1/20/2012

Dua Pelajaran

Dibagikan oleh Dhieta at 8:51 am
Pertama, tentang mengejar perkenanan. Mungkin ada beberapa yang udah sering denger kalo Tahun 2012 adalah Tahun Promosi dan Multiplikasi Dengan Perkenanan Tuhan. So, logikanya begini, kalau kita pengen mendapat promosi dan multiplikasi, kita harus jadi seseorang yang berkenan di hadapanNya. Beberapa hari ini kerinduan buat mengejar perkenanan Tuhan itu sedang menggelora di hatiku (Halaaahh, apaan tuh menggelora^^ wkwkwk) Pastinya mau dong jadi kaya Daud yang dibilang Tuhan, "Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku." (Kisah Para Rasul 13:22)

Then tiba-tiba kemarin terlintas gimana kalo di akhir tahun ntar tetep aja promosi dan multiplikasi itu tidak terjadi. Yaah, misalnya aja aku udah bener-bener berkenan di hadapanNya tapi tetep aja teuh doa yang itu ngga terjawab, keadaan ya gini-gini aja,  atau gimana kalo somehow keadaan malah jadi tambah buruk >,< Jadi apa gunanya mengejar perkenanan Tuhan? Toh ngga dapet multiplikasi dan promosi? Buat apwaaaahhh??? #mulai deh alay :D#


Terus tiba-tiba inget sama ayat ini, Daniel 3:16-18,
"Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. 17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Sadrakh, Mesakh dan Abednego taat karena mereka tahu itu yang dikehendaki Allah. Mereka taat, bukan untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Mereka tahu Allah berkuasa menyelamatkan mereka dari dapur api. Tapi kalaupun Allah tidak menyelamatkan mereka, itu tidak mengubah keputusan mereka untuk taat. Bagi mereka, menyenangkan hati Allah lebih penting dari segala promosi atau multiplikasi yang mungkin terjadi. Sadrakh, Mesakh dan Abednego mengejar perkenanan Allah semata karena Allah saja, bukan karena berkat yang mungkin mereka dapat.


Fiuuuh, sedikit teguran untukku yang sedang mengejar perkenanan Tuhan dengan otak yang lebih banyak memikirkan multiplikasi dan promosi. Bahkan Daud yang Ia sebut berkenan pada akhirnya sampai di suatu titik dimana dia berkata,

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.
(Mazmur 73:25-26)


***


Kedua, tentang keberanian percaya. Tuhan seperti sedang menyuruhku mempercayai sesuatu yang sangat tidak mungkin. Awalnya aku menolak mentah-mentah ide untuk percaya itu. Aku datang ke hadapan Tuhan dengan list berisi daftar berisi "Why We Have To Close This Case" dan berbusa-busa menjelaskan keadaan yang sesungguhnya kami hadapi. Lalu semua presentasi itu diakhiri dengan kalimat, "Jadi, Tuhan, bagaimana mungkin? Sudahlah ya, tidak usah kita bahas lagi soal ini. Untuk percaya lagi, itu terlalu beresiko, dan aku tidak siap menanggung resikonya."


Lalu suatu hari ayat ini muncul di saat teduhku, I Yohanes 5:14-15 

Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.


Aku tahu, sangat tahu, kalau percaya itu butuh keberanian. Percaya bahwa bangsa Israel bisa mengalahkan bangsa Kanaan, itu butuh keberanian.  Kalau Yosua dan Kaleb takut, bangsa Israel tidak akan pernah sampai di Kanaan. Mereka berani untuk percaya kepada Allah dan itu membuat mereka berani memasuki tanah Kanaan, berani mengangkat senjata dan berperang dengan bangsa-bangsa yang ada di sana. 


Tapi kenyataannya, aku tidak seberani itu. Bahkan ketika aku tahu yang kupercayai adalah kehendak Tuhan (lha wong Tuhan yang nyuruh percaya, masa yang kupercayai itu bukan kehendakNya?), dan karena itu aku tahu bahwa Ia akan memberikanNya, aku tidak bisa begitu saja menyingkirkan rasa takut itu. 


Akhirnya di ibadah Minggu kemarin, Tuhan memporak-porandakan hatiku dengan satu ayat ini, 
2 Timotius 1:7

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.


Rasanya hancur banget sampai-sampai air mata yang udah berbulan-bulan ngga keluar, akhirnya harus menampakkan diri lagi. Bahkan aku sendiripun tidak menyangka kalau akhirnya aku akan mengucapkan doa seperti ini, "Tuhan, aku takut. Takut banget. Kenapa Tuhan minta aku percaya untuk hal yang satu ini, sementara Tuhan tahu sendiri keadaannya seperti apa. Ini sulit banget Tuhan. Aku ngga sanggup. Imanku kecil, Tuhan, imanku ngga cukup. Ngga cukup. Tolong aku yang tidak percaya ini."


Fiuuuh, gimana ya ceritanya... Aku yang biasa berdoa dengan kata-kata iman, sepertinya saat itu berada di my lowest point, karena untuk percaya pun aku tidak sanggup, apalagi untuk melangkah dalam iman. Tapi somehow I think, jujur itu lebih baik, di sisi lain dengan mengakui ketakutanku dan ketidakmampuanku untuk percaya, it relieved me. 


And then I got this from my daily devotional,


Trust in His Promises
"God... calleth those things which be not as though they were" (Rom. 4:17)


What does that mean? Why Abraham did this thing: he dared to believe God. It seemed and impossibility at his age that Abraham should become the father of a child; it looked incredible; and yet God called him a "father of many nations" before there was a sign of a child; and so Abraham called himself  "father" because God called him so. That is faith; it is to believe and assert what God says. "Faith steps on seeming void, and finds the rock beneath."


Only say you have what God says you have, and He will make good yo you all you believe. Only it must be real faith, all there is ini you must go over in that act of faith to God -- Crumbs.


Be willing to live by believing and neither think nor desire in any other way. Be willing to see every outward light extinguished, to see the eclupse of every star in the blue heavens, leaving nothing but darkness and perils around, if God will only leave in thy soul the inner radiance, the pure bright lamp which faith has kindled. -- Thomas C. Upham.

The moment has come when you must get the perch of distrust, out of nest of seeming safety, and onto the wings of faith; just such a time as comes to the bird when it begin to try the air. It may seem as though you must drop to the earth; so it may seem to the fledgling. It, too, may feel very like falling; but it does not fall -- it's pinions give it support, or, if they fail, the parent birds sweeps under and bears it upon its wings. Even so will God bear you. Only trust Him; "thou shalt be holden up."

"Well, but." you say, "am I to cast my self upon nothing?" That is what the bird seems to have to do; but we know the air is there, and the air is not so ubstansial as it seems. And you know the promises of God are there, and they are not unsubstantial at all. "But it seems an unlikely thing to come about that my poor weak soul dhould be girded with such strength. "Has God said it shall?" "That my timorous, trembling heartshall find peace?" Has God said it shall? For, of He has, you surelt do not mean to give Him the lie! Hath he spoken, and shall He not do it? If you have gotten a word -- "a sure word" of promise -- take it implicitly, trust it absolutely. And this sure word you have; nay, you have more -- you have Him who speaks the word confidently. "Yea, I say it unto you," trust Him. -- J.B. Figgis, M. A.


Akhirnya ya aku cuma speechless dengan semua keadaan ini. Akhirnya aku cuma bisa bilang, "Tuhan, bahkan kalau aku percaya, the ball is not mine, my hands are off (wkwkw, tetep ngeyel :p). Jadi kita jalani aja yah, Tuhan. Intinya, whatever you want to give me, aku akan terima kok. Let thy will be done on me."

Trus belakangan ini lagi inget video ini, dan merasa tertampar... :'(



God bless,

8 comments:

Theresia Hutapea said...

heei Tooong!!
tenang pd waktunya promosi dan multiplikasi akan dtang, trlalu mudah itu inang, buat Bapakmu yang diSurga ituh :D trmasuk promosi jdi isteri dari slh satu putera Bapakmu yang DiSurga ituh hahahaha haleluyah!!
cieee anak deplu emg lain ya, devotionalnya ajah bhs Inggris ma men :D
-take it implicitly, trust it absolutely.
hmmm gw jg lgi ad ksulitan ni utk prcya bbrapa hal yg Dia omongin hahah..sori Beh yah <3

Mega said...

Setuju, percaya emang butuh keberanian. Keberanian untuk menerima bahwa apapun yang diberikanNya pasti yang terbaik-lebih baik dari yang kita inginkan, seringnya si ngotot my way is better than Him, haissss......

Dhieta said...

@echong : aaah, susah deh klo udah ngomong sama orang yg karuniany nabi huehehehe :p oooh, promosi dari it's complicated jd in a relationship gtu maksudmu :D yaaah, ak aminkan saja kalo begitu^^ pengennya pake bhs arab, chong, tapi apa daya daku tak sanggup. Cieeeh, cieeeh, diomongin apa neh sama Babeh???

@Mega : keberanian untuk tetap bertahan dan menerima yg terbaik, daripada menyerah hanya demi the second best. Fiuuuhhh...

christine natalia said...

promosi dan multiplikasi pasti dateng kak, indah pada waktuNya.. :D

Dhieta said...

@teeteen : amen, teen, pasti, pasti, pasti... Mujizat masih ada :)

Nonik said...

mbak Dhieta, i know i know i know. Pok pok pok.... peluk peluk... hehe. Aku juga lagi mengalaminya. Ga sama persis, tapi ya gitu deh, kita 11-12 wakakak ^o^

btw itu daily devotionalnya dpt dimana si Mbak? aku juga pingin nih, udah berapa bulan ni aku nyari renungan belum nemu yg cocok. Udah 4 thun pake renungan Spirit Girl yg menurutku ga sesuai lagi hehehe.

@Kak Theresia Hutapea: salam kenal kak! :D dgr2 kakak tinggal di Bandung ya? di bandung mana? kapan2 ketemuan yuk...

Welly Lokollo said...

Ya ya ya, promosi n multiplikasi itu suka-suka Tuhan mau kasinya kapan. Tugas kita yah terus taat dan setia sama Tuhan. Untuk itulah kita dipanggil

Tuhan rindu memberkati kita, pertanyaannya kita rindu menyenangkan hati Tuhan ga yah?? Kita mau terus percaya sama hatiNya ga yah..Ayo semangat dhiet (menyemangati diri sendiri juga :D)

Dhieta said...

@Nonik : peluk, peluk, peluk hehe^^ aku pake Streams is the Desert nik, soalny waktu itu lagi Kelas Padang Gurun kan? Klo biasanya malah aku ngga pake buku sama sekali, ya urut aja gtu bacanya. Cuman kayany mo pake buku apa gtu sekarang, biar tambah pinter :) Lagi nyari My utmost for His Highest, tp yang bhs Inggris :)

@Welly : Iyaah, semangat Wel... When we can not see God's hand, we always can trust His Heart :) Suka-sukanya Tuhan...

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review