8/15/2011

Cerita Alkitabku: Si Buluk Biru

Dibagikan oleh Dhieta at 12:28 am
Gara-gara baca postnya Mega Rambang yang judulnya My Bible As a Gift, jadi kepengen nulis soal Alkitab juga nih...

Alkitabku namanya si Buluk Biru, hehe... *kidding* Tapi, bener juga sih, warnanya biru dan dia memang buluk. Sampul si Buluk Biru sudah 'prithil2' ga jelas (prithil:  a javanese languange :p I can't find the synonim) dan mau lepas. Halamannya kekuningan (kalo ngga mau dibilang cokelat ;p), dan sering terlipat jadi keriting2. Kalau sudah parah, keriting - keriting itu harus dilurusin satu-satu. Kalau tidak, tiba-tiba, Buluk Biru jadi sangat tidak rapi dan 'keriting2' baru semakin banyak saja...

Si Buluk Biru kutemukan di rak buku keluarga kami. Waktu itu aku baru lahir baru dan kerinduan membaca Firman sungguh menggebu (oh, how I really miss that moment :D) Selama ini aku tidak pernah benar-benar punya sebuah Alkitab pribadi. Setiap orang di keluarga kami tidak pernah punya Alkitab pribadi. Tapi kami punya banyak Alkitab, tersusun rapi di rak buku keluarga. Mmm, jujur saja, waktu itu Alkitab-Alkitab itu lebih sebagai hiasan :'(


Bisa dibilang si Buluk Biru sebenarnya adalah warisan karena ia tadinya milik kakakku. Atau anggap saja begitu, dulu ada nama kakakku tertulis di sampul depan. Tapi sepertinya dia bahkan tidak ingat pernah menuliskan namanya di Alkitab itu. Bagaimanapun, karena ukurannya kecil, Si Buluk Biru kupilih di antara Alkitab-Alkitab yang lain di rak buku keluarga. Lalu setelah sepuluh tahun aku ikut Kristus, Buluk Biru telah menjadi teman setia. 

Melihat keadaan si Buluk Biru, kadang ada juga sih yang menyarankan aku ganti Alkitab saja. But, it's a big big big no no! Si Buluk Biru bukan Alkitab biasa. Buluk Biru itu istimewa, bukan cuma karena isinya Firman Tuhan, tapi karena di dalamnya juga ada potongan-potongan cerita hidup kekristenanku. Si Buluk Biru adalah memoar...

Aku lupa dimana, tapi aku pernah baca, ketika kita baca sebuah buku, berusahalah untuk 'berinteraksi' dengan buku itu. Maksudnya, coret-coretlah buku itu, beri garis bawah, beri mark dengan stabilo, atau beri gambar pada bagian2 yang berkesan. Singkat kata, just make it personal and some parts would be so stick to you...

And that's what I exactly do with my Bible, I'll show you some parts of it...

Begitu kamu buka Alkitabku, kamu akan menemukan nama dan nomor hapeku di halaman pertama, juga tiga baris kalimat ini:

to ACCEPT Christ, it cost NOTHING
to FOLLOW Christ, it cost SOMETHING
to SERVE Christ, it cost EVERYTHING

Kalimat itu pertama kali aku dengar dari kakak PA waktu SMA dulu, waktu itu kami sedang diajar untuk berani bayar harga, karena menjadi muridNya juga berarti memikul salibNya. Prinsip yang bahkan sampai sekarang pun, aku masih trying so hard to live it... Now I know why I wrote it in the first page :)

Lalu di halaman selanjutnya, aku menulis kalimat ini,

"Dhi, be the brightest star..."

And when I write that words again here, suddenly I remember... Malam itu aku sedang KKN di desa di pelosok Temanggung. Temanggung adalah sebuah kabupaten kecil penghasil tembakau di Jawa Tengah. Kadang kalau kami keluar desa di waktu malam, kami harus melewati jalan berbatu dengan penerangan yang minim. Tapi yang paling aku suka disana adalah, langitnya yang penuh bintang. Suatu malam aku melihat ke bintang-bintang itu dan menemukan sebuah bintang kecil. Ajaib, bintang itu kecil tapi sangat terang.

And suddenly I found that line... "... try to be the brightest star, no matter how little you are..." Kalimat inilah yang menyemangati aku untuk melakukan yang terbaik dimanapun dan kapanpun, supaya itu bisa jadi kesaksian yang dilihat orang.

Lalu di halaman ketiga, di mana kata ALKITAB dituliskan :), I wrote this sentence:

I Kor 9:16
Celakalah aku jika aku tidak memberitakan INJIL...!

Kalau dipikir-pikir, addduuuhhh, kok bisa-bisanya dulu kutulis itu??? After all, I dont think I spread the Gospel of God like Paul, huaaa... Aku tidak pernah bergabung dengan perjalanan misi apapun. Sampai sekarang aku masih sangat kagum dengan teman-temanku yang berani turun ke jalan buat menceritakan Kristus ke orang-orang. Tapi aku? Dengan orang dekat pun kadang masih sulit menceritakan Kristus, apalagi dengan orang tidak dikenal?? Hiks, hiks, celakalah aku... Ampuni aku Tuhan, but please, tolong anggap menulis blog seperti ini juga memberitakan Injil :p

Oke, itu tiga halaman pertama, halaman yang biasanya punya banyak ruang kosong, jadi harus mau aku coret-coret sampai penuh :) 

Tapi korban corat coret bukan cuma tiga halaman pertama itu. Selain menulis di jurnal, kadang rhema, kesan, doa atau apapun yang kudapat saat baca Firman juga langsung kutuliskan di Alkitabku. Begitu juga ayat yang pernah menolongku di satu fase kehidupan yang berat. 

Misalnya pada bagian Yesaya 30:1-2
"Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman Tuhan, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan daripadaKu, yang memasuki suatu persekutuan yang bukan oleh dorongan RohKu, sehingga dosa mereka bertambah-tambah, yang berangkat ke Mesir dengan tidak meminta keputusanKu..."

Disamping ayat itu, kutulis begini:
Pemberontak: 1. mengikuti rancangan diri sendiri, 2. tidak dipimpin roh kudus, 3. tidak mencari kehendak Tuhan, 4. tidak suka menerima pengajaran.

You know, aku menulisnya di margin area yang sempit. Tidak selalu panjang seperti itu. Sometimes just as simple as write something like, "Dia bekerja sejak semula... Praise the Lord" (comment on Jeremiah 1:5). Agak ribet memang karena kalau mau rapi kita harus menulis kecil-kecil di margin area yang terbatas, but sometimes, in another day, in another context of life, when you read it again, it can be a blessing also... Seperti catatan kecil di samping Mazmur 56:4, "Sidang skripsi - 10 September 2008 - Kemenangan gilang gemilang :)" Tiba-tiba aku ingat aku dulu pernah mengalami suatu masa waktu skripsiku udah mentok tok tok tok, tapi Tuhan buka jalan pada waktuNya, and the ending of story was victory, more than I'd ever expected  :) Mengenang hal-hal seperti itu tidak hanya menyenangkan, tapi kadang kalau aku ada di masa sulit lagi, aku akan melihat-lihat catatan-catatan kemenangan, lalu berkata ke diriku sendiri, "Kalau dulu Allah sanggup menyelamatkan aku, sekarang Dia juga sanggup, Dia Allah yang sama: dulu, sekarang dan selamanya."

Lalu hal lain yang paling aku suka, di Alkitabku aku memberi tanda pada ayat-ayat yang masuk kategori hadiah: dari seseorang maupun untuk seseorang.

Seperti ayat ini, I Korintus 2:9,
"Tetapi seperti ada tertulis: Apa yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."

Di sebelah kiri ayat itu aku tulis, "5-4-2003, 17 th", sedangkan di sebelah kirinya kutulis "Yossie". Itu adalah hadiah ulang tahun ke 17 dari sahabatku Yoseph alias Yossie. Dan memang itulah yang kunikmati dalam hidupku, saat ini, 8 tahun kemudian: apa yang tak pernah didengar, apa yang tak pernah dilihat, apa yang tak pernah timbul di dalam hati. Ah, tiba-tiba ingin sms Yossie dan mengucapkan terimakasih untuk "doa"nya 8 tahun yang lalu itu :)

Tidak hanya hadiah ulang tahun, tapi juga ayat tentang seseorang,

Mazmur 20:5
Kiranya diberikanNya kepadamu apa yang kau kehendaki dan dijadikannya berhasil apa yang kau rancangkan...

Waktu itu saya sedang berdoa untuk seorang teman, namanya Very, yang sedang ikut seleksi tes masuk Pertamina. Dia harus menempuh seleksi yang panjang dan berat (buatku berat karena testnya juga termasuk lari keliling lapangan :p) Bahkan, jarak dari tes hingga pengumuman di tiap tahap juga begitu lama :'( Kami sebenarnya sudah sangat gelisah sepanjang proses itu. Ketika kemudian aku menemukan ayat ini di saat teduh, entah kenapa, langsung mengingatkanku padanya. Ayat inilah yang selalu kuimani dan kuperkatakan waktu berdoa buat Very. Sekarang Very sudah diterima di Pertamina, sudah menyelesaikan pendidikannya, dan 2-3 bulan lagi akan jadi karyawan tetap (I hope he will be succeed with his final paper :p)

Ok, the question is, bagaimana aku bisa ingat ayat itu adalah tentang Very? Simple, karena di samping ayat itu kutulis: "A pray for Very, Thanks God for giving us Pertamina :)"

Dan masih banyak lagi coretan-coretan seperti itu...

Now you now why how 'buluk' my bible is, I dont want to change it even with the better one. Ada terlalu banyak kenangan bersama Allah dan firmanNya disana. Kenangan itulah yang, beberapa puluh tahun nanti, akan kuwariskan ke anak-anakku. Aku membayangkan, anak-anakku duduk di sekelilingku saat aku membuka lembar demi lembar halaman si Buluk Biru, membahas catatan demi catatan di dalamnya dan menceritakan kisah di balik catatan kecil itu. Lalu kami akan memuji Tuhan karena Dia baik, dahsyat, setia, dan tentu saja Firmannya sungguh benar dan penuh kuasa... dulu, sekarang dan bahkan selamanya...

Ini cerita Alkitabku, mana ceritamu?



God bless,

5 comments:

Mega said...

Keren Dit.... d^^b Sama, aku juga punya Alkitab pribadi yang coret moret disana-sini, sampe2 sampulnya dah aku lapis sama kartu pos biar tebal dan gak sobek, aku kasih sampul kulit biar gak kliatan bulukannya, hahahahahaha.

Pernah baca hal yang sama kayak kamu, waktu baca buku apapun aku selalu coba berinteraksi, makanya koleksi bukuku rata-rata kalo gak distabilo, abis tak tulisin di bagian-bagian kosongnya. ALKITABku yang bulukan ini juga kayaknya gak akan terganti juga deh, pnuh jejak perjalananku with GOD. Ayat2 hadiah juga, ayat yang merhema, ayat hapalan, dll dah...

Mega said...

Asikkkkk, dah bisa komen, thx GOD \(",)/

dhieta said...

@mega: iyaa, bisa komen juga akhirny, horeee #masih penasaran knp wtu itu ga bisa :p#

waah, iya sama, si Buluk Biru jg akhirny sampulny mesti ditempel pake kerdus, hehe. Abis tu biasany sih disampulin pake kertas kado biru yg sweet abis, dikasi payet n hiasan2, disampul plastik, n jd cantik deh :D

Tapi setelah cover trakhir sobek2, sekarang sih lg ga disampulin, wkwkwk... Niat nyampulin sih ad, tapiii... malas selalu melanda haha...

btw, jd pengen liat si Buluk yg lain, ngebayangin cerita2 luar biasa d dalamnya

:D

Theresia Hutapea said...

rame bgt cerita si buluk :D aku jg udh buluk Alkitabnya dari jaman sd smpe skrang udh 16 tahun keknya hadeeeh..;p aku jg suka nyoret2 gt dsamping2, kalo dpt rhema hehe...
deuuh nti mau nulis ttg ini juga ah ;p
btw say aku agak ksulitan bca postmu dgn warna biru muda, entah kompi dkntor trlalu terang screennya ato mataku ya? bisa dituain dikit ga biru tulisannya?hahaha xD

dhieta said...

@echa: hehe, iya nih, si buluk bikin hebooohh... :p waah, enam belas tahun? lebih parah dari si buluk biru dong... iyaa, nulis ya ttg si buluk alkitabmu, biar kita bisa kenalan juga dan bisa tahu cerita di dalamnya :)

aduh, ga keliatan ya, pdhl itu udah biru tua loh... bukan baby blue, tapi ntar coba diliat lagi deh settinganny :D

Post a Comment

I'd love to hear anything from you...
:)

 

Pena Di Tangan Bapa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review