10/09/2011

Flying Without Wings

Dibagikan oleh Dhieta at 8:35 am
I feel like I'm flying without wings

Hehe, bukan karena efek kemaren pengen nonton konsernya Westlife tapi ngga kesampean trus ngigau :p Tapi seperti yang aku bagiin kemarin, menjadi aman di dalam Tuhan itu rasanya nyamaaaaannnn banget, kaya terbaaaannngg^^ Seperti sebuah beban berat yang selama ini menghimpit, terangkat begitu saja. Rasanya udah ga ada kekuatiran, ketakutan, ketergesaan. Yang ada cuma rasa syukur dan perasaan terjamin karena Tuhan pasti akan menyediakan dan memberikan yang terbaik pada waktu yang tepat.



Terus pas buka-buka buku jaman dulu (Bagaimana Membiarkan Tuhan Menyelesaikan Masalah - Masalah Anda oleh Charles F Stanley, recommended one), nemu kalimat ini, "Rasa damai sejahtera yang sempurna adalah bukti bahwa anda berada di tengah-tengah kehendak Tuhan atau bahwa anda telah membuat penyesuaian yang diperlukan untuk sampai ke titik itu. Damai sejahtera Allah datang sebagai hasil dari memiliki fokus yang benar. Peneguhan akhir bahwa anda memiliki damai sejahtera Allah adalah suatu perasaan tenang di dalam hidup anda."


Langsung deh bilang, "Ooooh, jadi karena itu, aku ngerasa kaya flying without wings..." Senangnyaaaaa, now I know, I'm on the right track: His track. Sepertinya aku sudah melewati apa yang memang harus kulewati. 


Then deep inside my heart, aku menemukan aku sudah menjadi pribadi yang, sedikit banyak, berbeda. Ternyata kelas padang gurun ini memang berpengaruh besar. Allah membentuk karakterku lebih dan lebih lagi. Mengikis ketergesaan, menghancurkan keegoisan, menekan kedagingan, menambahkan kasih, memperkuat iman, memperbesar kesabaran, membentuk ketekunan, meningkatkan daya tahan, dan masih banyaaaaaakkkk lagi yang lainnya 

Ternyata penderitaan di padang gurun selama ini memang sesuatu yang kuperlukan.

Jadi ingat dulu pernah baca (buku apa yaa?), "Dalam pergumulan, berdoalah demikian: Tuhan, kalau tujuan-tujuanMu belum dipenuhi atasku, jangan angkat tanganMu yang sedang menekanku." Waaah, sungguh itu doa yang berani, tapi juga menunjukkan ketaatan dan rendah hati, sebuah kesediaan untuk diproses dibawah tangan kuat kuasa Allah.

Dan sejujurnya, aku puas. Aku merasa aku sudah naik level. Aku merasa menjadi pribadi yang lebih lagi dibentuk. Ira dulu pernah bilang, "Pergumulan itu bukan tentang mendapatkan apa yang kau doakan, tapi tentang mengalami dan mengenal Allah, serta dibentuk lebih serupa dengan Dia." Sepertinya tujuan Allah dengan penderitaan ini sudah terpenuhi. Entah sudah seratus persen terpenuhi atau belum, tapi pada akhirnya, saat ini aku sedikit tidak peduli apakah aku akan mendapatkan apa yang aku doakan itu atau tidak. Aku lebih peduli dengan 'the new me', bejana yang baru saja dipermak di tempat pembakaran.

Dan tentu saja aku lebih peduli dengan Dia, it's like loving Him more with a brand new heart. Thank you Jesus, I love you more and more and more.

<3



God bless,





P.S. : Sedang membayangkan, kalau aku memang sudah lulus dari Kelas Padang Gurun, mungkin saat ini Tuhan sedang menyiapkan upacara wisuda buat aku.... Kaya gimana ya? Hehehehehe...

5 comments:

Mega said...

Saudara Dita,dari Jurusan Padang Gurun dan sekuitarnya dengan IPK ..... (isi sendiri Dit :p)

Dhieta said...

Aku mau Cum Lauuuudddeeee.... ^^ Wkwkwk, ada2 aj kau, Meg...

Mega said...

Makanya belajaarrrrr......:p

Welly Lokollo said...

Betuuuul banged dhiet..saat kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan menjadi tidak terburu2, ada damai yang disediakan bagi kita..
Dan tujuan semua proses yang kita jalani adalah kita semakin mengenal DIA dan menjadi serupa denganNya

Tengkyuuuu bu

Dhieta said...

Iya, wel... Sekarang rasanya aneh sendiri, soalnya kmrn itu bener2 in a rush :p Tapi sekarang, ya ampuuuunn, itu kaya laut abis badai kali ya :) Padahal belum ada perkembangan apa2 soal tembok itu, hehe. Ah, ternyata bener, God is all our sufficiency. He is more than enough :)

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review