12/29/2011

Skripsiku: Menanti Pukul 3

Dibagikan oleh Dhieta at 11:08 pm
Post ini adalah sekuel dari post sebelumnya soal skripsi :) Jadi langsung lanjut aja lah ya, eh tapi yang belum baca bisa klik disini. Buat yang udah mari lah kita lanjut bersama-sama...

Setelah lolos ujian filter, mulailah perjuangan buat cari data. Karena metode yang aku pakai adalah deskriptif - kualitatif, aku harus bikin interview guide dan mulai cari informan dan. Interview guide sebenernya ngga susah-susah banget. Tapiiii, musuh terbesar mahasiswa yang lagi skripsi mulai menyerang. Nama musuh itu adalah MALAS! Habis lulus filter, aku bukannya cepet-cepet konsultasi dengan dosen, tapi malah bilang, "Bentar ah, istirahat dulu. Capek banget abis filter..." :p Aaaah, paraaah, paraaahhh...

Kemalasan memang jadi salah satu musuh terbesarku. Kemalasan ini yang akhirnya beranak pinak jadi kebiasaan suka menunda dan mengubahku jadi deadliners sejati. Hahaha, kalo belom deadline ya berarti masih saatnya ongkang-ongkang kaki menikmati hidup :p Kaya skripsi ini juga gitu, Padahal interview guide gitu doang loh, ga jadi-jadi bukan karena susah, tapi karena ga dikerjain. Ga tau tuh waktu itu ngapain kerjaku, kayanya sih sempat ke-distract juga dengan urusan cowok, hmmm...

Sampai akhirnya Tuhan harus tegur dulu, salah satunya lewat Amsal 18:9 "Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara si perusak." Waah, ga mau, ga rela, masa aku dibilang sodara si Iib jelek itu. Ih, ogah deh... Baiklah, aku akan fokus dan commit buat ngerjain skripsi ini. Tapi bayangin aja, lulus filter bulan Agustus, interview guide baru jadi bulan Februari tahun berikutnya. Tuh kan, lamanya parah!

Lalu ternyata susaaaaahhhh banget cari informannya. Informan yang aku cari adalah pasangan Chinese - Jawa, yang udah married, yang dulu sempat ngga disetujui orang tua. Aku pengen tahu bagaimana mereka menjelaskan ke orang tua pasangannya bahwa identitas personal mereka itu ngga kaya stereotype yang dilekatkan ke etnis mereka selama ini. Which means kalo mereka Chinese bukan berarti mereka pelit, atau kalo mereka Jawa bukan berarti mereka pemalas. Sounds easy lah ya kalo cuma gitu doang, di gerejanya temenku banyak tuh pasangan kaya gitu.

Nah, masalahnya adalah, karena aku neliti pola komunikasi orang tua dan pasangan, aku juga harus wawancara orang tuanya. Wajar sih, soalnya komunikasi itu kan melibatkan dua pihak: komunikan dan komunikator. Cuma jadi agak ribet soalnya yang aku bahas itu isu sensitif: soal hubungan anak - orang tua dan mertua - menantu gitu deh, hehe. Kita kan ngga tahu dulu separah apa soal perbedaan etnis ini jadi masalah dalam keluarga. Tapi yang pasti, yang namanya dulu orang tua pernah ngga setuju, trus akhirnya anaknya tetap nikah (bagaimanapun prosesnya), mungkin dulunya ada kekecewaan terhadap pernikahan itu. Naaahh, disaat mungkin mereka justru mau menutup dan melupakan masalah itu, aku malah mau ungkit-ungkit lagi, bahkan menggali dalam-dalam soal masalah itu... Wkwkwk,,, kacau lah diriku ini.

Sebenernya banyak pasangan Tionghoa - Jawa yang mau jadi informanku, masalahnya adalah kalau aku bilang aku juga perlu wawancara orang tua mereka, langsung deh mereka ngga mau. Ah, sedih bangetlah waktu itu. Aku pikir apa aku quit aja. Ganti judul lain. Tapi ngebayangin harus bikin proposal baru, trus sidang filter lagi, mana mungkin lah main nyerah gitu aja. Seminggu dua minggu, masih semangat. Waktu hitungan bulan, mulai deh, kekuatiran menyerang...

Tapi aku tetap ingat janji Tuhan di Yosua 1, setiap tanah yang kau injak dengan telapak kakimu, akan Kuberikan kepadamu. Jadi aku mau meyakini, kalau tema skripsi ini yang 'kuinjak' ya berarti tema inilah yang akan Tuhan berikan. Tapi toh aku merasa pertolonganNya tidak juga datang.

Bersyukur Tuhan banyak menguatkan lewat firmanNya di Mikha 7:7
Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu Tuhan dan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku.

Baiklah, aku akan menunggu-nunggu pertolongan Tuhan. Tuhan pasti sudah sediakan informan-informan itu. Aku tidak boleh kehilangan pengharapan, namun terus berharap, dan bertekun dalam doa, seperti salah satu doa Mikha, "Tuhan, seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban."

Aku juga diingatkan lewat nasihat sahabatku Ira soal murid-murid Kristus yang mengalami badai (Matius 14:22-33). Waktu itu murid-murid sangat ketakutan, padahal mereka baru saja melihat demostrasi kuasa Yesus lewat peristiwa lima roti dan dua ikan sejak tengah malam. Kita juga kadang seperti itu, kita sudah banyak melihat, mendengar, bahkan mengalami kuasa Tuhan dalam hidup kita, tapi apabila ada badai baru datang selalu saja ketakutan itu tetap menguasai.

Satu hal yang menarik, para murid mengalami badai sekitar tengah malam, namun Kristus baru datang pukul 3 pagi. Tentu saja Kristus bisa menolong mereka segera setelah badai itu datang, tapi kenyataannya Kristus menunggu hingga pukul 3 pagi. Mungkin terkesan lama, tapi toh pertolongannya tidak pernah terlambat datang. Kadang memang kita seperti ditekan hingga ke batas kekuatan kita, namun tekanan itu tidak dimaksudkan untuk menghancurkan kita, karena tekanan itu justru bertujuan untuk menggeser limit kita. Pada akhirnya limit kita telah diperluas, entah itu limit kesabaran, limit ketekunan, limit ketahanan dan banyak limit-limit yang lain. Iman para murid mungkin tadinya hanya sampai pada level Yesus sanggup menyediakan makanan, tapi tidak sanggup meredakan badai, kini telah naik level menjadi Yesus yang sanggup melipatgandakan makanan juga sanggup meredakan badai.Bahkan membuat mereka asanggup mengatakan, "Sungguh Engkau Anak Allah."

Allah tidak hanya tertarik untuk memberi kita jawaban doa, tapi juga membangun kehidupan kita, dalam banyak hal. Untuk itulah ia menunggu sampai pukul 3. Waktu itu Ira bilang, "Kalau informanmu itu belum ada, mungkin karena memang belum jam 3, tunggu saja sampai pertolongannya datang. Jangan pernah berhenti berharap, karena siapa tahu sekarang ini sudah pukul 3 kurang 1 menit. Sooner or later, pertolonganNya pasti akan datang!"

Jadi aku menunggu dan menunggu. Kalau ada yang bertanya sampai dimana skripsiku, aku akan jawab, "Sampai menanti pukul 3 :p" Tentu saja aku tetap mencari, tetap bertanya sana-sini, mencari informasi dari banyak orang, tapi sekarang aku tidak lagi tenggelam dalam keputusasaan, karena aku tahu pertolongan Tuhan pasti akan datang. Sampai di tahap ini, sikapku seperti salah satu kalimat yang aku tulis di diaryku tentang masalah ini: "Pokoknya, entah bagaimana caranya Allahku akan menyelamatkan aku!!!"

Lalu tentu saja Allahku benar menyelamatkan aku, hehehe. Sekitar bulan April, akhirnya aku dapat 3 kelompok informan, 3 pasangan suami istri Tionghoa - Jawa, beserta orang tuanya, baik orang tua dari pihak Tionghoa, maupun dari pihak Jawa. Informasi tentang informan itu kudapat dari mereka yang tidak kuperkirakan sebelumnya. Sungguh Tuhan berkuasa. Memang aku harus menunggu lebih dari dua bulan sampai akhirnya Tuhan memberi informan itu. Kalau aku pikir-pikir lagi sekarang, mungkin itu termasuk pendidikan awal Allah soal seni menantikan waktu Tuhan. Pendidikan yang bahkan masih berlangsung sampai sekarang, dengan level yang berbeda tentunya.

Pada akhirnya proses interview selesai juga, walaupun tidak tanpa perjuangan, karena kadang aku harus menyesuaikan diri dengan jadwal para informan itu. Janji yang kadang sudah dibuat, terpaksa dibatalkan karena kesibukan mereka. Ketakutan bahwa mereka akan menarik diri dan batal jadi informan juga ada, tapi sekali lagi, mengingat janji-janji Allah memberi ketenangan tersendiri. Toh kalau mereka memang batal, Allah pasti sanggup sediakan informan lain buat aku. Bukankah memiliki Allah seperti Allah kita seharusnya tidak memberi kita alasan untuk kuatir dan takut pada apapun?




God bless,

8 comments:

Mega said...

Bukankah memiliki Allah seperti Allah kita seharusnya tidak memberi kita alasan untuk kuatir dan takut pada apapun? <- d^^b

Aku suka juga kata-kata Ira, "Kalau informanmu itu belum ada, mungkin karena memang belum jam 3, tunggu saja sampai pertolongannya datang. Jangan pernah berhenti berharap, karena siapa tahu sekarang ini sudah pukul 3 kurang 1 menit. Sooner or later, pertolonganNya pasti akan datang!"

Ngerti Dit, susahnya cari informan untuk skripsi yang kualitatif. Sahabat dekatku-Fani, tesisnya juga kualitatif, pake wawancara juga. Aku hampir selalu nemanin dia tiap wawancar. Dia tesisnya juga komunikasi, dan ambil judul tentang budaya pernikahan Dayak. Asli baca postinganmu yang ini ingat dia. Yang dia wawancarain pasangan2 suami istri dan ortunya juga, hahahahaha.

Dhieta said...

Huehehehehe, ayo kesini, Meg, nanti ku kenalin sama Ira :p Waaaks, apa anak komunikasi itu marriage lover ya, sampe penelitianny soal nikahan semua, hahaha,,, Mungkin karena komunikasi dalam pernikahan itu emang ribet banget dan butuh perjuangan tersendiri ya :D

eh itu, kalimat pertama yang kamu quote sebenernya menampar diriku sendiri wkwkwkwk... Sindrom pulkam dan banyak menghadapi pertanyaan "kapan?" :p Aaaah, saya tidak kuatiiiiirrr, tunggu saja sampai jam 3, ya kan? ya kan?

Mega said...

mungkin anak komunikasi yang cewek Dit ^^V

Ya Dit! Ya Dit! Ya Dit.... Biase ja tuh, aku dulu kalo ditanya gitu juga jadi mikir macam2, tapi skarang dah gak segitunya mikirin, nyantai aja kalo ditanya gitu, tinggal bilang,"Iya Te...doakan ya, tente sih, ga doain aku, makanya belum" Huahahahaha, manis sekali bibirmu Meg....

BTW, kita membicarakan 'kapan' yang sama kan? Hehehehe

Dhieta said...

Wakakak, yo'i, Meg, 'kapan' yang itu tuh... :p

Mega said...

*mikir* *colek2 TUHAN* Kapan nih GOD?
Huahahahahahaha

Theresia Hutapea said...

woow lessonnya keren jam 3 ya?jam3? aha aha *ngangguk2
aku si wktu TA dlu diTAnya g ad mslah dan aku pas rajin bgt jg, msalah bnyak waktu itu dkeluarga malah hhe ;p

Dhieta said...

@Mega : jawab Tuhan, "Pukul 3, Meg... Sabar..." :p

@Echa : *ngangguk2 juga* tunggu aj chaaa... :D

Nonik said...

aku suka banget kalimatmu yg ini mbak:
"Kadang memang kita seperti ditekan hingga ke batas kekuatan kita, namun tekanan itu tidak dimaksudkan untuk menghancurkan kita, karena tekanan itu justru bertujuan untuk menggeser limit kita. Pada akhirnya limit kita telah diperluas...."

KEREN!!! aku ngerti banget susahnya cari bahan, apalagi informan ya hahaha. en sindrom kemalasan itu juga sangat100x kumengerti wakakak :p

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review