12/18/2011

Skripsiku : Prolog dan Sidang Filter

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 1:32 am
First of all, selamat buat Nonik yang skripsweetnya sudah di-ACC. Itu kabar sukacita yang luar biasa :) Lalu, ngikutin Mega yang bikin post soal kuliahnya yang selesai dalam waktu 3,5 tahun (keren loh, Meg :D), jadi pengen cerita juga soal masa kuliah, terutama saat-saat menjelang kelulusan :D Well I think this post is dedicated to Nonik, Kezia,dan juga kamu semua yang mungkin sedang bergumul dengan kuliah, esp. urusan skripsi dan kelulusan :D


Oke, mulai dari mana ya? Mmm, mungkin aku mulai dengan kalimat ini: aku lulus kuliah dalam waktu 5 tahun. What??? Lama amat? Hahaha,,, Iyaa, emang lama. Padahal semua mata kuliah udah selesai waktu semester 6 #thanks to semester pendek#, dengan IP lumayan. Tapi berhubung masih ada beberapa nilai yang di bawah B, I decided not to be too ambisious dengan segala cepet-cepet lulus itu. Soalnya setelah aku hitung-hitung nih ya, kalo makul yang nilainya meragukan itu bisa naik, dan skripsiku nanti dapet A, berarti aku bisa lulus dengan predikat cum laude. Waktu itu sih aku pikir, kenapa terburu-buru kalau hasilnya nanggung dan dengan sedikit usaha sebenarnya aku bisa dapet better result.


Untungnyaaa, aku kuliah di universitas negeri yang satu semesternya cuma Rp. 550.000 dengan SKS gratis :) jadi ngga terlalu terbebani dengan biaya, karena toh aku tinggal di Semarang sama sepupuku, praktis Bapak sama Ibu cuman tinggal mikir uang transport sama uang jajan. Emang lumayan berat sih, tapi kalo dibandingin sama temen-temen yang kuliah di swasta, aduh, ngga bisa ngebayangin lah. Uang semesternya aja bisa berlipat-lipat kali ganda dari uang semesteranku di Undip >,<

Soal beberapa nilai di bawah B yang keukeuh aku ambil kelas perbaikan, itu adalah sebuah pilihan idealis. Skripsi juga pilihan idealis karena di kampusku sebenarnya bisa lulus dengan jalur non skripsi. Lewat jalur non skripsi, mahasiswa bisa lulus hanya dengan membuat semacam latihan penelitian alias Latpen. Latpen ini penelitian juga, tapi khusus metode kuantitatif (yang kata orang lebih gampang dari metode kualitatif) dan standar yang diberlakukan ngga setinggi skripsi. Tapi Latpen ini cuma bernilai 3 SKS, ngga sebanyak skripsi yang 6 SKS. So, buat mereka yang ambil latpen, mereka harus ambil mata kuliah tambahan agar kredit minimal untuk lulus which was 144 SKS bisa tercapai. Tapi intinya, baik skripsi maupun latpen keduanya masuk mata kuliah pilihan, jadi tergantung tiap mahasiswa mau pilih yang mana.

Kalau aku, aku pilih skripsi. Kenapa? Hmm, ngga ada alasan spesial. Waktu itu aku hanya berpikir, aku ini kan mahasiswa, bikin skripsi itu memang sudah tugas mahasiswa. Kenapa harus menghindar hanya karena alasan ingin cepat lulus? Alasan kedua, kalau dibilang skripsi sulit, bukankah latpen juga punya kesulitan tersendiri. Kalau sama-sama butuh perjuangan, mungkin skripsi butuh 8 energi dan latpen butuh 5 energi. Kalau begitu kan tanggung, lebih baik push my self buat tambahkan 3 energi dan aku akan dapat skripsi. Alasan ketiga, ini nih yang utama, aku tahu Allah-ku Allah yang sanggup mengerjakan hal-hal yang besar.  Jadi kenapa aku tidak mengharapkan hal besar? Bukankah with all His grace and power within me, I can reach and do the big things? Seperti dikatakan di Filipi 4:13, For I can do everything through Christ, who gives me strenght (NLT). I can do everthing, everything, termasuk skripsi. Kalau Allah menjamin kesanggupanku mengerjakan skripsi, kenapa aku harus puas dengan Latpen? 

Masalahnya kalau ambil skripsi, aku harus melalui dua kali sidang. Pertama adalah sidang proposal (Bab I) yang dikenal dengan nama sidang FILTER. Sidang ini sama dengan sidang skripsi, ada 3 orang dosen yang bakalan menguji apakah proposal itu layak untuk diteliti. Dosen-dosen ini akan melihat the way you thought, apakah bangunan argumen dan bangunan teori yang dipakai cukup kuat untuk menjadi kerangka penelitian tersebut. Tapi sistem filter ini baru diberlakukan waktu angkatanku mau bikin skripsi. Jadiiii, kami sama sekali ngga punya referensi soal seperti apa filter itu. Yang ada di bayangan kami adalah kami bakalan di-tortured dengan 3 makhluk ganas yang siap kapan saja menghancurkan impian kami soal masa depan. Ooohh... Please, somebody help! Keadaan makin parah karena ada beberapa kakak angkatan (yang telat ambil skripsi dan harus ikut menikmati filter policy) dan beberapa teman yang udah kebelet lulus harus pasrah proposal penelitiannya ditolak mentah-mentah karena dianggap tidak layak. Alhasil, kami-kami yang masih jadi penonton dengan harap-harap cemas ini dihadapkan dengan situasi tragedi di depan mata. Akhirnya kami jadi semakin ketakutan dan khawatir dengan yang namanya sidang filter itu.

Pergumulan pertama dengan skripsi adalah soal topik. Belajar Komunikasi di Univ. Diponegoro berarti kamu belajar semuanya mulai dari periklanan, public relations, sampe jurnalistik. Tapi dibanding komunikasi terapan kaya gitu, aku lebih suka komunikasi murni kaya Komunikasi Antar Pribadi dan Komunikasi Antar Budaya. Ini adalah mata kuliah yang dasar banget, tentang bagaimana membangun hubungan dengan orang, bagaimana hubungan itu ditentukan dengan cara kita berkomunikasi, bagaimana persepsi bisa mempengaruhi komunikasi... Pokoknya asik lah, walaupun sedikit banyak dipengaruhi juga dengan Psikologi Komunikasi yang, ya ampuuun, modulnya lumayan bikin sakit kepala, hehehe. 

Sebelum masuk filter, mahasiswa bebas buat konsultasi dengan dosen manapun yang mereka mau. Nanti setelah lulus filter baru deh dapat dosen pembimbing yang punya kapasitas sesuai topik penelitian yang dikerjakan.  Karena filter itu pula aku ngga mau bikin proposal yang sembarangan, harus bener-bener layak karena aku ngga mau sidang filter berkali-kali, yang berarti buang-buang waktu juga karena bikin proposal (BAB I) itu sebenernya bahkan bisa lebih lama dari penelitian itu sendiri. Beberapa topik skripsi awalnya sempat di drop sama dosen. Tapi akhirnya nemu juga topik yang menuurutku lumayan asik. Jadi judul proposal penelitianku adalah soal Negosiasi Identitas Antara Pasangan Tionghoa - Jawa Dengan Keluarga Pasangannya. Hahaha, lucu kan judulnya ya? Sounds ngga penting, tapi sebenernya pernikahan antar etnis tuh penting loh buat menciptakan masyarakat yang open minded dengan multikulturalisme :) (Uraian lebih lengkap bisa baca skripsiku di perpustakaan FISIP Undip hahahaha....)

Topik ini sebenernya diinspirasi dengan 'persahabatan'ku dengan Ko Yossie walaupun waktu itu kami udah ambil jalan masing-masing, hehe. Tahu kan ya, hubungan beda budaya itu bisa jadi berat dan sulit, apalagi kalau udah berhubungan dengan how to deal with the family. Semuanya cuma masalah identitas aja, identitas sosial kita (Misal: Jawa, China, Sunda dll), kadang jadi tolak ukur identitas personal kita, yang dipengaruhi oleh stereotype dan prasangka. Pernah dengar kan kata-kata kaya 'Jangan married sama China, kan mereka pelit." atau "Jangan married sama Jawa, tukang boong kerjaannya." atau "Jangan married sama Batak, tukang marah-marah." dsb dsb sejenis itu deh. Nah skripsiku itu neliti hal-hal kaya gini, bagaimana pasangan yang beda budaya, yang mungkin awalnya ngga disetujui dengan orang tua, memecahkan masalah relationship itu lewat komunikasi dan bagaimana pola komunikasi yang terbentuk.

Masa pra Filter itu sungguh masa yang berat. Luar biasa takut, terutama TAKUT GAGAL. Jadi sambil bikin proposal, ke perpus berjam-jam, ketemu dosen buat diskusi, ngetik sampe jari-jari pegel, semuanya dilakuin sambil deg-degan pula. Aduh, bener ngga ya kalo masukin teori ini? Aduh, bener ngga ya, argumennya ini?  Bla...bla...bla... Aku tahu banget kalau aku sampai nggga lulus filter, efek psikologisnya bisa bikin aku males buat filter yang kedua kali. Tapi waktu itu, Tuhan terus ingatkan aku lewat firmanNya. Kaya gini nih yang aku tulis di diaryku:

Kadang kita membayangkan kemungkinan terburuk: "KEGAGALAN!" Tapi faktanya adalah Allah dekat saat aku memanggilNya, Ia berfirman 'Jangan takut', berharaplah kepadaNya. 

Rapatan 3:24-26
"Tuhan adalah bagianku,"kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepadaNya. Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepadaNya, bagi jiwa yang menanti Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan.

BERDOALAH, jika aku punya waktu untuk khawatir, berarti aku punya waktu untuk berdoa.

FILTER. Jangan mengeluh. Ini adalah proses yang harus dilewati. Sooner or later. Berharap dan percaya saja. Berdoa. Do my best and God will take the rest!

Akhirnya proposal pun jadilah. Sambil harap-harap cemas, aku daftar Filter, dapet jadwal dan dosen penguji. Hmm, lumayan deg-degan karena ada satu dosen yang ahli banget soal metode penelitian kualitatif (metode skripsiku waktu itu) dan kritis abis. Tapi, bersyukur bangeeett, semangat dari Tuhan ngga habis-habis. Tuhan tahu banget kalau jiwaku harus diisi dengan pengharapan, dan emang Dia kasih melimpah-melimpah-melimpah. Jadi dua hari sebelum filter Dia banyak bicara lewat saat teduhku. Pertama adalah melalui kitab Ester, dan yang kedua adalah lewat janjiNya soal masa kuliah.

Dari Ester, Allah menunjukkan bahwa Ester berhasil bukan karena kekuatannya, tapi karena kemurahan Allah. Ketika berada di karantina, Ester tidak menghendaki sesuatupun selain yang dianjurkan oleh Hegai, tapi Ester menimbulkan kasih sayang pada setiap orang yang melihat dia (Ester 2:15). Bahkan Ester dikasihi Baginda lebih daripada perempuan lain dan terpilih jadi ratu (Ester 2:17). Dari bagian ini, aku diingatkan bahwa Ester melakukan persiapan sesuai dengan kapasitasnya. Dia menjalani proses yang ada tapi ngga  ngoyo, mengandalkan kekuatan sendiri. Tapi lihatlah, Allah mengaruniakan kemudahan-kemudahan buat Ester, mulai dari Hagai sampai Raja, semuanya sayang Ester (cup, cup, muah, muah! :p)

Kedua, saat Ester harus menghadap Raja, Ester berpuasa dengan dayang-dayangnya dan semua orang Yahudi yang ada di Susan. Tapi Ester tetap bersikap seperti ini, "Aku akan menghadap Raja... kalau terpaksa aku mati biarlah aku mati." (Ester 4:16) Lalu hasilnya, Ester mendapatkan kasih karunia Raja, bahkan Raja bilang Ester boleh minta apa saja dan pasti diberi. Kesimpulannya waktu itu aku tulis begini:

Yang dilakukan Ester adalah mempersiapkan diri, berdoa dan berusaha.
Tapi Ester siap menerima apapun resikonya. Ia berserah. 
Apa yang didapat Ester, kasih Hagai, kasih Raja, semua adalah campur tangan Allah. 
Allah yang mengambil kendali pada hal-hal yang tidak bisa diatur oleh Ester. 
Ester melakukan bagiannya dan Allah melakukan bagianNya. 

Kalau Allah ada di pihak kita, siapa yang bisa melawan?

Jangan takut ujian Filter.
 Lakukan persiapan sebaik-baiknya. Berdoa. Berpuasa. 
Percaya. Allah tidak akan diam saja.

Waaah, rhema yang sungguh menguatkan. Ditambah lagi dengan rhema yang aku dapet semalam sebelum sidang Filter. Waktu itu di diaryku kutulis begini:

Apa yang menghalangiku untuk berharap?
Takut gagal? Ingat, tangan kanan Allah membawa kemenangan (Yes 41:10)
Takut dipermalukan? Ingat, orang yang percaya kepadanya tidak akan dipermalukan (Roma 10:11)

Ingat janjiNya untuk masa perkuliahanku,
Yosua 1 : 1-9

Bagianku adalah menguatkan dan meneguhkan hati. Ia menjanjikan keberhasilan dan keberuntungan. Ia menyertai aku kemanapun aku pergi.

Allah itu setia. Dia akan penuhi janjiNya.

- Lihat nanti, aku pasti lulus-

Lalu sepertinya tidak perlu diceritakan bagaimana proses sidang filter itu. Kalau dipikir-pikir berjalan bersama Allah itu hasilnya jelas : VICTORY! Seperti yang aku tulis di diaryku ini:

Thanks God, aku lulus filter...
Persis seperti apa yang Tuhan janjikan.
Thanks Dad, semua hanya karena kasih karunia.
Semua yang Engkau janjikan tidak ada satupun yang tidak engkau genapi,
bahkan sampai nanti!
Tolong aku supaya aku tetap beriman
bahwa Allah pasti akan menyelesaikan apa yang sudah Ia mulai.

Hari itu tanggal 10 Agustus 2007, petualanganku dengan skripsi resmi dimulai. Lanjutannya besok ya,  soal proses pengerjaan sampai sidang skripsinya. Aku disidang sama Mr. Jack Sparrow, the coolest pirate ever, hahahaha. But I think it's late at night, and I think I just want to go to sleep, besok kondangan trus ke gereja juga. Saatnya recharge energi untuk esok hari... :)) Bye for now!!!


God bless,

8 comments:

Mega said...

*ngelirik Dhieta* Mr. Jack Sparrow? lebay ah dirimu. hahahahaha

Salut euy sama keidealisanmu Dit, aku ma kalo udah ngulang n dapat jelek lagi nilainya, yo wes lah....payah ya?? kurang semangat juang ni *sigh*

dhieta said...

Tapi kan kmu lulus 3,5 tahun, Meg :) dan kmu emang udah diharapkan lulus sama keluarga. Klo ak, ak kan ga gtu tlalu dituntut. Lagian wktu itu I was still to young for the job world hehehe... :p Tapi sebenernta faktor malas juga berpengaruh kok, makany lulusnya lama wkwkwk

desi_armitri said...

hiksss.... pas n mberkati bgt ni postingan k dhieta n tulisannya k mega yg diblognya jg dengan keberadaanku sbagai mahasiswa semester akhir yg dikejar skripsi.. huhuuhu
Thx 4 posting sisters.. cie jd the sister deh.. *apa sih desi??*

Nonik said...

aaaah aaah aaaaaaah ini tulisan gue banget deh haha.

Soale baruuu aja aku "lolos" dari masa2 super genting itu...T.T hiaaah rasanya spti baru kemarin!! Eh tapi emang baru kemarin dink ya? haha. kalo di t4ku, FILTER itu namanya seminar. Jadi seminar itu sama kerjain bab 1 doank dalam jangka waktu 1 semester, en disidang juga. tapi yang nyidang cuma 1 dosen en ga segalak di skripsi weheheh.

Mega said...

Dhieta: kita dikatain THE SISTER tuh sama Desi, berarti tinggal duet nyanyi n keluarin album aja kita nih, hohohohoho

Dhieta said...

@desi: jangan dikejar skripsi dooong, tapi mengejar skripsi wkwkwk... semangat des, you can do it! :D

@Nonik : waaah, klo ditempatku ya, filter itu kadang malah lebih gualak dan berbahaya dari sidang skripsi wkwkwk... cant wait to hear your update, nik, hehehe

@Mega: wakakaka, marilah kita penuh belas kasihan terhadap orang2 yang kalo denger suara kita bisa2 jadi sakit perut, hahaha...

cynthia ayuningtyas said...

jadi termotivasi pengen cepet lulus.. baca laine ahh :D

Dhieta said...

hehehe, semangat, cyn... pasti bisa! aku lupa kalo masih ada utang nyelesein cerita skripsi ini :D

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review