8/29/2011

Mas Ijul OB Super

Dibagikan oleh Dhieta at 8:32 am
Saya suka Ramadhan. Malah kalau bisa, saya berharap sepanjang tahun bulan Ramadhan saja terus :p Alasannya simple sih, saya cuma merasa hidup saya jadi agak lebih ringan. Pertama, saya punya alasan untuk makan siang di luar kantor. Biasanya kami akan memesan makanan lewat OB dan makan di ruangan karena kami harus selalu standby untuk pekerjaan (Fiuuuh...) Kedua, tentu saja jam kerja yang lebih singkat dari biasanya :D Oh, betapa saya sangat menikmati pulang sebelum matahari tenggelam, yang hampir tidak pernah saya dapat di luar bulan Ramadhan, hiks... Ketiga, tentu saja libur panjang di ujung bulan Ramadhan. Libur seminggu terasa seperti a big release for my tired body :) 

Liburan ini memang saya tidak bisa mudik ke Magelang, dengan alasan 'harus stand by' seperti biasa. Tapi di hari libur, saya tidak harus bangun pagi dan tidur cepat, saya bisa baca tumpukan novel yang selama ini tidak sempat saya baca, saya bisa berlama-lama hunting buku di Gramedia, saya bisa menyelesaikan beberapa draft tulisan dan tentu saja saya bisa seharian ngobrol dengan Tuhan, baca Alkitab dan cekakak cekikik di  diary saya. 

Dan ketika saya mulai menulis ini, saya baru saja selesai ibadah, lalu mampir ke Pancious dan menikmati sepiring pancake lezat dengan salami dan sosis berlapis keju tebal. Gelas teh saya baru saja diisi lagi oleh waitress, batere laptop saya penuh, modem sudah diisi pulsa, lalu kira-kira sejam lagi seorang teman lama akan datang, what a perfect day :)

Kalau saya suka liburan, bukan berarti saya tidak suka bekerja. Bukankah wanita Allah harus suka bekerja? Lihat saja wanita Allah di Amsal 31, salah satu sifanya adalah dia suka bekerja dengan tangannya. Kalau di terjemahan lain dipakai kata sibuk, senang hati dan rajin. Saya membayangkan dia akan bekerja dengan langkah ringan, muka cerah dan mulut penuh nyanyian. Apakah itu memasak, menenun, menjahit, mencuci piring, mengerjakan ladang, semua dia kerjakan dengan sukacita. Dia tidak bekerja sambil mengeluhkan ini itu. Saya rasa wanita Allah ini menyadari bahwa apapun yang dia kerjakan, dia mengerjakannya untuk Allah dengan segenap hati.

Baiklah, jujur saja, I'm not that good. Saya suka pekerjaan saya, saya menikmati menjadi sibuk. Tapi kadang saya merasa saya dipaksa memberi lebih dari yang harus saya beri. Kadang saya ingin bisa seperti teman-teman pns lain yang pulang pukul lima. Selama ini saya hanya bisa memandang senja dari balik jendela. Lalu sekarang, saya juga iri dengan mereka yang bisa pulang kampung tanpa harus stand by. Hmmph, bahkan dalam kasus saya, bekerja melebihi jam kerja pada akhirnya tidak dihitung lembur, karena dilakukan tiap hari akhirnya jadi sesuatu yang taking for granted, something we suppose to do...


Ok, saya suka bekerja. Tapi kalau seperti ini, saya capek. Masihkah saya diharuskan melakukan yang terbaik, bahkan ketika saya sudah memberi lebih?


Pada akhirnya, saya dapat jawabannya. Tapi bukan dari Direktur, bukan dari Kasubdit, bukan dari Kasie, bahkan bukan dari rekan sesama staf. Saya dapat jawabannya dari seorang Office Boy (OB) bernama Julkipli. Kami biasa memanggilnya Mas Ijul

Mas Ijul tidak lebih ganteng dari Tukul. Badannya kerempeng dan giginya seperti Ronaldinho :p Sebagai OB, mas Ijul harus datang paling pagi dan pulang paling malam untuk membuka dan mengunci pintu. Setiap pagi, dia akan mulai membagikan segelas air putih untuk kami para staf direktorat. Dia juga harus menjerang air untuk membuat teh manis kesukaan Pak Direktur. Menjelang makan siang, mas Ijul harus berkeliling mencatat menu makan siang pesanan kami, lalu membeli dan membagikannya. Setelah kami selesai makan, mas Ijul harus membereskan sisa makan kami, mencuci semua piring dan mangkok yang kami pakai lalu mengembalikannya di lemari penyimpanan. Tidak hanya itu, mas Ijul harus standby kalau kami butuh orang untuk fotokopi dokumen, atau mengambil dan mengantar file ke unit lain dari lantai 1-12, atau memberi nomor pada surat-surat yang harus segera dikirim, atau mengangkat telepon kalau para staf sedang terlalu sibuk, atau memasukkan agenda surat masuk dan disposisinya, atau memperbaiki kabel yang putus digigit tikus, atau mengganti galon air yang habis, atau memesan konsumsi rapat, atau menyiapkan ruang rapat, atau menagih laporan rapat untuk bukti pengeluaran keuangan, atau memeriksa daftar absen untuk persyaratan uang makan, atau menagih tanda-tangan absen kalau sewaktu-waktu kami lupa absen...


Singkat kata, Mas ijul mengerjakan tugas OB, arsiparis, dan tata usaha sekaligus! Mas Ijul benar-benar OB super! Sebagai OB sebenarnya mas Ijul tidak perlu mengurus agenda surat-surat, dia juga tidak perlu mengurus administrasi uang makan, tapi Mas Ijul mengerjakannya. Kenapa? Karena orang-orang yang bertanggung jawab tidak memberikan yang seharusnya. Mereka datang siang dan pulang cepat. Entah berapa banyak file surat yang hilang. Entah berapa sering mereka kabur entah kemana, tidak ada saat dibutuhkan.  


And you know what? Mas Ijul setia dalam perkara kecil, sehingga kami memberikannya tanggung jawab dalam perkara besar. Dan dia mengerjakannya lebih baik dari bagian arsiparis dan tata usaha yang sebenarnya. Mas Ijul tidak pernah lupa mengcopy surat keluar agar kami selalu punya file surat keluar. Mas Ijul juga selalu meletakkan surat-surat di folder yang benar. Bahkan mas Ijul akan mengantar surat ke bagian pengiriman tanpa menunda. Pada akhirnya, Mas ijul lebih pintar dari mereka. Sebagai OB, mas Ijul tidak hanya berkutat dengan piring kotor dan sabun, tapi dia tahu bagaimana mengetik di excel, dia tahu bagaimana memakai mesin tik elektrik. Yang terakhir ini, bahkan saya pernah mencoba tapi tidak pernah bisa terbiasa :p


Somehow, mungkin justru Mas Ijul-lah orang yang paling sibuk di unit kami, tapi tak pernah sekalipun aku dengar dia mengeluh. Entah itu mengeluh badannya capek, entah itu mengeluh soal gaji, entah itu mengeluh soal pekerjaannya yang melebihi job desk. bahkan mas Ijul bekerja dengan penuh canda. Kadang kalau berpapasan di pintu, dia sedang ribet dengan tumpukan map berisi surat yang harus diantar. Kalau kami bertanya, mau kemana mas Ijul, sambil nyengir sok penting dia akan menjawab, "Rapat sama pak Menteri!" Gubraaakk, kami yang staf saja belum tentu bisa rapat dengan Pak Menteri. Ini mas Ijul malah sok2an :D


Setiap kali saya lihat mas Ijul, saya berpikir mungkin dialah orang yang dipaksa berjalan sejauh satu mil, tapi dia memilih untuk berjalan sejauh dua mil (bd. Mat 5:41). Kadang aku melihat dia menyimpan box KFC sisa rapat. Kalau kutanya, kenapa tidak dimakan, dia bilang disimpan untuk anak-anaknya. Anaknya dua orang, laki-laki semua. Si bungsu masih SD dan yang sulung di SMP. Aku membayangkan, berapa gaji seorang OB sehingga bisa membuatnya bekerja tanpa mengeluh, bahkan tetap memberikan yang terbaik? 


Mas Ijul tidak pernah bisa ke luar negeri, seperti kami para diplomat. Kantor tidak pernah memperlakukan dia dengan istimewa. Justru aku yang diperlakukan istimewa. I could see France, Holland, Belgium, Spain, Italy,  and soon, another countries. Kami juga selalu terbang dengan penerbangan terbaik, baik nasional maupun internasional. Betapa luar biasanya privilege yang aku dapat. Berapa mimpi yang sudah terwujud karena pekerjaan ini? Pantaskah aku mengeluh kalau aku dituntut berjalan dua mil padahal job desk ku cuma satu mil?


Logikanya, bahkan kalau mereka tidak menuntutku berjalan dua mil, memang sudah sepantasnya aku berjalan dua mil. Why? Because the words of God said so! And I know why, itu supaya terang ku bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan ku yang baik dan memuliakan Bapa ku yang di surga (bd. Mat 5:16). And yes, that's the answer, kenapa kita harus melakukan yang terbaik saat bekerja? Karena itu memuliakan Bapa. Kenapa kita  harus bekerja dengan sukacita? Karena itu memuliakan Bapa. Bukankah memang sudah seharusnya, bahwa apapun yang kita kerjakan, kita kerjakan seakan untuk Tuhan dan bukan untuk manusia? That's what we call worship. Our life is a worship, including our job.


Wow, betapa besarnya efek seorang Ijul untuk saya... See, mas Ijul tidak hanya OB biasa, dia bahkan bisa memotivasi saya, tidak kalah dengan Mario Teguh dan salam supernya. Kalau Mario teguh berbicara berbusa-busa, Mas Ijul bahkan memotivasi tanpa kata-kata. Bagi saya dia lebih super dari Mario Teguh. Hidup Mas Ijul, Hidup OB super!!!






God bless,

4 comments:

marthavina said...

Hi..Ditha, seneng baca sharingnya, seneng liat kamu yang bisa menghargai seorang OB dengan luar biasa,terkadang kita lupa, sama yang "dibawah" , tapi kamu lain ya...mau mencontoh OB, saya juga dulu berkawan sama Ob, tanpa mereka pekerjaan saya yang dulu bakal gak pernah beres. Dan sekarang...saya berhari hari gak bisa ngeblog, coz si bibi lagi mudik..untungnya saya gak pake stress. Jadi nikmatin Ditha...masa masa lajang, ada waktunya nanti, Ditha hampir gak bisa buat selonjorin kaki, ha...ha...

dhieta said...

hehe, iya kak vin, mari kita menikmati setiap musim dalam hidup kita... pasti smua ada seru n nikmat ny sendiri2 :) jujur aj, udah pengen juga sih ngerasain 'nikmat'ny ga bisa nyelonjorin kaki gara2 udah ga lajang lagi hahaha... tapi mungkin Tuhan mikirny, "ini anak masih hobi bangun siang kok minta pensiun dini dari masa lajang..." wkwkwk, thanks for the encouragement ya kak vina :) In my singleness, I'll be as happy as can be :D

welly said...

hahahahaha, aku suka libur dan aku juga suka bekerja..huhuhuhuhu, ditegur lagi nih.."berikan bahkan bukan hanya 2 mil tapi seberapapun mil yang mampu dilalui"

Tengkyuuuu yah

dhieta said...

iyaa, aku juga ditegur tuh... Yuk, sama2 berjuang^^ thanks for reading yaahh... :)

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review