah membuatnya berembun sementara tanah di sekitarnya kering. Then, we'll see... ;)

14 comments:

Adelina Putri Damar said...

aku beberapa kali suka gitu ci, mempersulit diri sendiri. kadang kalo ngerjain yang biasa-biasa aja itu ada aja yang kurang. kalo lagi 'mempersulit diri' emang ada yang hasilnya gagal, tapi itu justru bikin dapet pengalaman baru yang orang lain ga dapet. hihihi.

nice post ci, contoh yg Elia keren banget. aku aja ga kepikiran :D

FarhaElein said...

hi, mbak.... saat ini aq juga lg disuruh milih antara sesuatu yg mmg comfort zone aq ato pindah di t4 yg "impossible"...

jujur, ini tulisan yg menguatkan...
God bless you,

Dhieta said...

memang mempersulit diri itu meningkatkan kapasitas juga... jadi apapun hasilnya, sebenernya dengan proses yang lebih sulit, kita juga jadi lebih banyak belajar...

ayok kita jadi keren kaya Elia :p

Dhieta said...

Waaa... bisa pas yaah? Huehehe... God bless you too, Farha^^

Adelina Putri Damar said...

betul betul betul! hihihi.. :D

AnitaBong said...

I wish we always to have courage to take the road less traveled :D hehehe~ Semangat terus sampe mukjizat Tuhan terjadi :D heheheh~ Gbu~

Dhieta said...

I do wish also :) Semangat, semangat, mukjizat masih ada! :D Gbu2, nitaaa... I miss you, btw, hehehe...

AnitaBong said...

Hahaha~ miss you too :D *hug* XD

Nonik said...

Ada loh Mbak contoh lain di Alkitab yg memilih jalan yang sulit. Daud! Waktu ia disuruh Saul untuk membunuh dan mempersembahkan 100 kulit khatan orang Filistin untuk Merab, putrinya. Daud ga hanya kasih 100, tapi 200.... 2x lipat lebih byk drpd yg diminta Saul hehe.

tapi baca tulisanmu soal Elia ini, membuatku makin kagum juga.... jujur, sangat sulit bagiku untuk memilih jalan yg sulit. Yg sering malah mempersulit diri sendiri. Dg kata lain, kalo disuruh Tuhan tunggu malah seringnya ga sabaran en akhirnya jadi bersusah payah sendiri, tubruk sana tubruk sini :(

David Rumeser said...

Great writing. Praise God. Oya sy prnh dgr juga klo waktu itu adl waktu kemarau karena 3 1/2 thn ga ujan. Jadi air (yg Elia) korbankan itu sesuatu yang langka. Elia benar2 mencoba "mempersulit" dirinya dan Tuhan, tapi di sisi lain Elia juga ingin mempersembahkan sesuatu yang jarang, yang langka, yang terbaik buat Tuhan. Just some other insights. Anw, sy sgt diberkati dgn tulisanmu, Mekar. Praise God.

Dhieta said...

iyaa, Daud itu seperti disuruh berjalan satu mil tapi berjalan dua mil. Tapi emang Tuhan bener2 lagi dealing with your patience yah, nik. Semangat, jadilah lembut di bawah tanganNya... Kalo tubrak tubruk mulu ntar kepalanya benjut kabeh wakakak

Dhieta said...

Betul, and I also think that it came from Elia's faith. Kalo kagak punya iman mana berani coba? Pasti mikirnya, kering aja belum tentu kebakar apalagi kalo basah? Atau, ini air tinggal dikit, gw mesti hemat2, kan ga tau Tuhan kasi air lagi kapan... Wew! Tapi emang dengan iman ga ada yang mustahil buat Tuhan (^^)/ Thank you for the insights ya, david.... Saya juga diberkati dengan tulisanmu loh :) Btw, panggil dita aja, mekar itu terlalu KBBI, bahasa Indonesia yang baik dan benar, hahahaha....

tteen_mood said...

suka bagian ps nya :)))) all things are possible for Him :D

Dhieta said...

ini titin bukaaannn? :D iya, Our God is the God of impossible things^^

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review