4/16/2012

(Jangan) Pakai Setiap Kesempatan

Dibagikan oleh Dhieta at 3:35 pm
Pelajaran yang didapat minggu ini adalah ternyata tidak semua kesempatan harus digunakan.

Awalnya memang aku berpikir bahwa kemarin itu adalah satu kesempatan yang baik untuk memberitahu , atau setidaknya menunjukkan, kepada seseorang tentang sesuatu. Tapi kenyataannya aku seperti melepaskan kesempatan itu, which is good actually, tapi malah jadi penasaran dengan apa yang terjadi kalau seandainya waktu itu aku pakai kesempatan itu.

Tapi si Ira bilang, "Ga perlu lah dia tahu. Dia tidak harus tahu." Kalo dipikir-pikir, bener juga sih. Memang orang itu tidak harus tahu. Kalaupun dia pada akhirnya tahu, ya itu bukan dari aku lah. Ada yang lebih berhak melakukannya. Terlebih, memang seharusnya dia sendiri yang mencari tahu.

Cuman masalahnya lagi-lagi my stupid analytical brain bisik-bisik ga penting, "Kalau waktu itu kesempatan itu dipakai, siapa tahu loh keadaan bisa berubah."

Iiiiihhh....

Sampai pagi ini di busway yang penuh, diantara posisi desak-desakan kaya teri medan dalam plastik, ngebaca perikop tentang Daud. Bukan hal baru memang tapi waktu ngalamin sendiri memang jadi menjelaskan lebih banyak.

Ini tentang Daud yang tidak memakai kesempatan yang dia miliki untuk membunuh Saul. Walaupun kesempatan itu menari-nari di depannya. Walaupun kesempatan itu semudah membuat dombanya memakan rumput. Hahaha... Tapi toh Daud tidak memakai kesempatan itu. 

Tidak hanya sekali, tapi dua kali. Pertama, di I Samuel 24:3-12, waktu itu Daud bisa saja membunuh Saul tapi dia hanya memotong punca jubahnya. Kedua, di I Samuel 26:1-25, kali ini membunuh Saul juga adalah urusan mudah, tapi lagi-lagi Daud hanya  mengambil tempat minum Saul.

Orang-orangnya meyakinkan Daud bahwa itulah saatnya Tuhan memberikan Saul kepadanya. Mereka bilang itulah saatnya Tuhan melakukan apa yang Ia janjikan yaitu bahwa Ia akan menyerahkan kepada  Daud  musuh-musuhnya. Memang terdengar rohani yah, bawa-bawa janji Tuhan segala. Cuman ya Daud sih cuek-cuek aja. Dia ngga nurutin apa yang anak buahnya bilang.

Kenapa, oh, kenapa?

Deep inside his heart, Daud tahu kalau membunuh Saul bukanlah caraNya Tuhan. Tuhan ngga akan pakai cara kaya gitu. Ini yang ada di pikiran Daud tentang cara Tuhan menangani masalah Saul,

I Samuel 26:10
Lagi kata Daud: "Demi Tuhan yang hidup, niscaya Tuhan akan membunuh dia: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia berperang dan hilang lenyap disana." (TB)

Surely the Lord will strike Saul down someday, or he will die of old age or in battle. (NLT)

Daud tahu, someday, akan ada waktunya Saul mati dan Daud yang jadi raja, sesuai dengan yang dijanjikan Tuhan. Tapi kalau Tuhan pengen Saul mati dan Daud jadi raja, Tuhan tidak akan membiarkan Saul terbunuh di tangan Daud. Itu sama saja dengan Tuhan menjadikan Daud menjadi pembunuh seorang yang diurapi Tuhan, seorang yang tidak tunduk dan hormat pada mereka yang memegang otoritas.

Mana mungkin Tuhan pakai cara dengan impact seperti itu?

So, meskipun ada kesempatan terbuka lebar di depannya, meskipun membunuh Saul akan menjadikan segalanya lebih mudah, Daud tahu semua itu bukanlah cara Tuhan. Daud tahu Tuhan ga mau dia memakai kesempatan itu. 

Lalu kenapa Tuhan memberikan kesempatan itu? Hmmm... sama seperti Tuhan menyuruh Abraham menyembelih anaknya sendiri kan? Ia ingin menguji hati kita, apakah kita memang taat kepadaNya. Tuhan pengen lihat apakah hati si Daud ini lebih cinta pada kedudukannya sebagai Raja. Tuhan pengen lihat apakah hati Daud sudah cukup percaya bahwa Tuhan punya cara dan juga sudah cukup sabar buat menunggu waktunya Tuhan. Tuhan pengen lihat apakah hati Daud sudah mengerti hati Tuhan.

Memang nampaknya mudah sekali, tinggal bunuh dan beres, Daud jadi raja. Tapi pintu yang lebar biasanya justru berujung maut. Jangan asal mau yang gampang, jangan asal mendapat yang kita inginkan. Lagi-lagi, dapatkan di waktu Allah dan dengan cara Allah.

Ternyata kesempatan tidak selalu benar-benar kesempatan. Bisa jadi sesungguhnya itu adalah ujian. Kalau kita lulus ujian, itu berarti kita punya predikat "dinyatakan siap mendapat janji Tuhan.", kaya Daud itulah, ga lama kemudian Saul mati tanpa Daud perlu menyentuh selembar rambutnya. Akhirnya Daud benar-benar jadi raja, pada waktunya Tuhan dan dengan caranya Tuhan.

Aku jadi inget kalau Daud kan diproses lama banget tuh dari awalnya dapet janji Tuhan sampe akhirnya jadi Raja. Sebelum jadi Raja, Daud mesti ikut pelajaran dulu. Kurikulumnya macem-macem, ada the art of waiting upon God, ada patience and perseverance, ada intimacy with God through praise and worship, banyak banget lah. Di sekolah itu sering banget ada ujian ini ujian itu. Masalahnya, di sekolahnya Tuhan ini ya cuma Tuhan yang tahu kapan waktu kenaikan kelas itu.

Kita tahu kalau jarak antara ujian kesempatan Daud dengan Saul mati itu ga lama. Ujian kesempatan itu seperti ujian kenaikan kelas buat Daud. Semacam final test gitu lah. Sidang skripsi, UN, or whatever it is. Tuhan tahu udah saatnya buat menggenapi janjiNya, tapi Dia pengen lihat dulu hasil pendidikannya selama ini. Kalau respon Daud benar dan dia lulus, ga ada alasan buat Tuhan menahan berkatNya. Tapi kalau respon Daud ga benar dan dia ga lulus, bukan ga mungkin Tuhan akan tunda penggenapan janjiNya.

Fiuuuhhh, langsung jadi lega gitu abis dapet rhema ini. Sambil ngelus dada dan komat-kamit sendiri, "Untung waktu itu kesempatan itu ngga diambil." Hehe... Tuhan top banget deh. Dia tahu aku ga enak hati mikirin kesempatan yang kemarin lewat, langsung dijelasin panjang lebar lewat cerita si Daud. Wooohooooo!!!!

Trus iseng-iseng lirik Tuhan, "Jadi ujian kesempatan kemarin itu karena waktuMu udah mau tiba yah Tuhan?" Haha, Tuhan cuman nyengir :p


God bless,

9 comments:

Theresia Hutapea said...

ingaat Tong, pengkotbah bilang "kesabaran mncegah ksalahan2 besar"
biarlah Dia yg brbicra kpadanya dikamar doanya ya
hahahahaha
*the gift of sotoy*

Dhieta said...

@Echa: uhuuuuiii, pengalaman pribadi yah cha? tenanglah, kamar doa si abang itu akan terguncang oleh doa2mu :p *thepowerofrevenge*

mari kita menggosipkan diri sendiri, biar terkenal. wkwkwkwkwkwkkkkk.....

Mega said...

Woiii...tukang gosip juga ko ternyata Ditong :p

Dhieta said...

@mega : posting selanjutnya ngegosipin kau, Mogmog... ^^v

wina said...

baguss bagusss mb dhiet,,,, ujian yang dibungkus dgn kesempatan,,,, butuh kepekaan,, n so pasti ketaatan..
so bless ^^

Dhieta said...

@wina : iya, dek, peka, dengar2an sama suaraNya.. :) semangat yah, kita berjuang sama2 :D

Nonik said...

postingan ini LUAR BIASA, termasuk orang2 yg comment di atas :p

Mbak, tulisanmu disini lucu2 loh. Misale, "berdesak-desakan di busway seperti ikan teri di plastik" ahahahaa. terus the way you said "my stupid analytical brain" xixixi.

benar2 luar biasa rhema yg Mbak dapet!! aku suka yg ini nih:

"Ia ingin menguji hati kita, apakah kita memang taat kepadaNya. Tuhan pengen lihat apakah hati si Daud ini lebih cinta pada kedudukannya sebagai Raja. Tuhan pengen lihat apakah hati Daud sudah cukup percaya bahwa Tuhan punya cara dan juga sudah cukup sabar buat menunggu waktunya Tuhan. Tuhan pengen lihat apakah hati Daud sudah mengerti hati Tuhan."

dan ini:

"pintu yang lebar biasanya justru berujung maut. Jangan asal mau yang gampang, jangan asal mendapat yang kita inginkan. Lagi-lagi, dapatkan di waktu Allah dan dengan cara Allah."

jadi buat aku mikir en merenung-renung lagi. Hmmmm.... Mbak, gimana kita bisa tahu itu saat pengujian ato bukan??? apakah itu kesempatan yg harus diambil ato bukan??? gimana???

Dhieta said...

@Nonik : gimana ya, nik? *ikutan mikir n merenung :D ya mesti dipergumulkan lagi. Kalo kenal and akrab sama Tuhan biasanya sih juga jadi peka sama jalanNya Tuhan. Roh Kudus juga pasti ngomong, ngasi tahu, ngasi nasehat... Daud kan kenal banget tuh sama Tuhan, sama hatiNya, jdi dia peka^^ mungkin salah satu caranya, jangan terlalu cepat ambil keputusan. Sabar. Diuji dulu. Dipertimbangkan. Bawa ke hadirat Tuhan. Kalo ngga, jadinya ntar malah kaya Saul, ada kesempatan buat mempersembahkan korban, dia ngelakuin aja. Kelihatannya baik emang, tapi Tuhan ga suka, cos Saul ga punya kewenangan. Saul kan harus tunggu imam Eli yg pimpin ibadah itu. Saul ga sabar tunggu waktu Tuhan, jdi dia pake caraNya sendiri, kesempatan apa aja disamber. Jadi mikir, kita2 kalo waktu itu Saul taat gimana ya? :p Kira2 gtulah sekilas info wekekekek

uly said...

dhieta, cuman bisa bilang : aku suka postingan ini dit, ngingatin ternyata gak semua itu benar2 kesempatan bisa jadi itu suatu ujian apakah kita tetap sabar :)

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review