10/29/2011

Report of the Desert Class (Part 1)

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 12:13 pm
Kalau bisa memilih, aku tidak ingin masuk ke kelas Padang Gurun ini. Wew, untung waktu itu Tuhan ngga nawarin, tapi langsung dicemplungin. Hahaha, jadi aku ngga bisa milih kan? :p Mungkin begitu juga dengan bangsa Israel, kalau bisa memilih, mereka pasti akan memilih jalan pintas ke Kanaan dibanding berputar-putar di Padang Gurun. Tapi sekali lagi, ini bukan hanya soal mendapatkan Kanaan, kebun buah-buahan, atau apapun yang Ia janjikan, tapi soal mengenal Allah dan diproses serta dibentuk lebih serupa Kristus.

Bagaimana rasanya di kelas Padang Gurun? Seperti Firman Tuhan bilang, kita diproses seperti bejana dan Tuhan adalah penjunannya. Kan itu berarti kita jadi kaya tanah liat yang ditekan-tekan, dibolak-balik, dikikis-kikis, trus dibakar dalam api. Firman Tuhan juga bilang, kita dimurnikan seperti emas. Aku ngga terlalu tahu sih gimana proses pemurnian emas, tapi yang pasti itu juga melibatkan pembakaran di dalam api. Huaaa, tahu lah yaa, dibentuk itu sakiiiiittt, sakiiitt banget, hiks... 


Untukku pribadi, kelas Padang Gurun adalah kelas penantian. Saat semuanya begitu tidak pasti, saat semuanya membingungkan. Kita tidak tahu jalan mana yang harus kita tempuh. Melalui keadaan seperti itu, Tuhan 'membakar'ku dan mengajarkan 'seni menantikan Allah' serta memproses karakterku. Kalau soal menantikan Allah sepertinya sudah cukup sering kubahas, jadi mungkin saatnya cerita soal beberapa hal lain:
  • Ketaatan dan pengendalian diri
As I told you before, kelas ini diawali ketika aku tidak bisa taat: aku melanggar pagar-pagar yang Tuhan buat. Sebenarnya, perintahNya sederhana: do nothing, tidak melakukan apa-apa, hanya berada di dalam pagar. Itu saja. Memang aneh, kalau cuma di dalam pagar bagaimana aku bisa mendapat yang aku inginkan? Pattern dunia bilang, you have to try, jangan diem-diem aja. Akhirnya aku kompromi, aku sedikit berusaha. Tapi taat pada Allah itu berarti mematuhinya 100%, kalau tidak 100% ya bukan taat namanya

Ibaratnya begini,  kalau aku termasuk dalam bangsa Israel yang hanya disuruh mengitari tembok Yerikho dalam diam, mungkin aku akan memang mengitari tembok, tapi sambil teriak-teriak. Lalu waktu keadaan agak kacau karena teriakanku, aku bukannya bertobat, tapi justru mengasah senjata, lalu pergi menyerang tembok itu. Ketika tembok tidak juga runtuh, aku lebih berusaha lagi, mungkin menggali tanah, dengan harapan bisa bikin terowongan sampai dalam kota, atau apa kek yang lain. Pokoknya aku heboh, dari yang tadinya sedikit berusaha pada akhirnya aku justru mengandalkan kekuatan sendiri. Yang jelas keadaan makin kacau lagi.

Lalu terjadilah seperti yang dikatakan di Yeremia 17:5. Intinya, orang-orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh daripada Tuhan, ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik, ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asing yang tidak berpenduduk."

See, aku benar-benar tinggal di padang gurun, di negeri padang asing yang tidak berpenduduk. Memang setelah itu ada banyak penderitaan, tapi itu bukan hukuman tanpa tujuan. Hajaran Tuhan lewat penderitaan selalu adalah bentuk didikanNya kepada kita. Apa tujuannya? 


Hosea 2:14-15, 
"Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya. Aku akan memberikan kepadanya kebun anggurnya dari sana, dan membuat lembah Akhor menjadi pintu pengharapan. Maka dia akan merelakan diri di sana seperti pada masa mudanya, seperti pada waktu dia berangkat keluar dari tanah Mesir."

Ulangan 8:2-5

"Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. Maka, haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.

Melalui padang gurun, Allah ingin merendahkan hati kita, membuatnya menjadi hati yang rela untuk taat kepada Allah. Seperti di Yehezkiel 11:19, Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat. Itulah tujuan Tuhan. Kemarin waktu kami mengevaluasi kelas padang gurun dan aku membagikan soal ini, Ira bilang, orang mungkin berpikir bahwa mujizat paling luar biasa adalah saat ada orang lumpuh berjalan, atau orang buta melihat, atau orang tuli mendengar. But, no, sebenarnya mujizatNya yang paling luar biasa saat ada hati orang yang diubahkan, karena perubahan hati itu menghasilkan pertobatan. 

Lalu pelajaran lain yang kudapat adalah soal pengendalian diri. Aku susah banget buat taat, karena aku lemah dalam hal pengendalian diri. Tetap berada di dalam pagar, walaupun sebenarnya yang kuinginkan adalah keluar, butuh penguasaan diri. Di Amsal 25:18 dikatakan, orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Itu berarti dia kehilangan perlindungan, dia berada dalam posisi tidak aman, sewaktu-waktu musuh dapat menyerangnya

Ko Yossie pernah bilang, penguasaan diri memang disebut terakhir dalam daftar buah roh. Tapi penguasaan diri justru adalah pilar untuk kita bisa melakukan buah-buah roh yang lain. Penguasaan diri adalah apa yang kita perlukan untuk menundukkan keinginan daging dan hidup oleh Roh. Sayangnya, seperti yang tadi kubilang, penguasaan diri ini adalah buah roh yang paling tidak aku kuasai. Karakterku impulsif, sangat impulsif.  Aku lebih banyak dikendalikan oleh emosi. Buat aku, if I want to do it, I have to do it, now! If I want to get it, I have to get it, now! If I want to say it, I have to say it, now! Parah kan?

Di buku Gaya Hidup Yang Berbeda ( Thomas E. Trask) dikatakan bahwa untuk dapat lebih menguasai diri kita perlu mampu mengatur perasaan-perasaan kita. Dengan menaruhku di padang gurun, Tuhan mau membuat breakthrough pada kelemahanku yang ini: agar aku belajar untuk tidak emosional dan impulsif. Agar aku belajar berdiam dan menantikan Allah, bukannya terburu-buru mengikuti emosi dan keinginanku, melangkah dengan caraku sendiri.

Lalu saat kubilang kelas padang gurun sudah selesai, apakah itu berarti aku sudah punya hati yang taat dan pengendalian diri yang kuat? Hmm, kalau aku bilang iya, rasanya berlebihan, karena proses Tuhan terhadap hati kita adalah proses yang berlangsung selama kita hidup sampai nanti kita ketemu Tuhan Yesus di surga. Tapi begini, kalau di depan nanti aku dihadapkan pada perkara dengan konteks yang sama, aku tahu yang harus kulakukan adalah do nothing. Dan pasti aku akan lebih mudah untuk do nothing, tidak melakukan apa-apa dan hanya diam di dalam pagar-pagar. Kenapa lebih mudah? Karena hatiku sudah berbeda, sudah diubahkan.



To be continued...





God bless,

6 comments:

Theresia Hutapea said...

aku jugaa 2 mggu lalu dibabat habis ama deuteronomy 8, padang gurun..utk melihat apa yg ada didalm hatiku T_T nanti deh aku tulis jg, lgi gbs nulis yg seriuus ahahaha ;p smngat dhiet, harus dilalui, spya smpai ketanah perjanjian dgn hati yg teruji bhwa hanya emang Dia yg ada didlm hatimu ayeeey :D

Dhieta said...

@Echa: Wkwkwk, ak jg abis lulus padang gurun, mo libur nulis serius dulu ah, mo nulis yg ga serius aja :D thanks cha, iya, harus dimurnikan dulu akunya, biar siap masuk ke tanah perjanjian. Eh, kau diapain tuh, kok sampe dibabat abis, nah lhoooo... Ayo ditulis, biar kita bisa bikin the desert club hahaha

Nonik said...

Dhieta Dhieta Dhietaaaaaaaaaa T____________T aku seneng buanget deh baca tulisanmu.... aku tuh ya ngrasa sama plek kaya kamu loh.
1. aku orange juga impulsif, en GA SABARAN BANGET >.< paling ga bisa kalo naik angkot kemana-mana apalagi kalo mo ke gereja coz sukacitaku bisa ilang hahaha. knp?? ga suka ngetemnya itu loh. Waduuh di angkot aku sudah ngedumel gak karuan.

2. Selalu teriak2 "kapaaaan Tuhan kapaaaaaan?!?!"

3. lagi ngalamin yg namanya di padang gurun juga, apalagi bergumul kagak taoooo mo kemana abis lulus ahahahaha.

4. en lagi2 ngalamin juga yg namanya semua impianku, jalan2ku, rencana & rancanganku, semuanya diambil Tuhan T____T semua jalan ditutup huaaa hahahahaaha.

Ikut Tuhan Yesus? Rasanya nano-nano banget deh... Sesuatu banget ya ;D

Dhieta said...

Hahahahaha, pasti Nonik sanguin deh... hayooo, mari kita latihan sabar. Itu baru di Bandung udah seteres gtu sama angkot yak, apalagi klo di Jakarta hehehe... ayo coba tantang diri sendiri buat naek angkot tiap hari, itung2 belajar sabar :D

Eh daripada kita teriak, kapaaaannn? kan mending nyanyi, cuando? cuando? cuando? Hahahha, sama aja artinya :p

Iya, Puji Tuhan yah, sesuatu banget, hahahaha...

Lia said...

dhieta, aku juga seriiiiing bgt ngalamin masa padang gurun. masa2 dimana ngalamin'kesakitan2' ktika ditempa Tuhan. be grateful for that girl. The Lord bakal make something beautiful in you... proses yang special, hasilnya juga special. jangan lari dan teruslah berkata, " Tuhan, lakukan smuanya, sampai SELESAI, aku rela dan mau dibentuk olehMU " Hugs..hugs...

Dhieta said...

@Ci Lia: T.T (Hugs baaacckk...) Makasih ciciiii, sampe sekarang di depan ini masih gelaaaappp. Tuhan cuma kasi arahan buat nunggu tabutNya bergerak, and I just follow it. Masih harus nunggu lagiiii... :D Tapi aku emng brdoa, "Tuhan, kalau tujuanMu atasku belum tercapai, jangan angkat tanganMu yang sedang menekanku" #ngomongnya sambil berlinang air mata, haha# Amen, He will make something super beautiful, makany Dia kasi padang gurung se'seram' ini kan ya, hehehe...

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review