10/08/2011

Aman, Nyaman, Tanpa Pertanyaan

Dibagikan oleh Mekar A. Pradipta at 6:35 am
Hari-hari ini aku mendapati betapa nyamannya menjadi wanita yang penuh rasa aman. 

Pertama kali membaca konsep ini di buku Lady in Waiting. Welly pernah bikin sinopsisnya disini, jadi kalau mau baca, it's just a click away (Thanks ya, Wel^^) Memang konteks buku itu adalah soal pasangan hidup. Tapi of course konsep itu juga berlaku general. Dalam segala perkara, seharusnya kita punya rasa aman dalam Tuhan. Kurang lebih begini, ketika kita tidak punya rasa aman itu berarti hidup penuh dengan frustasi dan kekuatiran, akhirnya itu mendorong kita untuk mengendalikan hidup kita sendiri dan pada akhirnya, alih-alih menunggu dan membiarkan Allah bekerja sesuai caraNya dan pada waktuNya, kita justru membuat tindakan-tindakan untuk menolong diri kita sendiri.


Aku diproses bertahun-tahun dalam hal ini. Sampai akhirnya nyampe di turning pointnya tuh waktu dapet rhema "It's Not My Business, It's Lord's" yang sempat aku bagikan kemarin. Sejak itu kalo segala pertanyaan dan kekuatiran menyerang, aku cuma perkatakan, "Itu urusan Tuhan. Udah diurus Tuhan. Dia bisa dipercaya. Dia layak dipercaya. Dia setia. Dia bertanggung-jawab." Udah. Setelah itu aku ngga mau urus lagi. Bagianku cuma membawanya kedalam doa. Dan ini membuatku merasa jauh lebih baik.

Dan ternyata di sinopsis Welly juga ditulis, "Serahkanlah segala urusan kepada Allah." Ternyata memiliki rasa aman erat hubungannya dengan memiliki penyerahan diri. Penyerahan diri itulah yang akan menyediakan ruang kepada Allah untuk bekerja, karena kita tak lagi menggangguNya dengan usaha-usaha kita yang tidak perlu.

Lalu belakangan diingatkan lagi soal iman yang ngga banyak tanya. Frustasi dan kekuatiran timbul karena kadang dalam masa penantian itu kita terlalu banyak bertanya. Masalahnya, iman dan penantian memang erat kaitannya dengan pergumulan tentang kemustahilan, akibatnya pertanyaan yang sering kita ajukan biasanya memang tidak terjawab. Seperti perkataan Elizabeth Elliot, "Menanti itu menuntut kesediaan untuk menanggung ketidakpastian, membawa pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, mengangkat hati kepada Allah saat pertanyaan itu muncul dalam pikiran kita" (Welly juga pernah nulis ini di status facebooknya, hehe)

Dan ternyata Abraham, Bapa orang beriman itu juga ngga banyak tanya dalam pergumulannya menanti anak yang dijanjikan Tuhan. Aku melihat sisi Abraham yang itu di Roma 4:18 versi The Message:

When everything was hopeless, Abraham believed anyway, deciding to live not on the basis of what he saw he couldn’t do but on what God said he would do. And so he was made father of a multitude of peoples. God himself said to him, "You’re going to have a big family, Abraham!" Abraham didn’t focus on his own impotence and say, "It’s hopeless. This hundred-year-old body could never father a child." Nor did he survey Sarah’s decades of infertility and give up. He didn’t tiptoe around God’s promise asking cautiously skeptical questions. He plunged into the promise and came up strong, ready for God, sure that God would make good on what he had said. That’s why it is said, "Abraham was declared fit before God by trusting God to set him right."

Di ayat ini disebutkan, Abraham didn’t tiptoe around God’s promise asking cautiously skeptical questions. Kalo diterjemahin sih kira-kira berarti Abraham tidak berjingkat-jingkat di sekitar janji Allah dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan skeptis dengan sikap hati-hati. Kehati-hatian itu muncul karena beriman itu memang seakan tidak aman. Why? Karena biasanya itu berhubungan dengan mengambil resiko untuk tetap percaya sebuah hal yang mustahil. Padahal sebenarnya beriman adalah cara yang paling aman, karena di dalamnya kita mendapati kepastian. Seperti pernah aku sebutkan di postku sebelumnya, di dalam Yesus yang kita dapati bukan kemungkinan tetapi kepastian.


Seperti lagu hymne ini, "Karena ku tahu yang kupercaya, dan aku yakin kan kuasanya, dia menjaga yang kutaruhkan, hingga harinya kelak." Pastor Billy juga pernah bilang, beriman itu seperti gambling, ada kemungkinan apa yang kita imani tidak terjadi, tapi sebenarnya beriman selalu jadi pilihan terbaik bagi kita.


Kadang kita mengajukan pertanyaan karena sebenarnya kita sedang merasa ketakutan. Lalu ketika kita tidak mendapatkan jawaban, ketakutan kita semakin bertambah. Tapi berurusan dengan Allah memang berarti berurusan dengan banyak pertanyaan tak terjawab, atau tak segera terjawab. Ketika pertanyaan itu muncul, Aku belajar untuk membawanya ke dalam doa, lalu sudah, setelah itu belajar tidak membiakkannya di pikiran agar tidak ada kekhawatiran-kekhawatiran baru yang lahir.

But there’s one other thing I remember, and remembering, I keep a grip on hope: GOD’s loyal love couldn’t have run out, his merciful love couldn’t have dried up. They’re created new every morning. How great your faithfulness! I’m sticking with GOD (I say it over and over). He’s all I’ve got left. GOD proves to be good to the man who passionately waits, to the woman who diligently seeksIt’s a good thing to quietly hope, quietly hope for help from GOD. It’s a good thing when you’re young to stick it out through the hard times. When life is heavy and hard to take, go off by yourself. Enter the silence. Bow in prayer. Don’t ask questions: Wait for hope to appear. Don’t run from trouble. Take it full-face. The "worst" is never the worst. Why? Because the Master won’t ever walk out and fail to return.
(Ratapan 3:21-31)

Ayat ini mengatakan lebih jelas lagi: Don't ask questions. Alih-alih bertanya. kita diperintahkan untuk menunggu munculnya harapan. Mungkin ilustrasinya seperti seorang penjaga yang menanti datangnya fajar pagi. Daripada mengajukan pertanyaan, aku belajar untuk say it over and over tentang janji Allah dan kesanggupanNya untuk menggenapinya.

Mungkin tembok di hadapanku memang belum runtuh, tapi aku mau percaya kalau di alam roh tembok itu sudah runtuh. Tinggal menunggu realisasinya di alam jasmani. Aku mau terus menunggu dengan rasa aman. Seperti kalimat yang dulu pernah kubaca: "Anda akan merasakan bahwa duduk diam menyaksikan Allah bekerja jauh lebih menyenangkan dan jauh lebih membangun iman anda, daripada melompat-lompat mendahuluinya dan berusaha melakukannya sendiri."



God bless,

11 comments:

Mega said...

Waaaa.....LIke this sangat Dit \(",)/ Lama gak nge-blog tau-tau dapat bacaan segerrrrr gini. MANTAP d^^b

Allah kita emang bener kayak yang kamu bilang, DIA layak dipercaya Dit. Jadi, apapun yang sedang kamu nantikan sekarang, percayalah kamu telah menerima yang terbaik dari-Nya. Amin

Dhieta said...

Makasih, Meg. Segernya kaya es cendol ato es krim duren? Wkwkw, lagi ngidam nih. Wwkwkwk.

Huaaa,Megaaaa, I miss you, ayo nulis lagi, jangan GKM mulu diurusin :p

Amin, Amin, aku percaya aku telah menerima yang terbaik dariNya. Makasih ya, Mega.

^^

KeZia Margaret said...

huaaaaaaaaaaaaaa terharuuu bangeeed bacaa posting inii.. terutama yang :
"Itu urusan Tuhan. Udah diurus Tuhan. Dia bisa dipercaya. Dia layak dipercaya. Dia setia. Dia bertanggung-jawab."

Dia memang layak bangeed dipercayaa.. serahkanlah hidup semuaa samaa Tuhan :D :)

Mekar A. Pradipta said...

@kezia : iya, kezzzz, ak skarang kaya lagi terbaaanng, masalah emg blm slesai, tapi kaya beban berat udah diangkat. Sampe jadi terheran-heran sndiri. Huhuhu, Tuhan Yesus baiiiiiiikkkk.... Jadi pengen nangis, hiks, hiks, tapi sambil ketawa, wakakakakak...

Aku masih terus belajar kezz, belajar lebih dan terus berserah.

:D

Welly Lokollo said...

Dhiet, asli keren banged..Loe ngingetin banyak hal dalam hidup gw..Tulisan loe memberkati banged..

Dia Allah yang layak dipercayai :)

Dhieta said...

@Welly: you're welcome, wel. Hanya tulisan tentang apa yg kurasakan, itu saja. Mungkin ini salah satu alasan kenapa Tuhan 'lempar' ak k Padang Gurun, supaya bisa menuliskannya, hehe.

Iya, Dia sungguh sangat bisa dipercaya. Can't wait to see what He got in store for us!

:D

Nonik said...

Dhietaaaa :D hahaha. paling ngena yg ini deh: IMAN ITOE GAK BANYAK NANYA. gak banyak cingcong. wuehehehe.

ayo kita2 sama belajar diproses dalam penantian :) yaa kondisiku serba tidak pasti seh. Gak tahu setelah lulus gimana. Gak tahu kerjanya apa en dimana. Bahkan soal PH masih sering bertanya :p tapi itulah yg namanya iman. iman itu selalu bekerja untuk hal2 yg LUARRRR BIASA.

Kalo mikirin Abraham, bener juga ya dia tu udah bener2 gak punya dasar buat berharap. Udah 100 taon en udah impoten, en pas Tuhan bilang "Loe akan jadi bapa banyak bangsa" rasanya tuh kayak, "Aduh Tuhan, Engkau bercanda ya??" hahaha. But God is true & faithful indeed. Janji2Nya pasti ditepati.

Dhieta said...

@Nonik : Sebenerny rhema soal iman tanpa pertanyaan itu aku dapet almost 2 tahun lalu, pas baru dicemplungin ke padang gurun, hehe, dan bahkan sampe skarang ak masih belajar, dan mungkin seumur hidup akan tetap belajar, waaaahhh =,=

dan soal PH ituuu, klo Nonik aj bertanya2.. apalagi aku (dan Mega :p) yang udah 'cukup umur' dan mulai dapet banyak undangan pernikahan dr temen2 hahahaha... Doakanlah ya buat yg satu ini :D

Abraham itu, iyaa, luar biasa, hatinya itu loh... jadi ayat yang Roma itu kan aku liat dalam berbagai versi terjemahan, addduuuhh, semakin dapet referensi beragam soal Abraham, keren deh!!! Kalo aku suka banget sama yg bagian, Abraham ngga fokus paa apa yg ga bisa dia kerjakan, tapi pada apa yang Tuhan katakan Dia akan lakukan. Kaya lagunya Sari Simorangkir tuh, "Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu"

Right, janjiNya ya! dan amin!
:D

Nonik said...

hahahaha lucu lah komen Mbak Dhieta soal Mbak & Mbak Mega yg sudah cukup umur. Aduh, aku ngerti banget deh soal itu --.-- Don't worry, keep believing!! Keep in faith!! Kita ini cewek2 berharga kok. Pasti ada alasan kenapa kita disuruh nunggu the right man haha ^o^ mungkin si kesatria itu yg lagi diperlengkapi & dibentuk Tuhan ya Mbak Dhieta :)

Anonymous said...

bagus bgt!!!

berarti didikanku padamu berhasil wkwkwkwkwkkwkwk

peace dita...

dhieta said...

@anonim yg aku tau adl ira :p : nah, akhirny dbaca juga hehe... Iya,ra, didikanmu brhasil. Mulai skarang km ak pnggil suhu hahaha. Klo dulu,biar ak diem ak harus diiket d kursi, skrg dg rela udah diem sndiri haha. Ajaib deh klo ngeliat proses pendidikanNya^^ anyway,I can't make it without you,thank you :D

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review